My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
51



"Kau bertingkah seperti pengacara alim bertopeng wajah cantik. Padahal kau sangat jahat" ucap Bima.


Hasna menyeringai.


"Jangan membuat ku tertawa ayah mertua. Sudah jelas bukan, siapa di sini yang sangat jahat" ucap Hasna.


Wajah Hasna jelas menuding Bima, Vino tak menerimanya. Hasna sudah terlalu menganggap ayahnya sebagai pelaku kejahatan tanpa menemukan bukti.


"Cukup Hasna, kau juga seharusnya merasa bersalah setelah menyebabkan 43 rumah longsor!" ucap Vino sambil menahan bahu Hasna.


Hasna terdiam, wajahnya menjadi merah dan bening mengembang di kelopak matanya. Tatapannya tak lepas dari wajah Vino yang sudah mengatakan semua yang dia inginkan.


Vino meraba seluruh wajah istrinya dengan matanya. Dia sadar sudah mengatakan hal yang membuatnya terluka. Terluka karena tak membelanya.


Bima menyeringai senang mendengar Vino menyalahkan Hasna. Kepercayaan mereka goyah di hadapan Bima.


"Aku punya alasan besar untuk semua yang aku lakukan" ucap Hasna dengan belinang air mata.


Vino menutup matanya sejenak, dia mengira Hasna akan diam dan menerima, tapi malah mengatakan bahwa dia beralasan.


"Apa alasan mu? Hasna ku tak mungkin melakukan kejahatan seperti itu tanpa alasan. Tapi ini 43 keluarga kau buat sengsara atas nama bencana!" ucap Vino.


"25 September 1998, malam itu aku sangat ingin berteriak sekerasnya, aku ingin berlari sekencangnya. Tapi aku tidak bisa, tubuh ku sulit bergerak. Tapi iblis itu bergerak leluasa melakukan hal yang dia ingin kan. Menodai ku, melukai paha ku dengan ukiran inisial nama ku. Aku berteriak dalam hati, Tuhan, aku mohon, aku ingin hidup, aku tidak mau mati seperti ini"


Hasna menceritakan rasa takut yang selama 11 tahun ini mencengkram keberaniannya. Wajahnya merah padam mengingat malam kelam yang merubah seluruh hidupnya itu.


Bima membelalakkan matanya tak menyangka Hasna akan menceritakannya di hadapan mereka. Sementara Vino hanya mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapannya.


"Tuhan mengabulkan keinginanku, pria itu terlalihkan oleh istrinya yang memergoki perbuatannya. Tapi, bukannya menyelamatkan ku, wanita itu malah merajuk ingin diperhatikan. Tapi aku tidak menyerah, aku merangkak keluar dari rumah itu dan berhasil. Dengan seluruh tenaga melawan obat bius yang masih aktif dalam tubuhku, aku berjalan" Hasna tersenyum.


Mata Hasna mencari, bibirnya dia basahi sesekali oleh air liurnya sendiri seolah sangat kering telah lama.


"Orang-orang yang bernama tetangga itu melihat ku tergopoh berusaha melarikan diri, tapi mereka diam tak bereaksi saat melihat aku keluar dari rumah pria kaya dan terhormat itu" Hasna tertawa.


"Terhormat apanya!" ucap Hasna menertawakan ucapannya sendiri.


Vino mendekat hendak menyentuh bahu Hasna untuk menenangkannya. Tapi Hasna menjauh, dia melanjutkan ucapannya.


"Aku sampai di rumah ku dengan memaksakan tubuhku yang mati dan mendapati tatapan merana dari kedua orang tuaku. Mereka meminta bantuan pada para tetangga itu untuk menjadi saksi bahwa aku keluar dari sana. Tapi bungkam mereka seolah menjadi badai bagi aku dan kedua orang tuaku. Jadi wajar jika badai membuat semua milik mereka porak poranda. Itu semua tak sebanding dengan apa yang aku alami. Kedua orang tuaku, mereka menyerah, tak ada yang mau ikut membantu melaporkannya. Mereka semua diam Vino, diam bertahun-tahun seolah tak ada yang terjadi" suara Hasna meninggi di ujung kalimatnya.


