
Tengah malam, tangan Hasna menggenggam erat piyama Vino. Keringat dingin mengucur dari dahinya, nafasnya tersengal. Sesekali Hasna mengucapkan kata "tolong!".
Vino terbangun, dia merasa tercekik, karena pegangan tangan Hasna semakin kuat. Matanya terbuka kemudian menatap wajah Hasna yang berkeringat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vino berusaha membangunkan.
Hasna masih belum bangun, ekspresi wajahnya semakin terlihat khawatir dan seolah ketakutan.
"Sayang, bangun! Bangun sayang!" Vino berusaha membangunkannya lagi.
Nafas Hasna semakin cepat dan bibirnya berusaha mengucapkan sesuatu. Namun matanya langsung terbuka saat Vino memanggilnya lagi lebih keras.
Vino terheran, dia bangun dan mengambil segelas air untuk minum Hasna. Saat kembali, Hasna tak di ranjangnya, dia keluar dan berdiri di balkon menatap ke luar.
Vino lega saat melihat Hasna ada di balkon. Dia memeluk istrinya itu dengan erat.
"Inikah mimpi buruk yang kamu maksud?" bisik Vino di telinga Hasna.
Hasna menelan salivanya, dia masih belum bisa menghilangkan rasa takutnya. Hasna mulai panik kembali, namun dia memegang pagar dengan erat.
Vino melihat tangan Hasna yang menggenggam erat. Dia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Hasna.
"Ada apa? Katakan, katakan semuanya padaku. Aku sudah menjadi suami mu, seseorang yang harus menjadi tempat mu mengadu, berkeluh kesah. Juga menceritakan semua kesedihan mu" Vino berusaha.
Mata Hasna menatap kedua mata Vino, namun yang dia ingat dan terngiang di telinganya hanyalah kenyataan bahwa Vino adalah putra dari pria yang sudah menghancurkan seluruh keluarga dan kehidupannya.
Hasna tak mampu menahan lagi, dia menangis terisak di hadapan Vino yang semakin tak mengerti dengan respon Hasna. Tapi melihat betapa Hasna sangat menderita dengan semua itu, hal yang belum dia ceritakan, Vino hanya bisa memeluknya. Dia tak tega untuk memaksa Hasna mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hasna pun hanya menangis dan tak mengatakan apapun. Vino mengusap rambutnya dan berusaha menenangkannya.
"Maaf, maafkan aku kalau terdengar memaksa. Tidak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita, aku nggak akan maksa lagi" ucapnya perlahan.
Hasna menghela, namun dia masih menangis. Menangisi nasibnya, harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan dan hatinya. Membenamkan cinta nya untuk Vino dan menjadikannya alat demi dendam pada Bima.
###
Keesokkannya, Hasna meminta untuk langsung pindah ke rumah Bima. Awalnya Vino curiga dengan permintaan Hasna. Namun saat Hasna memberikan alasan restu orang tua, dia mulai mengerti dan menuruti keinginannya.
Sampai di depan gerbang pintu rumah besar itu, Hasna menatap, meraba seluruh pagar kayu jati itu.
Vino menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya masuk.
"Pak, tolong bawa semua koper ke dalam ya!" pinta Vino pada petugas jaga.
"Baik den!" jawabnya.
Bima sedang sarapan, dia hendak memukul tubuh bagian belakang pengurus rumah yang menyiapkan makanan untuknya. Namun tangannya mengepal tak melanjutkan tindakannya saat mendengar suara Vino.
"Aku pulang Yah!" seru Vino.
Mata Bima menatap dengan membulat saat dia melihat Vino datang bersama Hasna dengan memegang tangannya. Bima berdiri tak jadi sarapan.
"Apa-apaan ini, Ayah sudah katakan kalau Ayah tidak setuju dengan pernikahan kalian!" seru Bima dengan nada tinggi.
Vino mengalihkan Hasna ke belakang tubuhnya. Tapi Hasna menyeringai menatap ke arah Bima yang semakin kesal menatapnya.
"Ayah, kami sudah menikah. Hasna adalah istri dan menantu yang baik. Dia sendiri yang meminta untuk pindah kemari, untuk meminta restu ayah meskipun aku tak membutuhkannya" ucap Vino.
"Wanita ini hanya berpura-pura. Kau tidak tahu seperti apa dia" Bima terpancing karena kesal dengan raut wajah Hasna.
