My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
56



Bima keluar dari hotel dengan rapi. Tak ada yang mencurigainya meski berita tentang dirinya yang sudah menjadi DPO tersebar luas.


Dia memakai topi dan jaket hitam memberhentikan taksi dan memintanya untuk pergi ke bandara. Supir taksi yang seorang petugas yang menyamar tersenyum ramah padanya. Mereka pergi dengan lantunan musik sepanjang perjalanan.


Sementara itu, Beno sudah siap menunggu Bima di kursi ruang tunggu. Beno makan sandwich yang dia beli di jalan sebelum sampai ke bandara. Seorang pria datang memberikan sebotol minum padanya.


"Dia belum terlihat" ucap pria itu.


"Hmmm" jawab Beno singkat.


Pria itu pergi, Beno masih meraba seluruh isi bandara itu. Mata detektifnya menemukan Bima yang sedang berjalan mendekat padanya.


"Seratus meter arah jam 9 dari ku. Dia datang, jaket hitam, memakai topi" ucap Beno tertuju pada teman-temannya.


Semua mata temannya yang terpencar, menatap Bima yang berjalan lurus menuju Beno yang acuh seolah tak melihatnya.


Bima duduk di sisi kanan Beno dan memeriksa tasnya. Dia bersikap seperti tak saling kenal dengan Beno. Namun dia bicara perlahan.


"Mana dokumen nya?" ucap Bima.


Beno membulatkan matanya lalu menoleh dan menatap Bima.


"Anda sudah datang?" tanya Beno dengan wajah tersenyum.


Teman-temannya yang mendengarkan tertawa.


"Cepat, bukankah penerbangannya dua puluh menit lagi?" ucap Bima.


Beno berdiri memeriksa saku di dalam jaketnya. Bima ikut berdiri, dia bersiap, tangannya menengadah menunggu Beno menyerahkan dokumennya.


Namun alangkah terkejutnya, Bima mendapat pukulan di wajahnya, karena Beno hanya mengepalkan tangannya kemudian meninjunya.


Bima tersungkur, matanya membelalak merasakan sakit di pipinya. Sudut bibirnya berdarah dan dia mengusapnya sambil berdiri.


"Apa.....!"


Bima hendak menyalak, namun dia kehilangan topi yang menutupi wajahnya. Saat dia mencari topinya, teman Beno menyerahkannya. Bima menerimanya, namun Beno menunjukkan borgol di hadapannya.


"Bima Sebastian, anda ditahan atas pembunuhan puluhan wanita, juga pelecehan terhadap Dara Andriana. Anda berhak diam dan menunjuk pengacara. Itu pun kalau ada yang mau menghadapi Hasna"


Beno berbisik diakhir kalimatnya. Mata Bima membelalak, dia sangat terkejut dan kesal karena Beno mengkhianatinya.


Bima diborgol, tapi dia terus saja memberontak.


"Pengkhianat tetaplah pengkhianat. Kau mengkhianati pekerjaan mu sebagai petugas, pasti kau akan mengkhianati ku. Aku salah sudah percaya padamu" ucap Bima.


Beno menarik kerah jaket Bima dan bicara di hadapan wajahnya.


"Aku yang bodoh karena sudah membantu mu, pelaku pelecehan terhadap adik ku sendiri. Dasar iblis!"


Beno tak kuasa menahan rasa ingin memukulnya, dan dia melakukannya lagi.


"Itu titipan dari Hasna, dia minta aku memukul mu untuk rasa kesalnya" ucap Beno.


Bima menatapnya dengan penuh amarah. Teman-teman Beno menyeretnya ke mobil tugas mereka. Mereka pergi ke kantor dan mengintrogasinya.


Beno duduk di hadapan kursi berhalangkan meja kerja yang biasa menjadi meja Fajri. Mata Bima menatap tajam pada Hasna yang sudah diperbolehkan pulang.


"Terima kasih Pak Beno!" ucap Hasna sedikit membungkukkan bahunya.


Beno mengedipkan sebelah matanya. Bima sangat terlihat kesal melihat keakraban mereka.


"Kau sudah keluar?" Vino menatapnya.


