
Fajri datang ke kantor dengan pakaian yang sama. Beno menatapnya dengan heran. Pandangannya curiga pada Fajri yang kemarin pergi dengan buru-buru dan kembali dengan keadaan yang sama.
Agung memperhatikan cara Beno menatap Fajri.
"Hei, kedipkan matamu. Kau seperti sangat terpesona pada anakku" ucap Agung.
Beno memberi kode pada Agung bahwa bajunya masih sama. Dia meminta Agung yang menanyakannya.
"Hei, Beno sangat penasaran dan ingin tahu kenapa baju mu masih sama. Kau tidak pulang, menginap dimana?" tanya Agung.
Beno menghela karena Agung menyebutkan namanya. Dia pergi ke kamar mandi untuk menghindari Fajri yang biasanya memukulnya karena terlalu penasaran.
Tapi Fajri diam saja, dia malah baru ingat tak menanyakan lagi alasan Hasna begitu histeris semalam. Dia terlihat biasa saja dan hanya membahas penangkapan Bima Sebastian. Saat Fajri melihat ayahnya, dia berniat tak memberitahunya tentang Hasna yang menangis.
"Aku lupa ganti baju" jawab Fajri datar.
Niat hati Fajri ingin ayahnya tidak khawatir, tapi Agung malah berpikir ada sesuatu yang terjadi saat anaknya menjawab pertanyaan konyol dengan wajah yang datar.
Fajri duduk dan meminta temannya mengeluarkan surat penangkapan dan hendak pergi lagi menuju TKP. Dia bersiap, begitu pula Beno, sementara Agung diam di kantor. Dia ingin menunggu Bima di kantor saja. Mereka berdua pergi dengan gagahnya.
Sampai di rumah besar Bima, mereka turun. Cukup banyak masyarakat yang melihat drama penangkapan itu. Beberapa dari mereka membicarakannya dengan memanjangkan bibirnya.
Bima menatap Fajri yang berjalan dengan Beno. Dia menghela tapi sangat percaya diri semuanya akan berjalan lancar dan dia akan segera kembali ke rumahnya.
Saat berjalan masuk, Fajri menatap pria yang berdiri di samping penjaga rumah. Mengingat garis wajahnya, Fajri merasa pernah melihatnya. Dia berpikir keras dan mencoba mengingatnya lagi, meskipun benar-benar blur.
Bima, pria paruh baya yang terlihat awet muda itu menatap Fajri yang usianya jauh lebih muda darinya. Beno membacakan surat penangkapannya. Fokus Fajri buyar saat dia melihat Bima menatapnya.
~Sialan, aku sangat ingin menghajarnya karena teringat Hasna~
Fajri menggaruk dahinya meski tak gatal. Dia merasa Bima sangat percaya diri. Mungkin karena kemarin mereka sama sekali tak menemukan bukti barang-barang atau jejak Nabila dirudapaksa di sana.
Beno selesai bicara, Bima tersenyum mengejek.
"Aku akan bicara setelah pengacara ku datang. Aku sudah menghubunginya, dia akan datang satu jam lagi" jawabnya.
Fajri duduk dengan tumpang kaki. Beno mengangkat satu alisnya melihat tingkah Fajri.
"Ok, aku tidak sibuk. Mari kita tunggu!" ucap Fajri.
Beno ikut duduk, dia mencolek lengan Fajri meminta kode harus melakukan apa. Tapi Fajri hanya menempatkan pandangannya pada Bima Sebastian. Bima sendiri hanya memainkan korek apinya.
###
Di kantor.
Hasna menyiapkan bahan untuknya meminta kesaksian Nabila sebagai korban. Dia bersiap hendak pergi.
Vino baru datang dan melihatnya sudah bersiap pergi. Hasna melirik, dia tahu Vino datang. Dia berusaha menghindarinya. Vino mendekat.
"Kau baik-baik saja? Semalam aku tidak tahu kamu pulang. Karena hujan....."
"Aku harus pergi, permisi!" ucap Hansa.
Dia berdiri di depan Vino yang perlahan beranjak dan tak menghalangi jalannya. Vino menatap kepergiannya yang seolah tak mau mendengarkan apapun darinya.
"Apa karena aku menciumnya? Tapi dia juga memelukku, aku kira itu karena dia juga menyukainya" gumam Vino.