Vino menatap Hasna dengan wajah tak percaya dengan ceritanya.


"Kau ingat saat pertama kali kita menyelidiki tentang kasus rudapaksa? Kau bilang penderitaan pertama seorang korban rudapaksa adalah saat dia melaporkan tindakan pelaku" ucap Hasna sambil menatap Vino.


"Aku kira semua berakhir saat orang tua ku lebih memilih mengalah dan diam dalam sendu, tapi tidak" Hasna mundur dan memeras dadanya.


"Ayah dan ibu ku meminta bantuan pada Wahyudin yang notabene masih keluarga, tapi dia malah meminta kedua orang tuaku bunuh diri karena memiliki putri dengan nasib buruk seperti ku"


Hasna menatap Vino saat mengatakannya. Vino menangis.


"Kau benar, korban perkosaan akan lebih baik bunuh diri dibandingkan bertahan dan melawan" ucap Hasna.


Vino menunduk merasa bersalah karena dulu pernah berpendapat sama persis dengan apa yang Hasna ucapkan.


Vino menghela keras.


"Kau tahu apa yang membuatku sangat ingin iblis itu mendapatkan ganjarannya? Karena semua itu, ibu ku sakit keras hingga dia tak tahan lagi dan meninggal. Dan lebih parahnya lagi, ayah ku memutuskan gantung diri di kamarnya karena tak bisa bertahan tanpa ibu ku"


Hasna terengah, dia berjalan masuk ke kamarnya dengan lemah. Vino terduduk setelah mendengar semua langsung dari mulut Hasna sendiri. Dia merasa sudah salah telah menyalahkannya dan mengatakan semua tuduhan itu.


Sementara Bima berjalan mundur dengan perlahan, mengendap hendak meninggalkan Vino sendiri.


"Apa itu benar ayah?" tanya Vino melirik pada ayahnya yang bergerak meninggalkannya.


Langkah Bima terhenti, dia melirik ke kanan dan ke kiri tak tahu harus menjawab apa.


"Yang Hasna tudingkan pada ayah, apa semua itu benar?"


"Dia mengarang cerita, jika dia adalah korban rudapaksa dia takkan bertahan hidup. Obat bius itu sangat ampuh...."


Bima mengatakan hal yang membenarkan semua cerita Hasna tanpa sengaja. Mata Vino membelalak menatap ayahnya.


"Jadi benar?" Vino menangis.


Vino mendekat pada ayahnya dan menarik kerah bajunya.


"Jadi selama ini aku membela orang yang salah?"


"Vino, itu semua tidak benar. Dia hanya mengarang cerita"


"Dia wanita yang jadi alasan ibu diusir dari rumah. Bukan selingkuhan mu, tapi dia KORBAN MU!"


Vino berteriak di depan wajah Bima.


"Kau jahat, sejak dulu, tidak pernah berubah"


Vino melempar pegangannya sehingga Bima mundur dan hampir terjatuh. Vino pergi ke kamarnya dan mengetuk dengan keras karena Hasna menguncinya.


"Hasna, buka. Buka pintunya!" ucap Vino.


Tak ada suara yang menjawab seruan Vino.


"Maafkan aku, kau tidak pernah menceritakan luka mu. Aku mana bisa tahu tentang semua itu!" Vino membela diri.


Masih tak ada jawaban dari Hasna.


"Maafkan aku, aku berjanji dia akan di hukum atas apa yang sudah dia lakukan"


Vino menghapus air matanya sendiri dan berusaha terus menerus mengetuk pintu.


"Bukalah pintunya!" pinta Vino dengan tangisnya.


Hingga Vino tertidur di depan pintu, Hasna tak membukakan pintu kamar bahkan tak menjawab seruan Vino. Dia hanya duduk di ranjang di depan cermin dan menatap dirinya sendiri.