
Semua tahanan berbaris mengantri untuk mengambil makan dan minum. Hasna juga berjalan di antara tahanan yang lain. Dia menerima semua makanan yang diberikan petugas, namun Nunik berjalan menyerobot dan membuat nampan makanan milik Hasna lepas dari tangannya dan tumpah.
Semua mata menatap ke arah Hasna yang menatap ke lantai dimana makanannya berceceran. Dewi dan Nunik menyeringai seolah puas dan menikmati pemandangan itu.
Hasna berjongkok dan mengambil nampan makanannya.
"Tidak ada pemberian ulang, kalian harus bisa menjaga nampan kalian sendiri. Kau bersihkan lantai itu sampai bersih lagi! Juga jangan berharap mendapatkan makanan lagi"
Petugas itu bicara dan menatap Hasna dengan sinis.
Hasna membersihkannya dengan baik tanpa banyak bicara. Dia tak mempermasalahkan hal itu dan tetap menjaga dirinya dari rasa marah.
Nunik dan Dewi menertawakannya sambil makan. Hasna mencoba menghindari matanya untuk menatap kedua wanita jahil itu.
Hasna kembali ke dapur untuk membantu membersihkan piring dan peralatan dapur. Seorang petugas bernama Maya, datang dan memberikan sebungkus roti untuknya. Setelah itu pergi kembali bertugas tanpa bicara.
Hasna menatapnya, dia juga menatap sebungkus roti yang diberikan wanita itu. Hasna mengambilnya kemudian menyimpannya di sakunya.
Tak berapa lama, Wulan masuk ke dapur dan membantu Hasna.
"Aku menyimpan sebungkus makanan untuk mu, ku simpan di meja dekat rak piring" bisik Wulan.
"Terimakasih, tapi aku sangat berharap kamu tidak membantu ku. Karena jika mereka melihatnya, kejahilan mereka akan berbalik padamu" ucap Hasna.
Wulan tersenyum.
"Kau bilang kejahilan? Ini namanya kejahatan" Wulan bicara sambil berbisik.
Hasna tersenyum, Wulan terlihat kesal saat mengatakan bahwa tingkah mereka adalah kejahatan.
"Mereka melakukan ini pada setiap tahanan baru, entah apa maksudnya. Nunik mungkin merasa paling senior karena dia akan dihukum seumur hidup di rutan ini. Sementara Dewi juga merasa paling hebat karena kasus pembunuhan preman yang dia lakukan"
Wulan menjelaskan kasus mereka tanpa Hasna minta, yang sebenarnya dia pun tak begitu ingin tahu.
"Pergilah, mereka sedang menuju kemari" ucap Hasna.
Suara Dewi dan Nunik yang merayu petugas agar mau memberikan mereka izin masuk ke dapur, terdengar olehnya. Wulan buru-buru keluar lewat pintu belakang dan menghilang dari sana.
Dewi dan Nunik masuk dan menatap Hasna yang telah selesai mencuci piring dengan menanam tangannya di pinggang.
"Hei, kau sudah selesai? " tanya Dewi basa-basi.
"Hmmm! " jawab Hasna dengan malas.
"HEII! " Nunik kesal dengan cara Hasna menjawab.
Hasna menatap mereka berdua bergantian.
"Apa mau kalian? " tanya Hasna santai dengan bersandar pada washtable.
"Kau ini pura-pura lupa atau memang tak ingat padaku? " tanya Dewi.
"Kau Dewi Winarti, umur 35 tahun, masuk penjara karena menyerang seorang preman pasar yang berusaha merudapaksa mu di gang sepi dekat deretan toko kosong. Suami mu tak membela mu karena lebih memilih menggunakan uang tabungan kalian untuk sekolah putri kalian dibandingkan membayar jasa pengacara untuk mu"
Nunik menganga tak percaya dengan apa yang disampaikan Hasna tentang Dewi. Dia sedikit mundur karena takut Hasna juga menceritakan kisahnya.
"Kenapa diam? Kau mau aku melanjutkannya, atau aku cerita soal Nunik Nuraini saja? " Hasna menawarkan diri.
Dewi melirik pada Nunik yang memang sudah hampir mencapai pintu keluar. Tapi kemudian dia menatap Hasna dengan kesal dan hendak meneriaki nya.
