
Siang ini sidang untuk kasus penipuan "Juragan Garang". Hasna dan Armand sudah siap dengan semua tuntutan yang akan diajukan. Mereka sedang duduk di ruang tunggu sidang, menunggu sidang kasus lain yang sedang berjalan.
Armand terlihat gelisah, tangannya tak berhenti memeriksa ponselnya sedari tadi. Hasna memperhatikannya dan penasaran.
"Pak, kau baik-baik saja?" tanya Hasna.
"Hah, ya aku baik-baik saja!" jawab Armand.
"Pak, wajah mu terlihat khawatir dan pucat. Kau juga berkeringat. Ada apa?" tanya Hasna lagi.
"Wah...masa? Aku baik-baik saja, bener, aku ngak apa-apa" jawab Armand meyakinkan.
"Dengar! Apapun yang terjadi padaku, sidang ini harus berjalan sesuai rencana kita" ucap Armand.
Hasna terheran, dia berpikir Armand sedang merasakan sesuatu yang mungkin membuatnya merasa sangat sulit bertahan hari ini.
Tak lama berselang, Armand tiba-tiba terjatuh dari kursinya. Hasna mencoba menahan kepalanya yang hendak jatuh keras ke lantai.
Hasna memegang dahinya yang terasa demam. Dengan menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri, Hasna meminta bantuan pada Vino untuk membawa Armand ke rumah sakit.
"Vin, ke sini ya, bawa orang buat gotong Pak Armand, dia tiba-tiba pingsan. Badannya panas, karena demam" ucap Hasna di telpon.
Vino yang sedang di kantor langsung datang membawa temannya.
"Kenapa gak panggil ambulans?" tanya Vino.
"Pak Armand bilang untuk tetep ngelanjutin sidang, kalo ambulans nanti...."
Tak meneruskan ucapannya, Vino sudah mengerti dan mengangguk. Mereka bergegas membawa Armand ke rumah sakit.
Hasna berdiri sendiri di depan parkiran mobil, menatap mobilnya meluncur keluar dari lingkungan pengadilan.
~Apa ini Tuhan? Kenapa semua terasa begitu mudah?~ ucap hati Hasna.
Waktu persidangan sudah akan dimulai, Hasna bergegas berjalan menuju ruang sidang. Dengan mantap langkah kakinya berjalan menuju tempatnya.
Pak Rusdiawan duduk di samping Hasna dengan wajah "Garang" nya. Polisi masuk membawa Rendy dengan borgol di tangannya.
Mata Pak Rusdi membelalak menatap putranya duduk di kursi terdakwa.
"Apa ini?" tanyanya dengan nada keras.
Semua orang menatapnya.
"Ada apa Pak?" tanya Hasna.
"Apa ini? Kenapa putraku ada di sana? Kenapa tangannya di borgol? Aku datang untuk sidang penipuan surat-surat tanah ku. Kenapa dia ada di sana?" ucapnya hendak menarik Rendy dari kursinya.
Istrinya menangis di kursi tamu, semua orang kebingungan dengan apa yang terjadi. Pak Rusdi masih hendak membawa Rendy yang memasang wajah tanpa ekspresi untuk pulang.
Beberapa polisi datang menahannya untuk mengamuk. Hasna meminta waktu sebentar pada Hakim untuk kembali ke ruangan untuk bicara sebentar dengan kliennya. Hakim mengizinkan.
Hasna meminta Pak Rusdi untuk tenang dan duduk.
"Minumlah dulu Pak, tekanan darah anda bisa naik!" ucap Hasna sambil memberikan segelas air padanya.
Pak Rusdi meminumnya, dia bahkan mendengarkan apa yang hendak Hasna katakan.
"Ini yang selalu Pak Armand hendak katakan pada anda, namun anda sama sekali tak mau mendengar. Anda selalu mengatakan bahwa anda tidak peduli dan hanya ingin semua tanah anda kembali, bukan?" jelas Hasna.
Rusdiawan menunduk, dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Namun karena sifatnya yang serakah, dia memilih sesuatu yang tak pernah dilakukan seorang ayah pada anaknya.
"Berapa lama dia akan di hukum jika aku memenangkan sidang ini?" tanya Pak Rusdi.
Hasna menyeringai menertawakan keputusan Pak Rusdi.
"Tuntutan yang kita ajukan adalah 4 tahun penjara sesuai dengan undang-undang, bisa lebih berat jika ternyata ada hal lain yang memberatkannya" ucap Hasna.
"Semua tanah ku akan kembali bukan?" tanya Pak Rusdi lagi.
Hasna kembali menertawakan pertanyaan Pak Rusdi tanpa suara.
"Baiklah, kita lanjutkan tuntutannya. Dia masih bisa hidup dengan nyaman saat keluar dari penjara nanti" ucap Pak Rusdi.
"Tentu saja Pak, sudah sangat terlambat untuk menarik tuntutan darinya" ucap Hasna.
Pak Rusdi menatap Hasna yang nada bicaranya terdengar senang dengan situasi ini. Namun Pak Rusdi berpikir, dia hanya seorang pengacara yang sudah berjuang untuk melakukan semua ini dengan baik agar kasusnya segera selesai.
