
Suster Dina berlari di koridor rumah sakit. Dia terengah dan membuka pintu kantor Dokter Revan.
Revan menganga menatapnya.
"Dokter, pasien Hasna...! " seru suster Dina.
Revan langsung berdiri dan berlari. Suster Dina mengikutinya.
"Kenapa? Dia kejang lagi? " Revan panik.
"Bukan Dok, dia... " Suster Dina masih terengah.
"Dia berhenti bernafas lagi seperti saat dia datang? " Revan masih menduga.
Sampai di depan pintu ruang rawat Hasna, Revan membuka pintu dengan keras dan mendapati Keanu duduk di samping Hasna yang sudah bangun dan duduk.
Revan terengah dan mengatur nafasnya. Dia menatap suster Dina kemudian menatap mereka dan tersenyum merasa kikuk.
"Maaf aku ..... " Revan hendak menjelaskan.
"Kemarilah, kau harus memeriksanya. Dia diam sejak tadi" ucap Keanu.
"Apa? Diam? "
Revan mendekat dan memperhatikannya. Hasna diam saja dengan tatapan kosong ke arah depan. Revan mulai memeriksanya.
"Aku tahu dia sadar saat suster berlari dari ruangannya. Tapi saat aku dudukan kemudian aku ajak bicara, dia hanya diam saja. Bahkan dia tidak merespon dengan ekspresi apapun" jelas Keanu.
Hasna tak bereaksi bahkan dengan sinar dari senter yang Revan sorot ke matanya.
"Semuanya baik, aku tidak tahu kenapa dia tak mau merespon" ucap Revan.
Revan memeriksa cairan infus dan semua obat yang sudah diberikan padanya. Dia tak menemukan hal yang tidak seharusnya diberikan padanya. Tapi kemudian dia berhenti dan menatap Keanu.
"Aku rasa, kau yang tahu jawabannya" ucap Revan.
Keanu mengerutkan dahinya merasa tak mengerti dengan ucapannya.
"Kau yang lebih paham dengan apa yang terjadi padanya malam itu" ucap Revan lagi.
Suster Dina menatap mereka bergantian.
Keanu terdiam, dia ingat dengan apa yang terjadi. Kejadian malam itu jelas menjadi kejadian yang takkan pernah bisa dilupakan.
Keanu menatao Hasna yang matanya begitu sendu dan kosong.
"Dia kehilangan suami dan kakaknya" ucap Keanu pelan.
Revan mengangkat sebelah alisnya. Kembali dia menatap Hasna.
"Apa itu yang kau maksud? Dia trauma? Aku tidak bisa menggantikan mereka, mereka terlalu serba maksimal dalam perannya" ucap Keanu.
Tatapan mata Revan beralih pada Keanu.
"Kau sudah melakukan salah satunya dengan datang cepat tanpa memperdulikan infusan mu saat mengetahui dia sadar" ucap Revan sambil menatap tangannya yang berdarah lagi.
Keanu menatap lukanya dan menyadari rasa sakitnya.
"Aduh dokter! Ini sakit, cepat beri antiseptik" keluh Keanu.
Suster Dina tersenyum menertawakan sikap Keanu. Tapi tetap saja Keanu duduk di samping Hasna dan memegang tangannya.
Revan menatap kedua tangan mereka yang saling berpegangan.
***
Beno duduk di tempat Fajri, dia menggantikannya langsung dan juga langsung mengerjakan semua tugasnya.
"Pak, Vania pindah" ucap salah satu anak buahnya yang baru datang.
"Apa, pindah? " Beno menghela.
Beno melempar berkas yang ada di tangannya.
"Sial! " gumamnya.
"Apa yang harus kita lakukan Pak? " tanya anak buahnya.
"TENTU SAJA MENCARINYA! SEKARANG! " Beno sangat marah.
Anak buahnya pergi dengn tergesa-gesa dan hampir terjatuh. Dia menabrak pimpinan yang akan masuk ke ruangan Beno.
"Maaf Pak! " serunya seraya memberi hormat kemudian pergi.
Pak Rahmat masuk ke ruangan Beno dan melihat berkas yang berserakan di lantai.
"Kantor ini tidak memiliki pembantu yang akan memunguti semua ini untuk mu" ucap Pak Rahmat.
Beno terlihat sangat kesal mendengar ucapan Pak Rahmat. Dia memunguti semua berkas dan merapikannya di meja.
