My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
120



Hasna berhenti di depan hotel yang Wira katakan. Kepalanya menengadah menatap hotel milik Venus itu.


Dengan menarik nafas dalam, dia melangkah pelan disambut pengawal yang sudah menunggunya.


"Silahkan Nona! " ucap pengawal itu.


Hasna tak merespon tapi ikut dengannya.


Hotel itu sepi, tak ada pengunjung lain selain dirinya yang dibawa dengan pengawalan ketat. Hasna mencoba mencari dan memperhatikan pintu mana saja yang menuju keluar. Berharap bisa melarikan diri bersama Dania sebelum semuanya dilakukan.


Masuk ke sebuah ruangan, Hasna melihat Wira sedang duduk menunggunya. Wira langsung berdiri menyambutnya dengan melebarkan kedua tangannya, hendak memeluknya. Hasna menjauh tak mau memeluknya. Wira hanya tersenyum dan menurunkan kedua tangannya.


"Terimakasih Hasna, kau sudah bersedia melakukan semua ini. Aku yakin, sekte ini akan berakhir setelah kita menyelesaikan semuanya" bisik Wira.


Hasna curiga dengan Wira yang berbisik diakhir kalimatnya.


"Mana Dania? " tanya Hasna.


"Ouh, dia aman. Aku menjaganya dengan sepenuh hati. Dia sedang menunggu untuk dikembalikan ke panti" ucap Wira.


"Aku sudah masuk ke sini, jadi sekarang lepaskan dia. Tak perlu mengantarnya ke panti, aku sudah minta seseorang menunggu di depan" ucap Hasna.


Wira mengangkat kedua alisnya.


"Tidak, dia tidak bisa pergi sebelum pertemuan ini dimulai" ucap Wira.


"Kalau begitu aku juga akan masuk saat dia sudah dilepaskan" Hasna melakukan kompromi dan hendak berjalan keluar.


Pengawal Wira langsung menghadang langkahnya. Hasna menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Tidak bisa sayang, kau sudah jadi milik kami sekarang" ucap Wira seraya mendekat.


Hasna berbalik, tapi pengawal Wira mendekati dari belakang dan membekapnya hingga Hasna pingsan. Mereka membawanya ke sebuah kamar khusus berisi dua pelayan wanita yang siap mendandaninya.


***


Para pengawal Wira yang hendak melihat situasi aula mendadak berpencar saat melihat Fajri dan Hadi menghilang.


"Cepat cari mereka atau kita akan mati" ucap salah satu dari mereka.


Sementara itu Fajri dan Hadi juga Vania masih di dalam kamar menunggu acara dimulai. Mereka masih diam tak membicarakan apa yang bisa mereka lakukan untuk menggagalkan pertemuan kali ini. Fajri malah terlihat seperti tak tertarik untuk melakukannya.


"Aku tetap pada pendirian ku untuk menyelamatkan Hasna" ucap Vania memecah keheningan.


Fajri melirik tapi tak merespon.


"Aku juga akan melakukan itu" ucap Hadi.


Hadi berdiri bersiap untuk melakukan apapun. Fajri menatapnya, tapi dia mengalihkan pandangannya pada Vania.


"Ayolah Fajri, tidak masuk akal kau langsung tidak yakin pada Hasna hanya karena... "


"Hanya karena? " Fajri menyela ucapan Vania yang seolah menyepelekan perasaannya.


Vania melipat bibirnya ke dalam.


"Aku kehilangan ibu ku karena dia dijadikan korban oleh anggota sekte yang membalas dendam pada keluarga Hasna"


"Itu bukan salah Hasna, Wira bahkan sudah mengatakan pada kita bahwa Hasna bahkan tidak tahu kalau keluarganya yang memulai sekte ini, dia juga tidak tahu Venus adalah kakaknya" Vania terus berseru mendebatkan pendapatnya pada Fajri.


"Tapi.... "


"Kau kakaknya, hanya kau. Dia selalu menganggap seperti itu" ucap Vania.


Hadi berlalu menuju pintu, mengintip untuk melihat keadaan juga menghindari memperhatikan pertengkaran mereka. Fajri terdiam, dia masih belum bisa menerima ucapan Vania.


Vania sendiri kesal melihat Fajri masih menganggap semua ini salah Hasna.


***


Venus menunduk, meremas kedua tangannya sendiri kemudian air matanya menetes.


Keanu yang ada di hadapannya menatap dengan kening berkerut karena merasa kasihan padanya.


"Aku punya adik perempuan? Siapa dia? Kenapa kau lebih tahu tentang diri ku? Aku sendiri tidak pernah tahu kalau aku punya adik perempuan? " ucap Venus dengan suara yang pelan dan ragu.


