My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
128



Beno datang mengunjungi Vania sesuai dengan permintaannya.


Vania yang sudah menyiapkan diri, tak begitu kaget dan mempersilahkannya untuk masuk.


"Duduklah, aku akan menyiapkan kopi kesukaan mu" ucap Vania.


"Ya, terimakasih" jawab Beno.


Beno melihat sekeliling ruang tamu yang kecil itu. Dia mengintip ke arah dalam, arah kemana Vania pergi.


Beno berusaha untuk mencari hal yang mencurigakan di sana.


"Kemarilah, ini rumah baru ku. Hahaha, masih mencicil tapi" teriak Vania.


Beno terkejut, Vania sama sekali tak memperlihatkan tingkah aneh.


"Kenapa kau memutuskan untuk pindah kemari?" tanya Beno sambil menghampiri.


Dia juga membuka gorden yang menjadi penutup setiap kamar di sana.


"Entahlah, mungkin aku merasa sangat terluka dan tak ingin kembali ke kota besar itu" jawab Vania.


Tangannya masih sibuk meracik kopi yang juga disukai Fajri itu. Dia pun tertegun sejenak menatap segelas kopi yang dulu pernah dia buatkan juga untuk Fajri.


Beno melihatnya, dia menundukkan tatapannya dan mengingat semua momen mereka saat bekerja bersama dulu.


"Hasna lebih terluka lagi Van, dia bahkan tak mau mengatakan apapun lagi" ucap Beno.


Vania mendelik, seolah tak suka mendengar nama Hasna.


"Ini" ucap Vania seraya memberikan kopinya.


"Terimakasih" ucap Beno.


Vania memperhatikan Beno yang langsung menyeruput kopinya.


Mereka berjalan menuju ruang tamu lagi. Beno duduk tapi Vania berdiri di dekat gorden, menyandarkan dirinya ke dinding.


"Bagaimana kabar Hasna? " tanya Vania datar.


Beno terheran, dia tadi sudah mengatakan tentang Hasna. Dia melihat Vania menatap gelasnya saja.


"Aku sudah katakan kalau dia sedang sangat terluka dan memutuskan untuk diam selamanya" jawab Beno dengan tatapan yang mulai curiga.


Vania menatapnya, kemudian tersenyum.


"Oh, ya. Aku kira hanya aku saja yang terluka. Aku kehilangan cinta sejati ku di hotel itu, itu pun hanya untuk memecahkan kasus tentang dirinya" ucap Vania.


Beno terkejut dengan sikapnya yang kini seolah mendendam pada Hasna.


"Aku cukup tahu tentang kasus ini sekarang, Fajri membuat jurnalnya dalam sebuah buku dan dia menyimpannya di laci mejanya... "


"Apa? Jurnal? " Vania terkejut.


"Ya, aku menemukannya di sana" jawab Beno.


"Lalu kenapa kau mengambilnya? Itu bukan milik mu, itu milik Fajri" Vania terlihat sangat marah.


"Dia meninggalkan buku itu di meja kerjanya, tidak dikunci dan juga tentang kasus yang memang sedang dia kerjakan, tentu saja agar orang yang menggantikan dirinya bisa melanjutkan atau mempelajarinya. Kenapa kau jadi emosi? " Beno mengutarakan kecurigaannya.


Vania merubah raut wajahnya dan kemudian duduk.


"Jujur No, aku nggak bisa menerima kalau Fajri udah ngga ada di dunia ini. Rasanya dunia ku sudah runtuh dan aku.... "


"Dia bahkan nggak pernah mau tahu tentang perasaan mu, tapi kamu terus menyukainya" ucap Beno menyela perkataan Vania.


Beno meletakkan gelasnya di meja, dia berdiri dan mengambil jaketnya.


"Aku pergi"


Vania berdiri dengan memasang wajah yang tak berharap Beno cepat pulang.


"Maaf kalau aku bikin kamu nggak betah" ucap Vania.


Langkah Beno terhenti, dia tak menoleh tapi hanya melirik.


"Aku kesini cuma untuk memastikan kamu tidak menyembunyikan apapun. Meskipun Fajri dinyatakan meninggal, tapi kenyataannya aku tidak pernah menemukan jasad yang aku yakini bahwa itu dia. Jadi aku akan terus berusaha mencari kebenarannya. Meskipun itu harus bolak balik kemari" jelas Beno.


***


Revan memeriksa Hasna lagi, kali ini dia sadar dan menunjuk ke gelas.


