My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
104



Hasna sudah sampai rumah, dia menaruh tasnya di sofa dan merebahkan dirinya. Teringat pria yang dia lihat di pub yang tadi dia sambangi.


'Apa yang dia lakukan? Dia berada di tempat hiburan milik Venus. Bisnis yang sedang Fajri selidiki tentangnya, penjualan organ tubuh. Astaga, aku sangat mencemaskan anak-anak'


Hasna beranjak dari sofa dan langsung mandi. Kemudian menyiapkan pakaian untuk dia pakai bekerja besok pagi.


Hasna keluar dari rumahnya dan mencari taksi, dia hendak pergi ke panti untuk menginap di sana. Juga untuk memastikan bahwa anak-anak baik-baik saja.


Belum sampai membuka pintu, suara Fajri memanggilnya dari arah luar. Hasna mundur dan masuk ke kamar nya untuk menyembunyikan tasnya. Dia kembali keluar dan membuka pintunya.


"Kau! " seru Hasna berpura-pura kaget.


Fajri langsung memeluknya.


"Ada apa?" kali ini dia benar-benar terkejut.


Fajri terdiam, dia langsung menghubungi Armand setelah dia melihat panggilan tak terjawab darinya. Mengetahui Hasna hendak menemui Wira, dia langsung datang ke sana setelah selesai bekerja.


Cukup lama Fajri diam memeluk adik angkatnya itu.


"Hei, kau memeluk sebagai kakak atau sebagai pria?" ucap Hasna yang wajahnya masih dibenamkan Fajri di dadanya.


Fajri melepaskan pelukannya dan menatap Hasna.


"Jika sebagai pria, sudah ku angkat kau ke kamar dan ******* mu habis" ucap Fajri.


Hasna mengerutkan dahinya, kemudian memukul dada Fajri cukup keras.


"Awww! Sakit Na! " seru Fajri.


"Salah mu! Kau bicara dan bertingkah seolah mudah mendapatkan ku sekarang. Aku tidak suka! " keluh Hasna.


Fajri tersenyum, kemudian mengelus kepalanya.


"Maaf! Aku hanya lapar, tapi untuk mengerjai mu, aku memeluk mu dulu" ucap Fajri.


Dia menunjukkan bungkusan makanan di tangannya. Mata Hasna berbinar, dia juga senang bisa mendapatkan makanan gratis untuknya makan.


Hasna membawanya ke dapur dan menyajikannya. Sementara Fajri menatapnya terus.


Di berbohong, dia bukannya hanya ingin makan, tapi ingin memastikan Hasna baik-baik saja setelah bertemu dengan Wira.


Tak sengaja Hasna melihat Fajri yang menatapnya. Dia mengangkat kedua alisnya berkali-kali, bertanya apa yang sedang dia lihat.


Fajri langsung mengabaikannya dan duduk. Tangannya meraih remote dan kemudian menyalakan televisi.


"Tv ini masih berfungsi?" tanya Fajri mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja! " seru Hasna.


'Kalau begini caranya, aku tidak akan bisa mendapat taksi untuk ke panti' ucap hati Hasna.


Hasna terus menatap jam di tangannya. Dia semakin gelisah, terutama mengingat pria itu.


'aahhh, aku benar-benar khawatir pada mereka' ucap hatinya.


Dia menyodorkan piring pada Fajri yang memperhatikan wajahnya.


"Kenapa? Kau terlihat khawatir" tanya Fajri.


"Tidak, tidak ada apa-apa" jawab Hasna.


"Keanu masih berusaha untuk mendapatkan perasaan mu? " tanya Fajri sambil mengunyah.


"Habiskan makanan di mulut mu, baru bicara!" protes Hasna.


Fajri menurut dan menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian dia bersiap untuk bertanya. Tapi Hasna langsung mengambil piringnya dan mencucinya.


Fajri mengerutkan dahinya.


"Rumah mu terletak di pinggir jalan, diapit ruko-ruko yang cukup besar. Bagaimana bisa tamu mu mengganggu mereka? Ketua lingkungan mu pun terletak di dalam sana. Jangan mengarang cerita! " ucap Fajri sambil memakai jaketnya.


Hasna menatapnya, ucapan Fajri memang benar. Dia sedang berbohong agar Fajri cepat pulang.