"Ayah, dia salah menduga saat berusaha menjadi jaksa penuntut waktu itu. Bukan karena dia jahat atau buruk sifatnya. Aku sangat tahu bagaimana dia" Vino mulai berdebat.
Hasna menggenggam lebih erat tangan Vino. Dia menatap wajah Vino yang berpaling padanya.
Bima semakin kesal.
"Keluar! Suruh dia keluar, selamanya aku nggak akan pernah merestui pernikahan kalian" ucap Bima sambil berlalu menuju kamarnya.
Vino menghela dengan keras.
"Kau lihat, aku bilang apa, kita nggak usah pindah ke sini. Dia datang ke kehidupan ku baru beberapa bulan ini, tapi merasa berhak menentukan kehidupan ku" kesal Vino.
"Sssthhh, nggak boleh gitu. Kita akan meluluhkan hatinya dengan bertahan di sampingnya. Aku akan merawatnya seperti aku merawat ayah Agung" ucap Hasna membujuk Vino.
Vino menatap Hasna dengan senyum.
"Terimakasih, aku percaya kamu bisa melakukan semua itu"
Vino memeluk Hasna dengan erat. Bima yang hendak pergi bekerja melihat pemandangan itu.
"Sialan, apa yang direncanakan wanita itu. Kenapa dia memberanikan diri lebih dekat dengan ku. Aku harus bertindak hati-hati. Aku juga harus membuat mereka bercerai secepatnya" gumam Bima.
###
Bima masuk ke kantor dan menatap laporan yang diberikan anak buahnya yang dia perintah untuk mengawasi kasus yang ditangani Hasna. Matanya membulat karena kasus yang ditangani menantu barunya itu adalah bisnis terlarang nya. Bima mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Sampai mana kasus ini?" tanyanya.
"Tuan Takeshi sudah menjadi salah satu saksi sekaligus tersangka pengguna fasilitas yang anda berikan Pak. Beliau dilindungi petugas dan menjadi tahanan kota" jelas anak buahnya.
"Takeshi Yamada?" Bima memastikan.
"Petugas bernama Fajri menjadi pendukung dari penyelidikan ini, tapi dia takkan bisa mempertahankan bukti yang dimilikinya. Saya sudah menyuruh seseorang untuk menghancurkan semua bukti Pak. Semua akan beres, sesuai dengan keinginan anda" jelasnya.
"Bagus, buat wanita itu terlihat buruk di mata Vino. Dia harus terpisah dari wanita sialan itu secepatnya" perintah Bima.
"Baik Pak, saya mengerti maksud anda" jawab anak buahnya.
Bima menutup ponselnya.
###
Di kamar, Hasna tersenyum menatap foto Vino dan Bima baru-baru ini, yang Vino pajang di lemari hias di deretan foto-foto kenangannya.
Vino yang selesai merapikan pakaiannya, mendekat dan memeluk Hasna.
"Itu Ibu, dia cantik kan?" ucap Vino.
Hasna ingat dengan wajah ibu Vino. Wanita yang memergoki Bima sedang merudapaksa Hasna yang kaku tak bisa bergerak karena obat yang diberikan Bima sebelumnya. Dia menyangka Bima sedang berselingkuh tanpa melihat keadaan Hasna. Tapi Hasna berterima kasih dalam hatinya. Karena ibu Vino datang ke kamar saat itu, dia bisa lolos dari Bima yang hendak membunuhnya.
"Iya, cantik. Terimakasih ibu!" jawab Hasna.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Vino.
"Terima kasih sudah melahirkan pria yang sangat mencintaiku. Iya kan?"
Hasna merubah posisinya dan menatap wajah Vino. Suasana menjadi romantis saat Hasna mengusap pipi Vino. Kemudian Vino mendekatkan wajahnya dan hendak mencium istrinya.
Hasna sadar dengan situasi itu, dia berlalu dan mengambil tasnya.
"Ayo, aku akan terlambat untuk menyelesaikan kasus ku. Nanti acara resepsinya akan mundur jika aku juga malas mengerjakannya" ucap Hasna yang berlalu keluar kamar.
Vino berdecak kesal, dia harus menahan diri lagi. Namun dia segera menyusul Hasna mendengar resepsi yang akan mundur jika dia juga malas.
Vino berlari dan merangkul pinggang Hasna, mereka pergi bekerja bersama.