
Wulan mendekat setelah Hasna duduk kembali.
"Kau pengacara yang membuat Dewi masuk penjara? " tanya Wulan.
Hasna menoleh, dia diam tapi siap mendengarkan ucapan Wulan.
"Aku dengar, kau tidak pandang bulu dalam menangani sebuah kasus. Kau akan mengaku kalah jika yang kau bela itu salah dan akan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan untuk membela yang benar"
Wulan bicara dengan gugup.
"Apa yang ingin kau katakan? " tanya Hasna.
Glek!
Wulan menelan salivanya dan mengatur nafasnya.
"Aku... " Wulan masih belum siap.
Hasna memperhatikannya yang terlihat ragu dan ketakutan. Dia diam dan berusaha menunggu Wulan siap untuk bicara.
"Aku mau mengatakan... "
Wulan menjauh dari Hasna saat mendengar pintu sel terbuka, dia pura-pura duduk dan mengacuhkan Hasna.
Hasna menatap ke arah pintu dan melihat Dewi dan Nunik datang bersama setelah kepala rutan memanggilnya.
Pandangannya beralih pada Wulan yang bersikap berbeda. Tapi Hasna mengerti bahwa Wulan tak ingin Dewi dan Nunik mendengarnya mengatakan apa yang mau dia katakan.
Dewi menatap kesal pada Hasna, dia duduk di tempat tidurnya dan mendengarkan semua yang diucapkan Nunik.
***
Vino berada dalam penjara ekstra saat Fajri berniat untuk menjenguknya.
"Anda tidak bisa menemuinya, dia sedang dihukum hingga dia sidang nanti" ucap salah seorang petugas.
"Apa yang terjadi? " tanya Fajri.
"Dia memukuli warga binaan lain sampai patah tulang di sekujur tubuhnya. Dia tak bisa dikendalikan, kami hanya bisa memukulnya agar dia berhenti memukulinya" jelas petugas itu.
"Kenapa di jadi temperamental begitu? Biasanya dia kalem dan tenang seperti gunung" gumam Fajri.
"Ku dengar Chiko, orang yang dia pukuli menghina istrinya, itu yang membuat dia naik pitam" bisik penjaga itu.
Mata Fajri membulat dan menatap petugas itu dengan terkejut.
~Hasna, alasannya adalah Hasna! ~ ucap hati Fajri.
"Baiklah Pak, hanya itu yang bisa saya informasikan" bisik petugas itu lagi.
Fajri terperanjat dari lamunan dan merogoh saku jaketnya, mengambil dua lembar uang untuk diberikannya pada pria itu.
"Terimakasih Pak! " seru pria itu senang.
Fajri masuk ke mobil dinasnya dan diam menatap gedung rutan itu.
"Jika kau ada di posisinya, kau juga akan melakukan hal yang sama Fajri"
Fajri bicara pada dirinya sendiri.
~Tidak, kau tak pernah melindunginya. Vino yang selalu membelanya, dia bahkan melindunginya dari ayahnya sendiri. Pengorbanannya sangat besar dibandingkan dirimu~ suara hatinya membandingkan dirinya dan sikap Vino terhadap Hasna.
Fajri menghela keras, dia lelah dengan bisikan hati dan pikirannya yang terus bergumul. Dia menyalakan mesin mobilnya dan pergi ke kantor.
***
Hasna diam saja di dekat pot tanaman dekat lapangan. Beberapa warga binaan menatapnya dan seolah bergunjing tentang dirinya. Sesekali mereka menatapnya, kemudian menatap Dewi dan gengnya.
Sementara Hasna sedang memikirkan bagaimana keadaan Vino. Dia tak bisa mengabaikan rasa khawatirnya.
Tak lama kemudian, seorang petugas datang memberitahukan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.
"Tapi ini bukan hari berkunjung" ucap Hasna heran.
Hasna menatap Maya, namun Maya menggelengkan kepalanya perlahan, berisyarat bahwa dia juga tak tahu.
"Cepat, nanti dia menunggu" petugas itu sedikit meninggikan nada suaranya.
Hasna berdiri dan mengikuti perintahnya.
Tiba di dekat ruang kunjungan yang kacang transparan, Hasna melihat Wira duduk menunggunya. Dia berdecak merasa malas untuk menemuinya.
"Katakan aku sakit kepala" ucap Hasna hendak berbalik dan kembali ke selnya.
