My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
18



Hasna pergi ke Bogor daerah Nabila tinggal, dengan menjalankan mobil perlahan, dia melihat ke sekitar dan memantau orang yang hilir mudik.


Tempo hari, dia bertemu Bima di mini market dekat sana. Dia ingat kejadian itu, Bima menyentuhnya dan membuat dia sangat ketakutan. Dia sangat paham bagaimana perasaan Nabila.


Lama menunggu di mobil dan melihat situasi. Hasna tak menemukan petunjuk apapun. Dia kembali pulang dengan mengambil arah yang sama saat datang.


Sementara itu, mobil Bima Sebastian datang dari arah berlawanan. Hasna tak melihatnya, Bima datang bersama seorang supir berhenti di sebuah rumah tak jauh dari tempat Hasna tadi mengawasi.


Dia masuk setelah menyapa beberapa orang yang sedang main catur di sana. Semua orang menghormatinya. Dia pemilik beberapa rumah di daerah itu. Baru-baru ini dia juga mengadakan acara amal untuk para anak-anak yang tak mampu membayar sekolah.


"Siang Pak, baru pulang?" tanya salah satu warga saat kaca mobilnya terbuka.


"Iya, baru pulang dari Bali" katanya sambil tersenyum.


Dia masuk dan pintu pagarnya pun tertutup.


"Bukannya dua hari lalu dia ada di rumah?" ucap pria lain.


"Nggak, aku lihat sendiri dia pergi minggu kemarin dan baru pulang sekarang" jawab pria yang lainnya dengan begitu yakin.


Sementara itu di dalam, Bima memberikan sebuah amplop coklat tebal untuk supirnya.


"Ini, pesangon dan untuk pengobatan istri kamu. Jangan lupa ganti telpon mu setelah sampai di kampung.


"Saya masih sangat butuh pekerjaan ini Pak!" jawab Dudung.


Bima menatapnya kemudian mendekat.


"Tapi kau terlalu jujur, kau tahu sesuatu yang akan membuatku tidak nyaman bertemu dengan mu terus" bisiknya.


Dudung bersujud, dia memegang kaki Bima dengan memohon.


"Saya nggak lihat apa-apa, saya nggak akan ngomong apapun Pak. Saya janji demi istri saya" ucap Dudung.


Bima mendonga menatap langit. Dia menghela dan mengangkat tubuh Dudung agar berdiri. Dia berdiri dan kaku di hadapan Bima yang menatapnya.


"Aku tidak akan memohon kau untuk mengatakan aku ada di Bali seminggu kemarin. Kau harus mengatakannya karena kau berterimakasih padaku atas bantuan pengobatan istri mu" ucap Bima.


Dudung mengangguk tanpa berpikir bahwa dia sedang dimanfaatkan oleh bosnya. Yang ada di pikirannya hanya kesembuhan istrinya.


Bima pergi masuk ke dalam, sementara Dudung menelpon saudaranya di kampung untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Dia akan mengirimkan uangnya lewat Bank. Ada sedikit senyum di wajahnya yang berharap istrinya bisa sembuh.


Sementara itu, Beno sedang menunggu Nabila bersama Wisnu. Belum ada perkembangan dari kesehatan Nabila. Wisnu mengirimkan pesan pada Hasna. Mata jeli Beno melihatnya, dia pura-pura melihat ke arah lain saat Wisnu menatapnya.


Tak berapa lama, Fajri datang dan meminta Beno untuk istirahat. Dia akan menggantikannya saat dia rehat. Beno pergi dengan memberi kode pada Fajri untuk mengawasi Wisnu yang bertindak aneh.


Hasna menerima pesan dari Wisnu, dia tak berekspresi. Tapi hatinya sangat berharap Nabila bisa sadar. Sampai di rumah, Hasna menerima telpon dari Vino yang mengajaknya untuk makan malam nanti malam.


"Tidak bisa, malam ini ayah ku akan makan di rumah" ucap Hasna menolak.


"Ayahmu? itu berarti Fajri juga akan datang?" tanya Vino cemburu.


"Tentu saja, mereka adalah keluarga ku, jelas mereka berdua akan makan di rumah" ucap Hasna tegas.


"Lalu kapan kau ada waktu untukku? Seharian ini kau bahkan tidak mengatakan kau pergi kemana" Vino mengeluh.


"Aku tidak tahu, besok pun aku harus pergi" ucap Hasna.


"Kalau begitu aku akan ikut dengan mu besok. Aku tidak mau tahu" Vino menutup ponselnya.


Hasna mengerutkan dahinya.


"Huhhfff, sulit menghindarinya" keluh Hasna pada dirinya sendiri.


Di rumah sakit, Beno mengirimkan pesan pada Fajri tentang apa yang dia lihat.