Fajri datang cepat-cepat setelah dia turun dari taksi. Dia mendekat pada Hasna yang hendak masuk ke mobil Vino untuk pulang.


"Kau harus pulang bersama ku!" seru Fajri.


Suara Fajri yang cukup keras membuat Hasna dan Vino berhenti bergerak dan menoleh padanya.


Fajri bergegas menarik tangan Hasna. Vino diam menunduk sebentar, tak bisa melarang Fajri. Dia sudah merasa bersalah tentang apa yang terjadi pada Hasna. Dia pun tak bisa menolak sikap yang ditunjukkan Fajri padanya.


"Fajri, kau belum sehat benar sudah kemari" ucap Hasna.


"Jangan basa-basi. Kau tahu apa yang aku lakukan sekarang. Jadi kau jangan banyak bicara dan protes" ucap Fajri terus berjalan sambil menarik tangan Hasna.


"Aku harus pulang bersama Vino, dia suami ku"


Ucapan Hasna menghentikan langkah Fajri.


"Lalu aku harus bagaimana agar kau mau pergi bersamaku, membuat mu bercerai dengannya lalu menikahi mu?"


Fajri melepas tangan Hasna yang diam terpaku mendengar ucapannya. Dia berbalik dan menatap wajah Hasna.


"Apa yang harus aku perbuat agar kau sekali saja menuruti perkataan ku?" tanya Fajri dengan mata menatapnya.


Hasna menghela, tak tahu harus mengatakan apa.


"Fajri, ini terakhir. Aku akan menuruti mu setelah ini"


"Kau selalu begini. Kau bilang akan datang tapi tak pernah datang. Kau mengatakan akan berhenti tapi tak pernah melakukannya"


Fajri bicara berpacu dengan nafasnya yang tersengal. Tapi Hasna menghindari tatapan matanya.


Fajri menatap Vino yang masih berdiri di dekat pintu mobilnya yang terbuka.


"Kau tahu dia anak dari orang yang menyebabkan kemalangan dalam hidup mu, tapi kau malah memintanya menikahi mu. Kau tahu hal itu hanya akan menyakiti dirimu karena kau pernah merasakan cinta padanya"


Hasna tak mau mendengarkan perkataan Fajri, dia memegang tangannya dan bicara.


"Aku takkan pernah kembali menjadi adik mu lagi" ucap Hasna.


Fajri yang kali ini terdiam.


"Aku akan dihukum karena perbuatan ku yang menyalahgunakan profesi ku. Tujuan ku sudah tercapai dengan tertangkap dan terbuktinya semua kejahatan Bima Sebastian. Aku tidak bisa kembali pada mu. Aku sudah memutuskannya"


Fajri menatap tangan Hasna yang memegangnya. Hela nafas bergantian datang dengan kedipan mata yang seolah tak percaya dengan keputusan yang diambil Hasna.


"Aku tidak akan pernah kembali. Jadi, pergilah! Buat cerita hidup mu lebih indah tanpa ku. Kau harus menemukan bahagia mu karena bersama ku kau selalu terluka"


Hasna melepas tangannya perlahan dan berjalan mundur. Fajri tak bisa menahannya, jelas sekali dia menangis dan terisak melepas orang yang sangat dia sayangi pergi.


Fajri tak bisa menerima keputusan Hasna, tapi juga tak bisa menahan dia yang akan pergi pada suaminya yang jauh lebih berhak darinya.


Hasna masuk ke dalam mobil. Vino menatap Fajri, bukan merasa menang karena Hasna kembali padanya. Lebih merasa sangat bersalah atas perpisahan mereka. Hasna terikat sebuah ikatan dengannya.


~Aku tahu, kau kembali hanya karena hubungan ini. Apa yang harus aku lakukan Hasna? Haruskah kita bercerai? Karena aku tahu, jika terus bersama ku, kau tidak akan pernah bisa melupakan masa lalu mu yang kelam. Tapi aku tak mau jauh dari mu. Keegoisan ku menginginkan kau tetap di sisi ku~


Vino hanya bicara dalam hati saja selama perjalanan pulang. Hasna sendiri hanya menatap ke luar jendela mobil. Dia memperhatikan pejalan kaki dan orang-orang yang berkerumun di depan kantor stasiun televisi yang mereka lewati.