Hasna mempersilahkan Pak Rusdi untuk masuk ke ruang sidang. Dia berjalan menyusul tepat di belakangnya.
Hasna menatap Rendy yang menunduk, kemudian menatap ibunya yang masih menangisi keadaan mereka yang terasa sangat buruk.
Hasna mengambil nafas dalam, salah satu tujuannya membuat keluarga Pratama merasa berada dalam situasi yang amat buruk sudah tercapai.
Dia kembali melakukan tugasnya membantu Pak Rusdi menuntut orang yang mencuri dan membuat puluhan surat tanahnya beralih tangan pada orang lain.
Sidang di mulai, agenda hari ini adalah pernyataan penuntut, dengan menunjukkan bukti-bukti serta pengajuan pertanyaan pada terdakwa.
Semua berjalan dengan lancar, Pak Rusdi dan istrinya sangat terkejut dengan semua pengakuan Rendy yang memang sengaja melakukan semuanya.
Rendy mengakui melakukan semua itu dalam keadaan sadar dan sehat.
"Semua surat tanah yang aku curi dan ku alih namakan adalah milik mereka, tidak ada alasan lain. Jadi kumohon ayah, jangan diambil lagi" ucap Rendy di ujung pengakuannya.
Hasna menunduk kemudian mengangkat kepalanya merasa semua akan selesai hari ini juga. Namun pembela memberikan sebuah fakta yang memperkuat alasan terdakwa melakukan semua itu untuk menegakkan keadilan.
Pembela memberikan sebuah bukti bahwa Pak Rusdiawan yang terkenal sebagai "Juragan Garang" adalah seorang rentenir yang cukup terkenal di sana. Bahkan di tempat sebelumnya dia tinggal.
Pak Rusdiawan gusar, dia takut justru dia yang akan dituntut balik atas pekerjaannya itu.
"Tidak....semua itu kerja keras ku, aku tidak mendapatkan semuanya secara gratis ataupun cara lain, semuanya aku dapat dengan susah payah" ucap Pak Rusdi.
"Tolong Jaksa penuntut, beritahu klien anda untuk tidak berteriak lagi. Jika dia melakukan itu, terpaksa kami akan menahannya karena tidak menghargai persidangan" ucap Hakim.
"Maafkan kami Pak!" ucap Hasna.
Hasna memegang lengan Pak Rusdi untuk tetap tenang.
"Pak, kami mohon!" ucap Hasna.
Pak Rusdi masih berdiri, dia masih tak mau disalahkan atas pekerjaannya.
"Ini akan mempersulit Bapak nantinya" ucap Hasna meyakinkan.
Pak Rusdi menyerah dan kembali duduk.
"Semua itu sudah terjadi sangat lama Pak Hakim, alasan itu tak bisa menjadikan seseorang menjadi pencuri atau penipu" ucap Hasna.
"Pernyataan mu ditolak, silahkan lanjutkan saudara pembela" ucap Hakim.
Hasna kembali duduk dan memeriksa berkas nya, namun semua itu hanya pura-pura. Hasna yang memberikan informasi tentang pekerjaan Pak Rusdi pada pengacara pembela sebelumnya, untuk meringankan hukuman Rendy.
Sidang kali ini terbilang seri, Pak Rusdi memenangkan tuntutan pada Rendy sebagai terdakwa. Sedangkan Pembela mendapat keringanan atas tuntutan yang diajukan.
Rendy mendapatkan hukuman penjara selama 3 tahun. Ibunya menangis terus menerus hingga Rendy dibawa polisi ke rutan. Sedangkan Pak Rusdi terduduk sendiri di ruang sidang.
Hasna menatapnya dari belakang.
~Bagaimana? Bagaimana rasanya "Juragan"? Sakit? Bingung? Terluka tapi tak berdarah. Tak perlu memukul mu untuk membalaskan dendam ayah ku yang kau ambil surat tanahnya karena meminjam uang untuk pengobatan ku. Tak perlu memukul mu untuk membalas semua pukulan yang kau layangkan pada ayahku saat dia meminta kembali rumah kami. Cukup dengan menghasut anak mu untuk menentang semua keyakinanmu, meski tak mudah, aku bisa melakukannya dalam setahun~ ucap hati Hasna.
Hasna berjalan kembali ke mejanya tadi. Dia hendak mengambil tas yang ia tinggalkan. Pak Rusdi menatapnya.
"Kapan semua surat rumah dan tanah itu bisa kembali menjadi milikku?" tanya Pak Rusdi.
Hasna menatapnya.
"Maaf Pak Rusdi, jika anda mengajukan pengembalian surat rumah dan tanah itu, akan dilakukan penyelidikan terkait cara anda mendapatkannya. Anda akan berada dalam masalah besar. Aku bisa membantu mu melakukan semuanya, namun ujung tombak yang akan aku lempar hanyalah penjara bagi mu. Pikirkan lagi!" ucap Hasna.
Rusdi memegang kepalanya, dia menyesal karena telah menghubungi polisi saat terjadi pencurian di rumahnya. Dia sudah memasukkan putranya ke penjara dan kini kehilangan semua rumah dan tanah yang begitu banyak.
Hasna tersenyum melihatnya menunduk dan menangis.