[Aku melihat Wisnu mengirimkan sesuatu pada seseorang, kabar tentang Nabila. Bukankah kau bilang mereka tak punya keluarga lain!]


Mata Fajri membulat, dia menatap Wisnu yang duduk memegang ponsel kemudian melihat pesan dari Beno lagi. Tak berapa lama Hasna menelponnya.


"Aku sudah belanja, jadi pastikan ayah datang!" ucap Hasna.


"Batalkan saja!" ucap Fajri.


"Kenapa?" tanya Hasna.


"Aku takut kami mengganggu mu dan Vino. Bukankah kalian berpacaran!" ucap Fajri.


"Hei, aku belum memutuskan untuk menerimanya. Kau ini kenapa? Cemburu pun rasanya aneh jika kau begitu" keluh Hasna.


Fajri diam, dia mengerti bahwa dia hanya dianggap sebagai keluarga saja oleh Hasna.


"Hmmmm" jawab Fajri.


Hasna heran dengan jawaban Fajri yang singkat dan terdengar dingin. Tapi dia tak menghiraukannya.


"Jam delapan malam!" Hasna kembali mengingatkan.


"Hmmm!" jawab Fajri singkat lagi.


Fajri menutup telponnya, dia kembali fokus pada apa yang dikirimkan Beno. Dia menatap Wisnu dan melihat gerak geriknya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu, nitip ya!" ucap Wisnu tiba-tiba.


Dia berlari dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Fajri merasa sangat beruntung, dia mengambil ponsel Wisnu dan memeriksanya. Namun saat dia hendak membuka, ponsel Wahyu memakai sandi wajah.


Fajri mengusap wajahnya, berharap punya keajaiban bisa merubah dan sekali usapan tangan. Dia menertawakan dirinya sendiri, kali ini belum bisa memeriksanya karena Wisnu sebentar lagi pasti datang.


Tak lama Wisnu datang sambil melihat ke lantai, mencari-cari ponselnya.


"Ini, tadi jatuh!" ucap Fajri.


Wisnu tersenyum.


"Ceroboh!" ucap Fajri.


"Kebelet!" ucap Wisnu.


"Kok bisa? kamu lagi chat sama siapa?" Yudi bertanya dengan nada seorang polisi pada saksi.


Wisnu menatapnya dengan tegang.


"Tetangga, nitip rumah" jawab Wisnu ragu.


"Oh!" Fajri merespon dengan datar namun memperlihatkan kecurigaannya.


Wisnu menelan ludah, dia sadar sedang diawasi oleh Fajri.


Malam tiba, Fajri dan Agung datang setelah Beno kembali ke rumah sakit. Sementara Hasna baru selesai memasak dan menyajikannya di meja dadakan yang ia buat.


"Aku harus pergi lagi!" ucap Fajri yang tak sampai menginjakkan kakinya ke dalam rumah.


Hasna mengerutkan dahinya.


"Ayah, lihatlah! Dia nggak pernah mau masuk ke sini!" keluh Hasna.


"Seharusnya bagus, supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" ucap Agung.


Hasna dan Fajri saling menatap heran dengan ucapan ayahnya.


"Tapi karena ada aku, masuklah! Bukankah kau belum makan?" lanjut Agung.


Fajri menghela dan akhirnya masuk, dia juga sedikit tergoda dengan masakan Hasna. Agung mengambil makanan dan mulai melahapnya.


"Ini enak sekali!" ucap Agung.


"Benarkah?" tanya Fajri.


Hasna tersenyum.


"Kau mulai belajar memasak?" tanya Agung.


"Tidak, aku membelinya di warung nasi kesukaan ayah" ucap Hasna polos.


"Kamu ke Bogor?" tanya Agung.


"Iya, aku kesana untuk melihat sesuatu, karena kalian sudah berjanji akan datang, aku belikan semua masakan ini" ucap Hasna.


"Wah, ayah hampir mengira ini masakan mu. Hahahha!" ucap Agung dengan tertawa.


Hasna memukul lengan ayahnya dan ikut bergabung makan. Tapi Fajri menatap Hasna dengan wajah heran.


~Apa yang dia lakukan di Bogor?~


Fajri semakin curiga pada Hasna karena selalu pergi ke TKP dengan diam-diam atau dengan memberitahukan pada orang dekatnya. Fajri melihat Agung tak menyangka apapun dan hanya mengira Hasna memang banyak pekerjaan.


Dia menatap Hasna yang makan dengan gembira di hadapannya. Tapi Fajri tak bisa menahan semua yang ada di pikirannya.


"Ada yang membantu Wisnu menyelamatkan Nabila" ucap Fajri.


Ucapannya membuat Hasna terdiam menatapnya.