My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
127



Keanu berdiri di belakang Venus yang masih cemas menatap ke arah ruangan Hasna.


"Dia kejang lagi? " tanya Keanu.


"Lagi? " Venus terheran.


"Ya, pertama kali dia masuk IGD, dia kejang hebat, kedua kali, dia histeris dan memanggil nama Vino dan Fajri. Suster yang merawat ku yang menceritakannya" jelas Keanu.


Venus terduduk.


"Apa yang terjadi malam itu? " tanya Venus.


Keanu menatapnya, dia merasa Venus benar-benar sangat mengkhawatirkan Hasna.


Keanu menceritakan semua yang terjadi setelah dia pergi dari penjara. Venus terdiam mendengar bagaimana Hasna mengalami pelecehan di depan semua orang seperti itu.


"Kau tahu, jika pertemuan itu... "


"Aku tidak pernah tahu dan mengerti semua yang kau bicarakan tentang pertemuan, perkumpulan atau pun persembahan dan hal-hal omong kosong itu" Venus meradang.


Dia kesal mendengar semua yang terjadi adalah hal yang sebelumnya dia ketahui.


Keanu terdiam dan cukup heran dengan reaksi Venus.


"Tapi, saat pemeriksaan oleh Fajri... "


"Aku sedang dalam pengaruh narkoba malam itu, aku bahkan tidak ingat apa yang ditanyakan dia, siapa? Fahri! "


"Fajri" jawab Keanu.


"Lalu? Apa lagi yang terjadi padanya? " Venus masih penasaran.


"Aku membawanya pergi, meninggalkan suami dan kakaknya. Dia pasti sangat terluka saat melihat ruangan itu sekejap menjadi tanah datar karena ledakan yang kami rencanakan" ucap Keanu.


Revan keluar dan Venus menghentikannya.


"Apa ini? Kau bilang dia baik-baik saja, tapi dia..." tanya Keanu.


Revan menghela, di menatap ke arah CCTV yang terpasang di sudut koridor.


"Kenapa dengan dia? " tanya Venus.


"Dia keracunan" ucap Revan dengan mata menatap Venus


Venus terheran dengan tatapan matanya yang tajam. Keanu jadi ikut menatap Venus saat dia melihat reaksi Revan.


"Apa yang kau lakukan padanya? " tanya Keanu.


Venus berdiri dan menegakkan kepalanya.


"Apa maksud mu? " Venus menahan diri.


Dia yang biasanya selalu membalas tuduhan orang dengan hantaman bogem mentahnya, kini menahan diri untuk mendapatkan kepercayaan mereka.


Keanu yang awalnya menggebu, malah menundukkan pandangannya karena ingat bahwa Venus adalah kakaknya Hasna.


"Jangan ada yang pergi dari sini, aku sudah meminta petugas untuk memeriksa.... " ucap Revan.


Dia tak melanjutkan ucapannya, mengingat mereka tidak tahu bahwa dia sudah meminta seseorang untuk memeriksa rekaman CCTV koridor di sana.


"Kau juga! " ucap Revan menunjuk Keanu.


"Aku! Heuh yang benar saja! " ucap Keanu menyeringai.


Revan pergi ke arah ruangannya, hendak menunggu laporan petugas yang dia suruh. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Beno datang dari arah lift.


Beno tercengang dengan apa yang dia dengar. Dia berjalan mendekati Revan kemudian menariknya.


"Apa ini?" tanya Beno.


"Aku.... " Revan tak bisa menjelaskannya.


"Aku sudah meminta mu untuk menjaganya, aku minta.... "


Beno melihat ke arah pintu ruang rawat Hasna yang hanya ada Keanu dan Venus.


"Mana petugas yang aku kirim untuk... "


"Itu dia, aku tidak pernah mendapatkannya. Kau mengatakan akan mengirim penjaga, tapi sampai detik ini aku tidak kedatangan siapapun yang melapor. Aku sedang memeriksa yang lain saat aku meninggalkan Hasna bersamanya... "


Revan berpikir, begitupun Beno. Dia mengulang ucapannya sendiri dan setuju dengan kecurigaan Keanu.


"Kau meninggakannya dengan Venus? " tanya Beno.


"Ya" jawab Revan sembari berpikir.


Beno hendak menghampiri Venus tapi Revan menahannya.


"Tidak bisa seperti itu, kau tahu dia itu kakaknya" bisik Revan.


"Kakak apanya! " Beno membantah dan menepis tangan Revan.


Dengan langkah mantap dia mendekati Venus dan hendak menuduhnya. Tapi seorang petugas keamanan rumah sakit datang melaporkan rekaman yang dia dapat dari CCTV.


