My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
11



Matahari belum muncul, namun Hasna sudah keluar dari rumah dan hendak bertemu dengan Fajri juga Beno di rumah Fajri untuk membahas penemuan mayat dalam koper.


Langitnya masih gelap, udaranya masih dingin, terasa hingga hidung Hasna karena dia buka kaca mobilnya. Jalanan masih sepi, bahkan Fajri mungkin belum bangun karena tak menjawab meski sudah berkali-kali di telpon.


Hasna sampai di depan tempat Fajri tinggal. Dia masuk dengan kunci yang diberikan Fajri sedari awal dia menyewa tempat itu. Dulu mereka sempat tinggal bersama sebelum Hasna mendapatkan uang untuk membeli rumah sendiri, bersama Agung tentunya.


Hasna membuka jendela, meski matahari belum muncul, tapi terangnya langit pagi ini membuat ruangan rumah Fajri sedikit lebih terang tanpa cahaya lampu.


Hasna membuka pintu kamar dan melihat Fajri yang masih tidur telungkup. Selimut yang sepertinya tak sengaja dia tendang saat tidur, tergeletak di lantai. Hasna memungutnya, kemudian mengambil beberapa baju kotor miliknya dan keluar menaruhnya di atas mesin cuci.


Hasna hendak kembali ke kamar untuk membangunkan Fajri, namun dia mencium bau yang tak sedap dari dalam mesin cuci. Saat dibukanya penutup mesin cuci, Hasna memejamkan mata dan menahan nafas setelah melihat pakaian yang sudah direndam entah berapa lama. Hasna membuang airnya kemudian mencucinya kembali. Dia juga merapikan dapur kecil Fajri yang berantakan oleh bungkus mie instan.


Hasna menghela nafas setelah selesai merapikan semuanya. Dia melihat ke arah kamar Fajri yang tak kunjung bangun setelah matahari muncul.


"Aishh....Hei...Fajri..! Aku kemari untuk membicarakan kasus baru itu, bukan untuk merapikan semuanya. Kenapa kau tidak bangun juga" teriak Hasna sambil masuk ke kamar dan memukul punggung Fajri.


Fajri menggeliat kesakitan dan membuka matanya sedikit menatap Hasna.


"Bangun....! Kau mau bangun jam berapa? Matahari sudah muncul" keluh Hasna.


Fajri bangun dan menggaruk dadanya. Dia menatap Hasna yang berdiri di depannya. Saat Hasna akan pergi keluar, Fajri menarik tangannya dan menyebabkan Hasna terjatuh ke ranjang. Kemudian Fajri memeluknya lalu membenamkan dirinya bersama Hasna dalam selimut.


Hasna menatap wajah Fajri yang memejamkan matanya lagi. Wajahnya sangat dekat, membuat jantung Hasna berdegup kencang. Wajah yang selalu berusaha membuatnya bahagia dan merasa aman juga nyaman. Perasaan yang tak pernah dia dapat dari pria manapun.


Dada Hasna kembang kempis, namun dia langsung tersadar kemudian bangun dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Fajri yang sama sekali tak mengucapkan apapun.


"Lepas...!" ucap Hasna.


Dia masih berusaha, namun Fajri malah tersenyum dan mempererat pelukannya.


"Fajri!" seru Hasna kesal.


Kemudian secara tiba-tiba, Beno masuk ke kamar dengan membawa makanan untuk mereka.


"Woy...! Bangun! Aku bawa......"


Belum selesai Beno bicara, dia terkejut melihat Hasna yang berpakaian rapi sedang dalam pelukan Fajri yang terlihat baru bangun tidur. Beno menjatuhkan bungkusan makanannya. Sesekali berkedip merasa canggung menatap mereka.


Hasna meraup wajah Fajri dan kembali berusaha melepas tangan Fajri yang mulai terlepas karena mendengar suara Beno. Hasna berdiri dan merapikan pakaiannya kemudian keluar dari kamar melewati Beno yang masih berdiri terdiam di sana. Fajri bangun dan menaruh selimut di atas kepala Beno.


"Lain kali ketuk dulu sebelum masuk" ucap Fajri sambil keluar membawa handuk.


Hasna yang sedang membuat kopi melihat Fajri hendak ke kamar mandi. Dia kesal akan kejadian tadi, sambil mengaduk kopi, dia menendang bokong Fajri dengan keras.


Fajri membuka mulutnya, kesakitan tanpa suara. Namun dia mengatakan sesuatu yang membuat Beno keluar dan mengintip mereka.


"Aw....sayang...! Sakit tau!"


Hasna membelalakkan matanya semakin kesal. Dia hendak memukul kepala Fajri dengan wajan, namun Fajri berlari sambil tertawa ke kamar mandi.


Beno diam di kamar sampai Fajri selesai mandi, takut Hasna merasa malu untuk menatapnya. Fajri masuk dan menyuruhnya keluar karena dia mau berganti pakaian. Namun Beno diam saja.


"Keluar! Aku mau ganti pakaian"


"Tidak! Aku akan menutup mata ku" ucap Beno sambil berbaring menutup wajahnya dengan selimut.


Fajri tersenyum menertawakan kesalahpahamannya. Dia pun berganti pakaian, kemudian keluar dari kamar.


Beno ikut keluar dengan berjalan perlahan juga menatap Hasna yang sedang meminum kopi sambil melihat berkas yang ada di meja. Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja, Beno pun duduk di hadapannya.


Hasna menatapnya, kemudian menelan ludah mengingat ekspresi Beno saat melihat mereka di ranjang.