"Cukup Pak, jika aku memang tidak layak, aku tidak mau memaksakan diri" ucap Beno yang jelas sangat kesal karena dibandingkan dengan Fajri.
Pak Rahmat tertawa sedikit kemudian duduk di kursinya.
"Beno, aku memilihmu juga karena layak. Tapi ayolah, kau akan bersikap seperti ini? " Pak Rahmat menunjuknya.
"Aku hanya kesal karena Vania seolah menyembunyikan sebuah fakta yang tidak boleh aku ketahui" jelas Beno.
"Cari cara agar dia mengatakannya pada mu, cari cara agar dia percaya padamu. Kau ini seolah tidak punya cara lain. Kau bahkan tidak tahu kalau Hasna sudah sadar kan? " Pak Rahmat mengerutkan dahinya.
Raut wajah Beno berubah sangat terkejut.
"Pergilah, cari tahu apa yang terjadi padanya" ucap Pak Rahmat.
Beno langsung berlari. Dia bergegas ke rumah sakit.
***
Vania masuk ke sebuah rumah dan membawa semua koper miliknya. Dia juga meminta seorang pria untuk membantunya membawa sisa barang yang masih ada di mobilnya.
"Nona, ini semua sudah ku keluarkan" pria itu hendak pergi.
"Tunggu! " seru Vania
Dia mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada pria itu.
"Ini, jangan katakan apapun tentang ku pada siapapun. Dan, nanti beberapa hari lagi, aku akan menelpon mu untuk membantu kepulangan teman ku dari rumah sakit. Ok! "
"Baik Nona, aku akan melakukan sesuai dengan permintaan mu" ucapnya seraya menghitung uang yang dia dapat.
Vania tersenyum, dia menghela saat melihat semua barang di sana. Dia harus merapikan semuanya sekarang.
'Aku harus merapikan semuanya, dia akan tinggal dengan ku, aku harus membuatnya nyaman' ucap hati Vania.
Dengan bersemangat, Vania merapikan semuanya. Tapi suara ponsel membuatnya berhenti bekerja.
"Ya Hallo! " serunya.
"Kamu dimana? " tanya Beno.
Vania terdiam, dia tahu persis Beno sekarang mengambil alih kasus ledakan itu. Dia juga tidak akan pernah menyerah meski dirinya sudah memberikan kesaksian bahwa semua itu karena kecelakaan kerja pihak hotel.
"Aku pulang kampung Ben! " jawab Vania.
"Aku sedang di rumah ibu mu, dan aku tidak melihat mu di sini" ucap Beno.
Vania menghela kesal dengan Beno yang mencarinya hingga ke rumah orang tuanya.
"Aku pindah, aku ingin melupakan kejadian kelam itu. Aku kehilangan Fajri untuk selamanya, jadi bisakah kau membiarkan aku sendiri saja" ucap Vania memberi alasan.
"Fajri tidak meninggal Vania! " ucap Beno.
Mata Vania membelalak.
"Apa? "
"Ya, aku ke rumahnya yang lama. Ada bekas tetesan darah yang lupa dia lap. Dia kembali kesana setelah selamat dari ledakan itu" jelas Beno.
"Benarkah? " Vania berusaha terlihat terkejut dengan kabar itu.
"Aku ingin mendiskusikan ini dengan mu" ucap Beno
"Aku tidak bisa Ben, aku sudah jauh. Aku tidak bisa kembali" jawab Vania.
"Kau tidak bisa kembali, atau memang kau yang membawanya bersama mu pindah" duga Beno.
Vania terdiam, dia mengusap wajahnya pelab dan mengambil nafas.
"Seandainya begitu ceritanya" ucap Vania.
Kini Beno yang terdiam.
"Jika kau bersikeras ingin kemari, datanglah. Aku di Jogja, akan ku kirim alamatnya. Aku masih menganggur jadi pasti aku ada di rumah" jelas Vania.
Beno masih terdiam.
"Aku harus merapikan rumah baru ku, aku tutup ya Ben?" Vania ingin pamit.
"Ya, baiklah" jawab Beno.
Saluran panggilan mereka berakhir.
Vania duduk diam kemudian meremas gorden yang tadi hendak dia pasang. Tangis mulai mengucur ke pipinya, Vania mengusapnya sendiri.
Rumah baru itu masih kosong, hening terasa saat Vania ikut diam saja.