
Hasna pergi menuju panti asuhan yang Wulan bicarakan. Dia keluar dari rumah dan hendak menutup pintu. Tapi Keanu yang berdiri di belakangnya membuatnya terkejut.
"Astaga, kau membuatku terkejut" ucap Hasna yang terperanjat.
Keanu tersenyum, menertawakannya.
"Apa kabar? " tanya Keanu.
"Baik, ada apa? Izin profesi ku masih belum keluar" ucap Hasna to the point.
"Mau mengajak mu bergabung dalam sebuah kasus. Kau bisa menjadi seorang asisten untukku. Tawaran terbatas untuk orang yang sangat kompeten seperti mu" jelas Keanu.
Hasna diam menatapnya yang begitu semangat.
"Kasus apa? " tanya Hasna sambil berjalan menuju mobilnya.
"Kasus seorang artis dan beberapa orang yang sedang dalam masalah karena pencemaran nama baik. Aku sangat butuh orang seperti mu" jelas Keanu.
"Orang yang dibekukan izin profesinya? " ucap Hasna.
Keanu diam, Hasna hendak membuka pintu mobil namun diam sejenak menatapnya.
"Aku akan berkunjung ke kantor mu besok siang. Hari ini aku ada urusan. Tidak apa-apa kan? " tanya Hasna.
"Tentu saja, terimakasih sudah berniat untuk berkunjung ke kantor ku. Aku akan menunggu mu" ucap Keanu dengan senyum manisnya.
Hasna membalas senyumnya dan masuk ke mobil. Keanu mundur sedikit memberi ruang pada Hasna untuk berbelok.
Hasna berpikir cukup keras tentang tawaran Keanu. Pagi tadi dia mendapat notifikasi dari pengecekan saldo tabungannya.
"Tabungan ku menipis, haruskah aku menerima tawaran Keanu? " gumam Hasna.
Sesampainya di depan jalan menuju panti asuhan, Hasna turun dengan dahi berkerut. Lingkungan itu kumuh, tak banyak yang tinggal di sana.
"Alamatnya di sini, tapi ke arah mana aku harus pergi? " gumam Hasna.
Mata Hasna mencari seseorang untuk dia tanyai. Beberapa orang lewat dengan berjalan kaki.
"Permisi! " seru Hasna.
Mereka semua menoleh, Hasna tersenyum.
"Aku sedang mencari panti asuhan Kasih Ibu, apa kalian tahu dimana? " tanya Hasna.
Mereka semua saling menatap satu sama lain. Kemudian menggelengkan kepalanya. Kembali Hasna mengerutkan dahinya. Mereka pergi begitu saja mengacuhkannya.
"Apa-apaan ini, anak zaman sekarang, apa semua bersikap seperti itu? " Hasna kesal.
Tak berapa lama seorang wanita tua menghampiri Hasna.
"Kau mencari panti asuhan Kasih Ibu? " tanya nya.
Hasna menoleh karena terkejut.
"Anda membuat saya terkejut Bu, iya saya mencari panti asuhan itu" jawab Hasna.
"Di sana, di kaki bukit di dalam sana. Kau harus berjalan menuju tempat itu. Tidak ada jalan besar untuk mobil ke sana" jelas wanita itu.
Hasna menatap jalan yang di tunjuk wanita itu. Tampak seperti jalan yang sudah lama tak dilewati orang. Tumbuhan merambat mulai menjuntai ke jalan. Daun kering menumpuk di sepanjang jalan.
"Terimakasih Bu! " ucap Hasna.
Tapi wanita itu berlalu begitu saja. Hasna hanya bisa diam menatapnya. Kemudian, dia berbaik dan berjalan menuju tempat yang ingin dia kunjungi.
"Astaga, bagaimana mungkin mereka membuat panti asuhan di tempat seperti ini" gumam Hasna.
Sisi kanan dan kiri jalan hanya ada pepohonan jati yang masih berukuran kecil. Udara semakin terasa dingin saat dia berjalan lebih jauh. Lebih lembab dan beberapa bau mulai tercium.
Mata Hasna membelalak saat dia melihat sebuah rumah yang cukup besar namun terlihat tak terawat.
Dua anak sedang duduk di teras, dua anak lain berlarian, bermain dengan pakaian yang terlihat lusuh.
Seorang anak dari yang duduk di teras berdiri dan menatap Hasna. Dia mendekat seiring langkah Hasna yang juga mendekat.
"Kakak siapa? " tanya gadis berusia 12 tahun itu.
"Aku Hasna, Wulan yang bilang untuk datang" ucap Hasna.
Matanya tak bisa dikontrol untuk meraba keadaan gadis itu. Kurus, rambut yang berminyak, pipi yang tirus dan mata yang berlingkar hitam, seolah sudah menahan lapar berhari-hari.
