My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
94



Semua anak duduk rapi di depan papan tulis dan Hasna yang sedang membuka halaman buku yang akan mereka pelajari hari ini, setelah sebelumnya mereka sarapan pagi.


Dani menatap Hasna dan sesekali melihat ke arah teman-temannya. Beberapa lainnya bicara berbisik dan terlihat seolah sedang ragu untuk bicara atau tidak padanya.


"Jangan berisik! Ambil satu suara, jika tidak ingin bicara, jangan bicara" ucap Hasna tanpa menatap mereka.


Tangannya masih sibuk menulis apa saja yang akan dia ajarkan pada mereka hari ini. Anak-anak terdiam, mereka lebih takut ketika Hasna bicara tanpa menatap mereka.


"Ok, ini adalah PR untuk nanti. Hari ini aku hanya akan mengajarkan pada kalian bagaimana cara untuk melindungi diri dari bahaya" ucap Hasna.


Anak-anak saling bertukar tatap. Mereka kebingungan dengan ucapan Hasna.


"Aku melihat selang gas sedikit longgar dan berbau. Isinya juga sudah sedikit, padahal kemarin subuh aku baru menggantinya" tunjuk Hasna ke arah dapur.


Mereka semua ikut menatap kearah dapur.


"Penciuman kalian harus bisa membedakan mana bau biasa dan mana bau yang tak biasa" Hasna sedikit mengeluh.


Beberapa anak yang sudah mengerti menunduk karena merasa sudah salah telah abai. Tapi anak lainnya yang belum mengerti hanya menganga dan menatap Hasna yang mengomel.


"Kalian lihat? Ke empat adik kalian, Haris, Nala, Maudi dan Putri, tak paham dengan apa yang aku katakan" Hasna mulai meninggikan nada suaranya.


Tak ada yang berani bicara saat itu.


"Aku hanya takut kalian terluka. Hanya itu"


Hasna menghela keras.


"Kalian juga harus bisa membela diri dari orang-orang yang datang dan hanya ingin meminta bahan makanan dari kalian. Kalian harus bisa mempertahankan harta yang kalian miliki. Persediaan makanan itu terbatas, aku tidak selalu bisa mengisinya, apalagi tanggal tua"


Haris mulai memajukan mulutnya dan hendak menangis mendengar Hasna terus mengomel.


"Jangan menangis! Jika kau menangis aku akan memukul Dania! " ucap Hasna seraya menunjuk pada Haris kemudian beralih pada Dania.


Mata Dania dan anak lainnya membelalak mendengar ancaman Hasna. Bukannya Haris yang dipukul, tapi Dania, anak paling tua yang akan dihukum jika adiknya menangis.


Tapi ancamannya berhasil, Haris menahan tangisnya. Yang lainnya pun mengusap punggung Haris agar tak menangis.


"Bagus, ini yang aku inginkan" ucap Hasna.


Dania dan yang lainnya menatap dengan heran pada Hasna.


"Aku hanya bisa datang sesekali kesini. Sisa hari yang kalian lalui adalah antara kalian saja, tanpa perlindungan dari ku. Dan kewajiban kalian adalah saling melindungi satu sama lain"


Hasna berdiri dan memutari mereka.


"Jika ada hal yang berbahaya, seperti gas bocor atau yang lainnya..... "


Hasna berhenti sejenak kemudian mengambil nafas dalam.


"Aku akan mengajarkan semuanya hari ini, jadi kalian dengar dengan baik, ok! " seru Hasna.


Nada suaranya yang mulai kembali ceria membuat ketegangan diantara mereka langsung membuyar. Haris berdiri dan langsung memeluknya.


Hasna meleleh, dia mulai menangis membayangkan apa yang terjadi jika hal buruk yang dia bayangkan terjadi.


Dania yang paham dengan ekspresi wajah Hasna, mendekat dan mengusap air matanya.


"Maaf, kami selalu tidak paham" ucap Dania.


"Tidak, aku yang salah. Aku belum mengajarkan kalian tentang semua itu. Aku yang seharusnya meminta maaf, aku terlalu menuntut anak-anak seperti kalian mandiri sebelum waktunya" ucap Hasna menyesali.


Mereka semua larut dalam situasi yang sangat sedih.


***


Fajri mencoba menghubungi Hasna yang sedari tadi ponselnya tak aktiv.


"Wah, anak ini benar-benar mengerjai ku" gumam Fajri.


"Tidak, aku sudah di sini" seru Hasna yang datang dari arah belakangnya.


Fajri menoleh kemudin tersenyum.


"Sekarang kau pemburu traktiran? " Fajri mengejeknya.


Hasna terdiam sejenak sambil menyalakan ponselnya.


~Iya, aku butuh traktiran. Selain kebutuhan sehari-hari, aku juga harus menyiapkan uang sekolah untuk anak-anak~ ucap hati Hasna.