Dia ingin sekali mengejarnya, namun pekerjaannya belum selesai. Dia harus mengurus kasus artis yang tak kunjung selesai.
Hasna menjalankan mobilnya cukup kencang hingga tiba di rumah sakit dengan cepat. Dia keluar dari mobil dan melihat Wisnu sedang berjalan masuk.
"Bang!" seru Hasna.
Wisnu menoleh dan menyempitkan matanya menatap Hasna. Dia tersenyum dan menunggu.
"Nggak, aku udah sarapan. Nabila sama siapa?" tanya Hasna.
Mereka bicara sambil berjalan.
"Suster, dia tadi ganti baju. Jadi sekalian deh" ucap Wisnu.
Hasna baru berpikir, semua yang didapat Wisnu dan Nabila selama di sini adalah karena uang Vino. Dia menatap Wisnu dengan bungkusan di tangannya.
Wisnu meminta Hasna berjalan terlebih dahulu. Hasna berhenti mendadak dan berbalik.
"Kapan Nabila bisa pulang?" tanya Hasna.
Wisnu yang terkejut berubah menjadi berpikir.
"Gak tahu tuh, tapi kata dokter semuanya sudah normal" jawabnya.
Hasna mengangguk dan kembali berbalik dan berjalan. Dia menyapa dua penjaga yang berseragam kemudian tersenyum menatap Nabila yang terlihat lebih segar.
"Hai, sudah sarapan?" tanya Hasna.
"Sudah kak, maksudku bu" jawab Nabila mengangguk kemudian ragu membuat panggilan untuk Hasna.
"Iya, ibu saja. Kamu suka keceplosan, nanti di sidang manggil kakak lagi!" ucap Hasna memeluknya.
Nabila tersenyum, Hasna senang melihatnya bisa tersenyum lagi.
###
Fajri dan Beno berjalan di belakang Bima yang memang harus ikut dulu ke kantor polisi. Penetapan tersangka atau bukan, dia perlu dimintai keterangan terhadap korban. Dan pencocokan DNA dan lain hal sebagainya.
Bima menatap Dudung sambil berjalan menuju mobil. Fajri juga menatapnya, dia masih mengingat-ingat. Beno meminta Bima duduk di belakang. Dia hendak duduk di depan, namun Fajri lebih cepat meraih pintu depan. Beno mengalah, dia harus duduk bersama Bima.
Beno menelan ludahnya menatap Bima. Dia tak bisa membayangkan bagaimana pria bertubuh tegap itu melakukan semuanya pada Nabila hingga keadaannya seperti itu.
###
Hasna selesai dengan meminta keterangan Nabila. Dia bersiap untuk ke kantor Fajri. Dia mau melihat perkembangan penyelidikan mereka. Nabila memegang tangannya.
"Kak Hasna!" ucapnya.
"Hmmm?" jawab Hasna dengan membulatkan matanya.
"Terimakasih, aku dengar semua ini karena Kak Hasna"
Hasna terpikirkan Vino karena dia yang sudah melakukan semua ini. Tanpa mengetahui target Hasna adalah ayahnya.
"Ini dari teman ku, nanti ku sampaikan ucapan terima kasih mu padanya" ucap Hasna membalas sentuhannya.
Hasna langsung pergi ke kantor Fajri, dia duduk di dekat meja kerja Fajri yang tertutup sekat. Tak lama kemudian, Fajri datang bersama Bima dan Beno. Mereka membawa Bima ke meja Fajri dan mulai bertanya.
Beberapa pertanyaan ditanyakan, Bima kooperatif dan bersikap baik. Hasna membulatkan kepalan tangannya, mendengar semua jawaban dari Bima. Dia sangat pandai mencari alibi.
"KENAPA KALIAN MENANGKAP AYAHKU?"
Vino datang dengan berteriak dan langsung menarik kerah kemeja Fajri. Dia mengangkat tangannya yang mengepal hendak memukul wajah Fajri.
Bima menghalangi, Vino bersikeras ingin memukul Fajri. Beno berusaha menahan tubuh Vino.
Petugas yang lain juga mencoba menarik tubuh Vino dan menjauh dari Fajri. Mereka membawa Vino keluar, Bima menyusulnya bersama pengacaranya.
Hasna berdiri terkejut dengan suara dan tindakan Vino. Fajri berbalik dan terkejut menatap Hasna di sana. Fajri mengalihkan pandangannya ke arah pintu kemudian menatap Hasna lagi.