"Kau haus? " tanya Revan.


Buru-buru dia mengambilnya dan membantu Hasna untuk minum.


Seolah sudah lama tak minum, Hasna meneguk semua air dalam gelas itu dengan tergesa.


"Tenang, takkan ada yang merebutnya dari mu" ucap Revan.


Hasna menatap wajah Revan kemudian kembali diam.


"Kau benar-benar akan diam? " tanya Revan seraya menaruh gelas nya.


Hasna tak menjawab.


"Venus dan Beno berebut untuk membawa mu pulang. Sementara Keanu hanya diam meskipun dia sangat ingin membawa mu pulang bersamanya, hanya karena dia takut kakak mu tak merestui perasaannya padamu" ucap Revan.


Tak ada respon, bahkan sekedar menelan salivapun tidak.


Revan menghela, dia merapikan alat pemeriksaaannya dan mencatat apa yang dia dapat hari itu.


Suster yang tadi bersamanya keluar terlebih dahulu. Tapi Revan yang hendak pergi justru menghentikan langkahnya dan kembali ke sisi ranjang Hasna.


"Jasad Fajri tidak ditemukan, kami hanya menemukan jasad Vino yang memeluk Wira di dekat pintu aula" bisik Revan.


Masih tak ada reaksi, Revan keluar dengan hati yang kecewa.


Tapi kemudian, mata Hasna bergerak melirik ke arah pintu. Tangannya bergerak membuka selimutnya dan duduk di ranjang.


Hasna menghela, dadanya mulai kembang kempis menahan sesak. Kemudian tangis mulai keluar, Hasna tak bisa menahannya lagi, dia menangis terisak, terduduk di lantai.


Revan yang ternyata belum pergi, berdiri di sisi pintu dan mendengar isak tangis Hasna. Dia menundukkan kepalanya, merasa telah membuatnya semakin bersedih.


"Mungkin seharusnya aku tidak mengatakannya. Mungkin dia terlalu mencintai Vino dan sangat kehilangannya" gumam Revan.


"Apa? " seru Keanu yang berdiri di belakangnya.


Suara Keanu membuat Revan terperanjat dan berbalik dengan cepat.


"Apa yang kau katakan tadi, lalu kenapa kau berdiri di sana, kau sudah memeriksanya? " tanya Keanu.


"Sudah, baru saja. Dia baik, dia sudah sadar dan minum air cukup banyak" jelas Revan.


Dia hendak pergi ke ruangannya.


"Ehhh tunggu! " Keanu menarik lengannya.


"Ada apa? " Revan merespon dengan kesal.


"Kau ini, apa tidak bisa lebih ramah merespon ku? " Keanu kesal.


"Tidak, jika kau bermasalah dengan respon ku, jangan bertanya padaku" ucap Revan dengan angkuhnya.


"Aishhh, orang ini. Kalau bukan dokter yang menangani Hasna, sudah aku hajar dia" ucap Keanu dengan kepalan tangan yang menunjuk ke arah Revan yang pergi ke ruangannya tanpa mendengar ucapannya.


Keanu berbalik dan melihat ke kaca pintu ruangan Hasna. Dia melihat Hasna sedang merapikan duduknya. Keanu merasa Hasna sudah memutuskan untuk bicara lagi, dia masuk dan menyapanya.


"Hai Na? " sapa Keanu.


Hasna tak menoleh, dia hanya melirik. Keanu mengambil bangku dan duduk di sisinya. Dia membuka lemari dan merapikan pakaian Hasna yang ada di sana.


"Oh ya, semua pakaian ini. Aku membawanya dari rumah mu. Aku tidak bisa masuk ke rumah Vino, ada penjagaan ketat setelah pemakamannya kemarin" ucap Keanu.


Hasna masih diam, tapi tangisnya mulai menetes di pipinya. Keanu melihatnya, dia hendak mengusap pipi Hasna. Namun Hasna bergerak menghindar dan berbaring membelakanginya.


Keanu terdiam, dia menaruh tangannya di atas ranjang.


"Maaf, seharusnya aku bisa mengerti bahwa kau sangat kehilangan Vino. Maaf juga, karena aku hanya bisa membawa mu pergi dari sana, tidak dengan Vino dan Fajri" ucap Keanu.


Keanu menyelesaikan pekerjaan merapikan pakaian Hasna kemudian keluar dan duduk di kursi tunggu.