"Bicara sendiri pada dirimu, dalam hati, seperti biasanya" Fajri lagi-lagi mengejeknya.


Matanya membulat menatap Fajri, kemudian alisnya digerakkan beberapa kali seolah bertanya bisa atau dia memesannya sekarang.


"Kau kelaparan? Tak biasanya memesan karbo dan lemak sebanyak itu" sindir Fajri.


"Ya, aku sangat lapar. Sangat, sangat lapar" ucap Hasna.


Bukannya memegang perutnya, Hasna malah menggaruk lehernya.


Fajri semakin curiga dengan tingkah Hasna. Tapi dia hanya memperhatikan dan mencoba mengendalikan diri untuk tidak menginterogasi dia saat ini.


"Minuman nya apa? " tanya Fajri.


"Es jeruk saja" jawab Hasna.


Fajri memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka. Tapi Fajri hanya memesan kopi.


~Kenapa dia hanya memesan kopi? ~ tanya hati Hasna.


Dia ingin menatap dan memperhatikan wajah dan ekspresinya, namun dia menahan diri. Fajri adalah penyidik handal, Hasna takut dia akan terjebak dengan semua pertanyaan darinya. Yang akhirnya akan membuatnya mengatakan semua yang dia lakukan belakangan ini.


"Apa kau tahu Vino akan dibebaskan tahun depan? " ucap Fajri.


Kali ini Hasna menatapnya dengan wajah yang terkejut.


"Apa? " ucap Hasna.


"Ya, tahun depan. Beberapa bulan lalu, dia mengajukan banding dan diterima. Dia hanya membela diri dan menyelamatkan hidup istrinya dan mereka mengabulkannya" jelas Fajri seraya menunjuk Hasna saat mengatakan kata istrinya.


Ya, Hasna menelan salivanya. Sejak dia sibuk bekerja dan mengurus anak-anak, dia tak pernah menjenguknya. Bukannya melupakannya, dia hanya tak mau terbebani dengan tingkah Vino yang selalu meminta perhatiannya.


"Kau tidak tahu? " Fajri heran.


Hasna menggelengkan kepalanya.


"Tidak! " jawabnya singkat.


"Bukannya kau bekerja dengan Keanu Reaves? Kamal salah satu teman Keanu, tidak mungkin jika Kamal tak memberitahu tentang Vino pada Keanu" Fajri menduga.


~Apa....? Keanu tahu?~ ucap hati Hasna.


Dia mengingat semua tingkah Keanu yang menurutnya aneh.


"Makanannya datang, ayo makan! " ucap Fajri seraya menepuk punggung tangan Hasna.


Hasna menghela, makanan nya sudah di depan mata dan hendak disantapnya. Tapi dia menaruh sumpitnya dengan keras.


"Aishhhh, kenapa kau mengatakan semua itu. Aku jadi tak nafsu makan" keluh Hasna.


Mata Fajri membelalak karena terkejut, tapi kemudian tersenyum.


"Kenapa? Kau sedih karena akan mengajukan gugatan cerai lebih cepat? " sindir Fajri.


"Tidak! " jawab Hasna dengan nada suara yang lemah.


Fajri heran dengan responnya.


"Aku sedang ada pekerjaan" ucap Hasna.


~Akhirnya dia mengatakannya~ ucap Fajri merasa berhasil memancingnya bicara.


"Lalu? " ucap Fajri memancingnya lagi.


"Keanu bilang akan membantu untuk membuka kembali izin ku sebagai pengacara. Dia pasti tidak akan setuju dengan hal itu. Dia akan marah dan menolak bantuan Keanu, merasa menjadi suami bagi ku" keluh Hasna.


Fajri kesal mendengar kelanjutan ucapan nya. Dia yang sekarang memukul meja dan meninggikan nada suaranya.


"Aishhhh, apa bagusnya dia membantu mu membuka izin profesi mu. Itu namanya curang, kau tahu itu kan? "


Hasna menganga, kemudian tersenyum tak percaya dengan reaksi Fajri yang tak mendukungnya.


"Kau tak mendukung aku kembali menjadi pengacara? " tanya Hasna membalas dengan nada tinggi.


"Tidaaaaak, bukan begitu... aku"


"Kau tidak suka aku kembali menjadi pengacara dan menghalangi semua pekerjaan mu. Menggagalkan semua pekerjaan mu, ikut campur dan membuatnya menjadi terlihat kau tidak becus menanganginya! " Hasna mengungkapkan semua hal yang tak pernah Fajri pikirkan.


Hasna pun sedikit menyesal karena sudah mengatakannya. Fajri terdiam dan mengalihkan pandangannya, dia mencoba tak melawan Hasna. Seperti biasanya.


Akhirnya hanya canggung yang terjadi diantara mereka saat itu. Terlebih lagi semua orang menatap mereka karena pertengkaran itu.