"Aku akan pulang, tapi awas jika setelah aku pulang kau menerima tamu lain" ancamnya dengan menunjuk kearah Hasna dengan tatapan tajam.


"Ya, tentu saja aku tidak begitu! " ucap Hasna.


Fajri masuk ke mobilnya, Hasna menatapnya dari ambang pintu dan melambai. Dia bergegas masuk dan kembali membawa tasnya. Dia merogoh ponsel di saku nya, kemudian menghubungi taksi. Tak berapa lama menunggu, taksi datang menjemputnya.


Tapi sayang, Fajri yang tak pergi, melihatnya masuk ke dalam taksi dan mengikutinya.


***


Di penjara.


Vino menatap langit-langit sel tahanannya. Berpikir tentang ucapan Wira dan Venus. Semua ini tentang Hasna, tentang perkumpulan sesat itu yang menjadikan Hasna target karena dia yang lolos dari pengorbanan.


'Aku terjebak di perkumpulan ini karena ingin berkuasa di sini. Kurasa Fajri juga terjebak karena menginginkan kekuasan dan kekayaan yang dia miliki sekarang. Tapi kenapa Hasna? Kenapa harus dia yang jadi korbannya? Setiap orang yang sudah terlibat di perkumpulan ini merasa menjadi korbannya'


Vino membulatkan matanya, dia jadi ingat dengan ucapan ayahnya saat diinterogasi oleh Fajri, bahwa dirinya hanyalah korban.


'Lalu kenapa ayah tega melakukan semua itu? Sebenarnya berapa korban yang sudah dia lecehkan dan bunuh selama bergabung dalam sekte ini? '


Vino semakin larut dalan pemikiran tentang sekte yang melibatkan semua orang yang dia kenal, terutama orang yang sangat dia cintai.


"Aku harus apa? Bagaimana cara membongkar semua ini? Semua orang yang terlibat adalah orang yang aku kenal. Sekarang mereka seolah sedang mengincar Hasna" gumamnya.


Hela nafasnya terus terdengar hingga membuat teman satu selnya mengeluh.


"Pak Bos! Hentikan berpikir seperti itu, hela nafas mu yang mengeluh terdengar sangat kera! Tidurlah! " keluhnya.


Vino menendang kakinya, dia meringis kesakitan. Tapi Vino tak memperdulikannya, pikirannya masih tetap fokus pada Hasna.


Teringat saat Nendi mengabarkan keadaan Hasna terakhir kalinya.


'Dia bekerja dengan Keanu sekarang' ucao hatinya.


Tiba-tiba, dia ingat dan merasa telah teralu memberikan Keanu kesempatan untuk mendekatinya.


"Apa dia menggunakan waktu ini untuk mendekati Hasna? Apa perasaannya masih sama padanya? Astaga, Hasna bisa saja bimbang dan kembali menggugat cerai aku karena treatment dari Keanu. Secara dia adalah pria tampan yang kaya raya. Ahhh, aku benar-benar kehilangan waktu untuk bisa meyakinkan Hasna untuk kembali padaku"


"Bos! Aku mohon! Kami sangat terganggu! " keluh temannya.


Vino menoleh, dia memukuli mereka, melampiaskan kekesalannya pada Keanu. Mereka pasrah saja menerima semua pukulan dari Vino.


Tak lama kemudian, penjaga datang dan menegur keributan yang mereka buat.


"Hei! Hei! Hentikan! Kalian membuat gaduh di malam hari. Mau ku beri hukuman besok pagi, haaah! " seru penjaga.


Vino mendelik, dia berbaring dan menghadap ke arah jendela, menatap bulan yang bersinar terang.


"Aku merindukan mu, mengkhawatirkan mu, mencemaskan Keanu yang sedang berusaha mendekatimu. Apa kau di sana merindukan aku? Apa kau masih mau menerima ku kembali saat aku keluar dari penjara? Apa jika aku mendekati mu lagi kau masih berdebar? Hasna, aku merindukan mu" gumam Vino.


"Ya Bos, kami akan merindukan mu" ucap teman-temannya kompak.


Penjaga kembali dengan memukul jeruji besi sel mereka.


"HEI!!! "


Vino tertawa sendiri, begitupun teman-temannya. Mereka menertawakan tingkah mereka sendiri.