Petugas itu menarik tangannya.
"Eitss, tunggu. Dia sudah memberikan uang yang cukup pada ku. Jadi kau harus menemuinya"
Hasna melotot padanya.
"Itu bukan salah ku, kau yang menerima uangnya, kau saja yang menemuinya" Hasna kesal.
"Aku tidak mau tahu kau bersedia atau tidak, kau tetap harus menemuinya" petugas itu mulai menekan lengan Hasna dengn dengan tangannya.
Hasna meringis kesakitan, dia terpaksa ikut karena merasa sakit dan ingin segera lepas dari tangan petugas itu.
Akhirnya dia masuk ke ruangan itu, Wira menatapnya dan menyambut kedatangannya dengan berdiri dan menawarkan jabatan tangan. Tapi Hasna enggan menerima salamnya, dia mengalihkan pandangannya.
"Ada apa lagi? " tanya Hasna.
"Kau tahu tujuan ku ke sini? " Wira malah balik bertanya.
"Jelas aku tahu, kau hanya ingin memanfaatkan ku lagi? " Hasna menebak dengan raut wajah kesal padanya.
"Ya, tapi kali ini urusan hidup dan mati" ucap Pak Wira.
"Aku menukar informasi yang ku dapatkan dengan susah payah, mempertaruhkan hidup ku, untuk menangkap b@jingan Bima Sebastian. Tapi kau curang, kau bekerjasama dengannya sehingga dia tak ditangkap hari itu. Dan karena semua itu aku kehilangan ayah angkat ku, juga mendapatkan kemalangan lainnya"
Nafas Hasna tersengal karena bicara dengan amarah. Dan Wira hanya diam menundukkan kepalanya.
"Bima Sebastian sudah mati, aku tidak perlu menurut lagi padamu. Sudah tidak ada yang aku tuju untuk balas dendam. Jadi silahkan pergi" Hasna menunjukkan Pak Wira ke arah pintu.
"Aku hanya bisa berharap padamu, jadi keluarlah secepatnya" ucap Pak Wira.
Pak Wira menyerah hari ini, dia pergi melewati Hasna yang masih menatapnya dengan kesal. Hasna ditinggalkan di ruangan itu sendiri, petugas rutan pun tak kunjung datang membawanya kembali ke dalam.
Hasna terduduk di kursi dengan tangan memegang ujung meja.
"Seandainya saja kamu bisa paham rasa sakit yang aku rasakan, kamu mungkin tidak akan pernah mempermainkan kepercayaan ku sebelumnya" gumam Hasna.
Tak lama kemudian, petugas datang membawanya.
**
Sidang kasus Bima Sebastian sudah dimulai sejak Vino masuk rutan. Hari ini adalah agenda dimana Dara, Nabila dan Hasn menjadi saksi untuk memberatkan Bima Sebastian.
Hasna siap dengan semuanya, dia juga terlihat sangat rapi dan cantik meski hanya memakai kemeja putih dan celana hitam.
Dewi dan Nunik memperhatikannya, mereka juga berbisik-bisik tentang kemana dia akan pergi. Dan Wulan hanya diam dengan sesekali menunduk saat Hasna tak sengaja menatapnya.
Dewi dan Nunik tak banyak bicara setelah mereka mendapatkan hukuman ekstra. Kepala petugas rutan mengancam mereka untuk diam dalam menghadapi Hasna, kalau tidak, mereka tidak akan mendapatkan remisi dari presiden.
Apa boleh buat, kendatipun sangat besar rasa ingin tahu mereka kemana Hasna hendak pergi, mereka tetap diam menahannya.
Lagipula, Dewi sudah sangat marah pada Hasna dengan kejadian tempo hari. Nunik sempat mempertanyakan setiap ucapan Dewi yang selalu mengatakan bahwa dirinya dijebak dan tak bersalah.
Dewi takut Nunik tak lagi menjadi temannya, teman yang mudah dikelabui dan mudah disuruh-suruh.
Tatapan Dewi terus melihat Hasna, dia mulai mengomentari penampilan nya pada Nunik dan Wulan.
"Cantik juga dia, memang dasar orang kaya, mau pakai apa saja tetap menawan karena perawatan mahalnya"
Wulan dan Nunik menatap wajah Dewi setelah dia bicara seperti itu. Mereka kemudian melihat lagi ke arah Hasna yang memang cantik di mata mereka.