Revan menoleh, Beno pun tak jadi pergi dan mendekat pada Revan untuk melihat rekamannya.


Mereka terdiam saat melihat apa yang terjadi. Dengan wajah pucat Revan menatap Keanu dan Venus yang mengerutkan dahinya.


Sementara Beno langsung pergi dan masuk ke ruang rawat Hasna.


Keanu menatap mereka bergantian.


"Ada apa? Apa isi rekamannya? " tanya Keanu.


Dia hendak mengambil rekaman itu, tapi Venus merebutnya sebelum sampai ke tangannya.


Raut wajah Venus langsung berubah, dia juga menatap ke arah ruangan Hasna dan menelan salivanya.


"Hei, setidaknya katakan padaku apa yang terjadi, jangan diam" seru Keanu.


Revan mendekat dan menatap ke arah pintu.


"Dia pergi sendiri ke gudang obat" ucap Revan.


Venus terduduk, dia ingat telah mengatakan sesuatu yang mungkin membuatnya merasa telah dibohongi.


"Apa? " Keanu masih tak percaya.


"Dia hanya ingin diam" ucap Revan.


Keanu ikut melihatnya dari jendela kaca ruang rawatnya.


"Diam untuk selamanya" lanjut Revan.


"Kau yang diam, aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu. Tidak akan pernah" ucap Keanu.


Sementara itu di dalam, Beno tak bisa menahan airmatanya yang jatuh karena merasa sedih.


"Apa ini Na? "


Beno mendekat dan menyentuh tangannya.


"Apa karena tidak ada Pak Agung dan Fajri? Kan masih ada aku Na, aku bisa menjadi Fajri dan Pak Agung, pelindung-pelindung mu. Seperti kau melindungi Dara"


Beno menangis tertunduk di dekatnya.


Keanu dan Revan ikut menangis melihatnya. Tapi Venus hanya bisa diam.


'Sial, dia diam bukan karena sakit dari ledakan itu, dia hanya memutuskan untuk diam. Dia mendengarkan semuanya, semua ucapan ku, semuanya ' ucap hati Venus.


Dia menatap ke arah Revan dan Keanu.


'Aku harus mendapatkan kepercayaan mereka untuk bisa membawanya. Jika dia berada di bawah pengawasan ku, dia tidak akan pernah mengatakan apapun tentang apa yang aku katakan tadi'


Venus terus bicara dengan dirinya sendiri.


"Aku akan membawanya pulang" ucap Venus tiba-tiba.


Keanu dan Revan menoleh padanya.


'Tadinya aku yang mau mengatakan hal itu' ucap hati Keanu.


"Ya, tentu saja. Tapi setelah dia benar-benar pulih" ucap Revan.


Venus menghela dan merogoh ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.


Beno keluar dari ruangan Hasna dengan menghapus air matanya.


"Aku akan membawanya ke rumah ku, Dara dan aku akan menjaganya" ucap Beno.


Venus yang sedang memerintahkan untuk menyiapkan kamar Hasna, langsung menoleh padanya.


"Tidak, Hasna akan pulang bersama ku" seru Venus dengan suara lantang.


Beno menyipitkan matanya kemudian menghela keras.


"Tidak, aku tidak percaya padamu, kau.... "


"Aku kakaknya, memangnya siapa kau sehingga aku harus mendapatkan kepercayaan mu" Venus meradang.


Tangannya sudah meraih kerah kemeja Beno dan meremas tangannya membentuk bulatan siap menghantam wajahnya.


Revan berusaha melerai, sementara Keanu mendelik kesal karena merasa tak punya alasan untuk membawa Hasna bersamanya.


"Aku sudah seperti adik laki-lakinya, aku bersamanya lebih dari tiga tahun. Mengalami hal sulit dan duka bersama ayah dan kakak angkatnya. Kau hanya baru tahu dia adik mu sekarang, kau juga baru melihatnya bukan? Dan aku belum percaya kau adalah kakak kandungnya sebelum kalian tes DNA" Beno terus bicara.


Venus menjadi diam dan melepaskan tangannya. Revan merasa kasihan melihat reaksinya


"Kau ini asal sekali, memangnya tes DNA itu mudah? Jangan mengada-ada!" ucap Revan.


Venus memalingkan tubuhnya ke arah ruangan Hasna. Tapi Beno tak melepaskan tatapan matanya dari Venus.


"Hmmm, sudahlah. Kalian hanya membuat keributan di sini. Biarkan Hasna yang menentukan kemana dia ingin pulang. Kita sudah tahu dia memutuskan untuk diam, bukan karena hal medis bukan? " ucap Keanu.


Merekapun diam.