"Kau tahu, tapi kau tidak mau mengingatnya" ucap Keanu.


Venus menutup matanya sejenak, kemudian dia membukanya dan berdiri.


"Tidak, aku tidak punya adik perempuan. Kau terlalu mengarang cerita. Kau pikir aku akan takut karena kau mencoba mempermainkan perasaan ku?" Venus meninggikan nada suaranya.


"Tidak ada untungnya aku melakukan semua itu. Aku hanya akan mengatakan bahwa hari ini, malam ini dia akan jadi korban dari mitra kerjasama mu yaitu Wira. Dia akan dilecehkan di hadapan anggota yang berdalih sebagai persembahan pada dewa dewi yang mereka sembah. Kau harus melakukan sesuatu, hanya kau yang bisa melakukannya. Itulah alasan ku datang kemari" jelas Keanu.


Venus berhenti melangkah mendengar penjelasan Keanu. Dia berbalik dan menatap Keanu yang terlihat sangat khawatir.


"Darimana kau tahu semua ini? " tanya Venus.


"Aku mencoba mencari tahu tentang semua perkumpulan yang mengatasnamakan dewa dewi sialan itu. Aku juga tahu semua perbuatan mereka hanya untuk memberikan mu kemudahan dalam mendapatkan organ dalam untuk bisnis kotor mu itu.... "


"Dia, kenapa Wira ingin dia menjadi korban malam ini? Dan apa kau yakin aku dan dia adalah saudara? " Venus mulai mempercayai ucapan Keanu.


"Aku menyelidikinya, ayah ku pun punya buktinya. Kalian bagian dari keluarga Hasan, pencipta perkumpulan ini. Wira, entah apa yang dia katakan pada Hasna sehingga dia mau melakukannya dan semua dijadwalkan malam ini untuk menghabisinya" Keanu menjelaskan dengan detil.


Venus berpikir.


"Hanya kau yang bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan pada mereka" ucap Keanu yakin.


"Apa itu? " tanya Venus.


Keanu mendekat dan menjelaskan semua rencananya.


***


Di sebuah ruangan kebersihan di hotel yang sama, Vino menyamar sebagai petugas kebersihan dengan masker dan seragam dari hotel itu. Sebelum keluar dari ruangan itu, Vino menatap petugas kebersihan asli yang dia sekap, ikat dan sumpal mulutnya.


"Maafkan aku, aku akan melepaskan mu jika semua sudah selesai" gumam Vino.


Dengan perlahan dan hati-hati, Vino keluar dan berjalan menuju aula. Namun sayangnya, tak ada siapapun di sana.


"Hei kau! Apa yang sedang kau lakukan di situ? " seru seorang penjaga yang datang.


"Membersihkan Pak! " jawab Vino.


"Tidak usah, semua sudah selesai. Pergilah! " penjaga itu mengusirnya.


"Baik Pak! " jawab Vino seraya berjalan keluar.


'Apa yang sudah terjadi? Kenapa mereka tidak ada di sana?' tanya hati Vino yang merasa informasi dari anak buahnya salah.


Dia berjalan menyusuri semua lorong hotel menuju kamar lainnya. Dengan teliti mendengar suara dari ruang kamar hotel. Hanya suara ******* para wanita penghibur yang terdengar.


Vino terus berjalan dan berhenti pada satu ruangan. Pintunya sedikit terbuka, Vino mencoba untuk menguping tapi suara Wira keluar dari sana terdengar dan membuatnya langsung berjalan kembali.


"Pastikan dia tetap di sana dan kalian harus mendandaninya. Kita akan melakukan ini sesuai jadwal, harus malam ini" ucap Wira seraya berjalan menuju lift.


Vino mendengarkan dan ikut bergabung dengan Wira turun ke lobi. Wira memperhatikannya, dia menatapnya dari kepala hingga kaki.


"Kenapa kau memakai masker? " tanya Wira padanya.


Vino menoleh kemudian menunduk.


"Saya sedang flu Pak" jawab Vino dengan menyamarkan suaranya.


"Jika sakit jangan bekerja, bagaimana si Zavier ini. Bagaimana kalau penyakitnya menular pada para tamu! " keluh Wira.


"Maaf Pak! " ucap Vino.


"Jangan mendekat pada aula, atau tetap memakai masker itu sampai acaranya selesai dan semua tamu bubar" perintah Wira.


"Baik Pak! " jawab Vino.


Wira keluar dari lift bersama dengan Vino yang berjalan menuju pantry. Vino cukup lega karena telah lolos dari Wira karena sifat fanatisme nya terhadap kebersihan.