Mata gadis itu berair, dia meraih tangan Hasna dan menciumnya.
"KAK WULAN MENGIRIM PENOLONG UNTUK KITA! " serunya.
Hasna kebingungan.
"Malaikat Penolong? " ucapnya.
Ada sekitar dua belas anak yang tak terurus di sana. Paling besar anak gadis berusia tiga belas tahun. Hasna menghela melihat keadaan mereka yang kurus dengan lingkaran hitam di mata mereka.
"Astaga, apa yang sudah terjadi di sini? " tanya Hasna.
Tak ada yang menjawab, mereka hanya tersenyum menatapnya. Dania menarik tangannya dan mengajaknya ke dalam rumah panti.
Rumah yang rapi, meski sudah tua dan sebagian besar terbuat dari kayu. Hasna melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Foto lama, dia tak melihat ada Wulan di sana.
"Kak Wulan masih kerja di luar negeri? " tanya Dania.
Hasna menoleh dengan ekspresi wajah yang cukup terkejut dan bingung dengan pertanyaannya.
"Ah.. hmm" Hasna mengangguk.
~Mereka tak tahu Wulan di penjara! ~ ucap hati Hasna.
Mata Hasna beralih ke dapur yang ada di sudut rumah. Dia melangkah dan melihat isinya. Rapi dan saking rapinya tak ada satupun bahan makanan di sana. Hasna membuka lemari es yang mati dan bau.
"Hmmm, kapan terakhir kalian makan? " tanya Hasna seraya menoleh pada anak-anak itu.
Mereka semua saling berpandangan kemudian menunduk.
"Astaga, tidak ada yang datang sejak Wulan pergi? " tanya Hasna.
"Iya, kami bertahan dengan sisa bahan makanan yang beberapa hari kemarin sudah habis" jawab Dania.
Hasna menghela lagi, dia berpikir seraya melihat ke sekeliling.
"Kau! Ikut aku! " tunjuk Hasna pada Dania.
Mata Dania membulat. Hasna menariknya keluar. Yang lainnya hanya bisa menatap dan diamdi dalam rumah.
Hasna mengajak Dania ke tempat dia memarkirkn mobilnya.
"Kau tahu ketua lingkungannya? " tanya Hasna.
Dania diam saja, dia fokus pada tanah yang dia injak karena takut terpeleset saat berjalan cepat dengan Hasna.
Sampai di dekat mobil, Hasna menatapnya dengan mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
"Kau tahu? " tanya Hasna lagi.
"Di sana! " tunjuk Dania dengan nafas tersengal.
Dia menunjuk ke arah sebuah komplek perumahan yang tak jauh dari sana.
"Ok, kita akan kesana sekarang" ucap Hasna.
Dania bingung dengan sikap Hasna.
"Masuklah! Kita harus cepat, supaya teman-teman mu bisa makan" ucap Hasna.
Mendengar ucapan Hasna, Dania buru-buru menurut dan masuk.
Sampai di tempat ketua lingkungan, Hasna turun dan bicara dengan seorang pria yang menerima kedatangannya.
"Maaf pak, saya mau minta tolong, jalan yang menuju panti asuhan Kasih Ibu itu diberi ruang agar mobil bisa masuk. Bisa? " pinta Hasna setelah sebelumnya membicarakan perihal kunjungannya ke daerah itu.
Pria itu terdiam menatap ke arah mobil. Hasna memperhatikan sikapnya.
"Pak! Bisa?" tanya Hasna sekali lagi dan membuat pria itu menoleh padanya.
"Saya bayar, asalkan bisa selesai saat saya kembali dari membeli keperluan makanan mereka" lanjut Hasna.
Pria itu menatap Hasna dalam diamnya. Dia berpaling ke arah para pria yang sedang main catur di dekat pos ronda.
"Hei kalian! " seru pria itu.
"Ya Pak Danu! " jawab salah satu dari mereka.
"Bantu merapikan jalan menuju panti asuhan anak. Nyonya ini akan bayar kalian nanti" jelasnya.
Hasna tak suka dengan nada bicara Pak Danu, yang terkesan menunjukkan bahwa Hasna sok memerintah.
"Maaf Pak, tadi saya sudah katakan sebelumnya. Saya datang karena.... "
"Ya, saya tahu. Saya sudah bantu, mereka akn mengerjakannya. Anda bisa belanja sekarang" ucap Pak Danu.
Hasna menganga mendengar ucapannya yang ketus. Tapi dia tak mau banyak bicara lagi, merasa percuma juga menjelaskan maksud permintaannya. Dia berjalan menuju para pemuda yang diperintahkan olehnya.
"Maaf ya merepotkan! " ucap Hasna.
Mereka semua menoleh padanya, salah satu menatapnya dengan mengerutkan dahi kemudian beralih pada Dania.