Petugas Maya datang dengan membawa pentungan, siap memukul mereka. Dewi dan Nunik tersenyum padanya dan mulai melangkah pergi keluar dapur.
Maya menatap Hasna yang dengan santai mencuci tangannya.
"Jika sudah selesai, kembali ke luar dan berkumpul dengan yang lainnya" perintah Maya.
"Baik Bu! " jawab Hasna.
Hasna berjalan di depan diikuti Maya yang sedikit berbisik padanya.
"Kau sudah makan roti mu? " tanya Maya.
"Belum, mana sempat" jawab Hasna juga dengan berbisik.
"Dua wanita itu akan terus mengerjai mu, jadi pastikan kau tak tinggal lebih lama di sini" ucap Maya.
Hasna menatapnya, dia mengerti bahwa Maya mendapat permintaan Fajri untuk membujuknya lepas dari kasus ini.
Hasna duduk di dekat pot tanaman menatap ke lapangan, beberapa orang sedang bermain dan yang lainnya berkumpul berkelompok dan saling melontarkan canda tawa.
Mata Hasna tak lepas dari Wulan yang bergabung dengan genk Nunik dan Dewi. Dia terlihat bersemangat bercerita, kemudian teman-temannya memberikan respon taw terbahak mendengar ceritanya.
Pandangan Hasna beralih pada Maya yang mengawasi para tahanan. Dia teringat dengan masa SMA mereka.
Maya adalah teman yang sangat baik, sangat setia dalam menjaga rahasia temannya jika mereka pernah mencurahkan isi hatinya.
Hingga saat pertama kali masuk ke rutan, mata Maya berkaca-kaca saat mengetahui Hasna masuk ke rutan karena balas dendamnya. Hari itu Hasna hanya tersenyum padanya. Kini Maya menjaganya sedemikian rupa agar Hasna tak mendapat masalah meskipun harus dengan sembunyi-sembunyi.
Tak berapa lama, Nunik dan Dewi juga Wulan, menghampiri Hasna yang masih melamun mengingat masa remaja bersama Maya.
"Kau tahu segalanya tentang para warga binaan di sini? " tanya Nunik.
Hasna menoleh menatapnya.
"Aku bukan petugas penjara, hanya kasus yang aku tangani yang aku ketahui" jawab Hasna dengan raut wajah yang malas.
"Bagaimana rasanya bisa satu sel tahanan dengan orang yang kamu jebloskan ke penjara? Kau pasti merasa bangga sudah bisa menjebloskan dan melihat ku terpuruk di sini" ucap Dewi.
"Bukan aku yang menyebabkan kau masuk kesini" ucap Hasna.
Ucapan Hasna membuat Dewi marah dan menarik kerah baju Hasna kemudian menunjukkan tinjunya di hadapan wajah Hasna.
"Kau mengatakan semua alasan ku berada di sini, tapi sekarang kau lupa bahwa kau yang menjadi Jaksa penuntut ku saat itu" Dewi geram.
"Kau sendiri yang membuat diri mu menerima hukuman ini, kau membuatnya tergoda oleh tatapan genit mu, saat kau tahu dia tak punya cukup uang untuk imbalan tubuh mu, kau menolak dan membuatnya memaksa mu. Kau masih mau bilang kalau kasus mu adalah percobaan rudapaksa? " Hasna menguak kenyataannya.
Tatapan mata Nunik dan Wulan tertuju pada Dewi dan itu membuatnya semakin mendorong Hasna ke dinding, dan hal itu juga membuat Hasna semakin tercekik.
Semua petugas datang, Maya juga langsung menarik tangan Dewi yang semakin erat menekan leher Hasna.
"Hentikan Dewi! Kau bisa mendapatkan hukuman tambahan" ucap Maya.
Nunik dan Wulan diseret menuju ruang sel mereka, sementara yang lainnya masih berusaha melepaskan tangan Dewi.
Mata Hasna tak bergerak dari menatap Dewi yang begitu marah mendengar semua ucapan Hasna. Terlebih dia mengatakannya di depan Nunik dan Wulan yang selama ini sudah sangat patuh padanya.
Maya terpaksa menarik rambut Dewi dan itu berhasil membuatnya melepaskan Hasna. Dua petugas pria menahan Dewi dan membawanya ke sel hukuman ekstra.