"Kau mau kopi?" tanya Fajri.


Beno mengangguk.


"Dia tak pernah membuatkan aku kopi, jadi aku harus selalu membuatnya sendiri. Tapi jika untuk pengacara tampan itu, dia selalu siap dengan esspreso di tangannya sambil tersenyum menatapnya" ucap Fajri.


Hasna melirik ke arah Fajri, berpikir bahwa Fajri masih cemburu karena semalam dia menemani Vino yang sedang merasa sedih. Dia pura-pura tak peduli dan melanjutkan membaca berkas.


"Ini kopi mu. Lihatkan! Meski aku sudah mengeluh, dia masih saja acuh!" ucap Fajri memancing kemarahan Hasna.


Beno hanya diam dan meminum kopinya. Dia membuka bungkusan makanan yang dibawanya dengan menatap mereka berdua.


Hasna menutup berkas dengan keras. Dia menatap tajam pada Fajri yang membalas tatapannya seolah menantang padanya. Beno merasa akan ada pertengkaran antara mereka. Namun kemudian, Hasna mengambil makanan dari dekat Beno dan memakannya dengan kesal.


"Waahhh...bakwannya enak sekali" puji Hasna pada Beno setelah menyantapnya.


Beno hanya tersenyum.


Fajri hendak mengambilnya sambil hendak bicara lagi, namun Hasna menyumbat mulut Fajri dengan bakwan sisa gigitannya.


"Oke, jadi kasus yang ini kan belum ada yang bisa dijadikan tersangka. Pak Agung juga sudah mengatakan bahwa kasusnya serupa dengan kasus 10 tahun yang lalu" ucap Hasna.


Fajri memakan bakwannya sambil mendengarkan ucapan Hasna. Beno ikut menatap berkas yang Hasna tunjuk.


"Ya, kasus yang sama. Korban adalah wanita yang berusia 18 hingga 20 tahun. Yang sedang dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya" ucap Beno.


"Pihak keluarga menyatakan hal yang sama, mereka pamit dari rumah untuk bekerja, namun pihak pabrik dan tempat mereka berkerja mengatakan bahwa hari itu mereka tidak masuk kerja" timpal Fajri.


"Ponsel mereka tidak ditemukan di lokasi dan tak bisa dilacak keberadaannya" tambah Hasna.


Fajri dan Beno mengangguk.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanya Hasna.


"Kami sudah mengecek CCTV yang ada di sekitar. Namun sayangnya, malam itu sedang ada pemadaman listrik secara berkala. Sudah terbayang, malam itu adalah malam yang sangat leluasa bagi pembunuh untuk membuang mayatnya di sana" ucap Beno.


Fajri mengangguk sambil memakan gorengan lagi. Hasna terdiam.


~Pasti ada yang terlewat! Selalu ada yang jadi saksi atau bukti. Tuhan....beri aku petunjuk~ ucap hati Hasna.


"Kau memikirkan rencana apa yang tak boleh aku ketahui?" tanya Fajri sambil menepuk tangannya dan mengambil cangkir kopinya.


Hasna meliriknya, kemudian menatap Beno.


"Tidak, aku hanya berpikir. Aku harus sit-up 100 kali untuk menghilangkan lemak makanan hari ini" jawab Hasna asal.


"Jangan bertindak di luar profesi mu sebagai pengacara. Hal itu bisa membuat mu di pecat dan tak diterima kembali di kantor pengacara manapun. Jadi tunggu saja. Oke?" ucap Fajri mengingatkan.


Hasna mengangkat kedua alisnya, mengakui ucapan Fajri yang memang benar. Namun hatinya tak menyetujui dia harus diam saja dan menunggu.


Beno masih tercengang melihat cara mereka bicara. Sangat akrab dan tak terlihat canggung atau formal seperti mereka bicara di kantor.


Fajri meraup wajah Beno.


"Tutup mulut mu, nanti serangga masuk!" ucap Fajri.


Beno tersenyum.


"Tidak. Aku hanya tak menyangka kalian begitu berbeda saat di kantor dan di rumah. Apa kalian pasangan kekasih?" tanya Beno.


Hasna yang sedang minum kopi langsung menyemburkannya karena terkejut dengan pertanyaan Beno. Fajri yang hendak mengatakan iya, mengurungkan ucapannya merasa Hasna menghalanginya dengan semburannya.


"Tidak....kami hanya terlalu sering bersama dulu, jadi kadang merasa bosan dan membuat beberapa lelucon seperti tadi. Kalau masalah cara bicara yang berbeda di kantor dan di rumah. Itu hanya perasaan mu saja. Sama kok!" jawab Hasna dengan cepat.


"Wah....kau sangat terlatih untuk ukuran seorang pengacara. Cepat dan tepat. Terutama soal kejelasan hubungan kita" ucap Fajri memuji kemudian kecewa dengan ucapan Hasna.


Hasna tersenyum, dia berdiri merapikan meja yang basah karenanya. Beno ikut tersenyum, dalam hatinya ada sedikit kecewa karena sudah sangat menyukai Hasna dari cerita Fajri. Namun ternyata mereka sudah punya hubungan spesial meski Hasna menyangkalnya.


Hasna pamit pada Fajri yang menyodorkan tangannya untuk Hasna cium. Hasna menurut dan menciumnya. Sementara hanya menyalami tangan Beno saat akan pergi.


"Beritahu aku jika ada perkembangan lain" ucap Hasna.


Dia pergi masuk ke mobilnya dan melaju menuju kantornya.