My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
14



Fajri dipanggil atasannya. Beno dan dirinya menghadap, namun Beno diminta untuk kembali dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


"Aku ingin membahas kasus pembunuhan wanita itu. Aku dengar kau membandingkannya dengan kasus sepuluh tahun yang lalu. Siapa yang dulu menangani kasus itu?" tanya Komandan Rahmat.


"Pak Agung, Pak! Ayah saya!" jawab Fajri.


"Kau sudah mendiskusikannya?" tanya Pak Rahmat.


"Belum sempat Pak, kami menyelidiki juga kasus longsor kemarin. Ada kejanggalan dari longsor itu,..." Fajri belum selesai.


"Tangani dulu kasus pembunuhan ini, itu hanya longsor biasa. Berikan laporan kerjasama bersama Pak Agung besok" perintah Pak Rahmat.


"Siap Pak!" jawab Fajri.


Dia keluar dengan tetap berpikir bahwa longsor itu adalah kesengajaan. Dia akan tetap menyelidikinya sambil menangani kasus pembunuhan itu.


"Kau akan menemui ayah mu lagi?" tanya Beno yang datang tiba-tiba.


Fajri menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia menatap wajah Beno kemudian memukul kepalanya.


"Hei...! Sakit!" ucap Beno.


"Lain kali jangan bicara tiba-tiba!" ucap Fajri.


"Kau terkejut?" tanya Beno menertawakan.


"Ini perintah!" ucap Fajri.


"Siap Pak!" jawab Beno.


"Ikut aku ke rumah ayahku" ucap Fajri.


"Siap Pak!" jawab Beno.


Saat mereka keluar dari kantor pusat, Beno menyusul langkah Fajri dan bertanya dengan wajah penasarannya.


"Apa kita akan mengajak pengacara cantik itu?" tanya Beno.


Fajri kembali menatap wajah Beno yang sangat ingin Hasna ikut.


"Tidak, kali ini dia tak ikut" jawab Fajri.


"Kenapa? apa dia sedang sibuk?" Beno kecewa.


"Aku tidak mau dia dekat-dekat dengan mu" jawab Fajri.


Dia menyalakan mobil dan melaju dengan cepat.


***


Hasna sedang berada di rumah Agung sejak pagi. Ayah angkatnya itu sedang tidak enak badan dan tak bisa masuk untuk bekerja. Pagi buta Hasna pergi memakai mobilnya. Dia memasak bubur untuk ayah angkatnya.


"Sudah siap!" ucap Hasna.


Dia membawakan semangkuk bubur ke ruang tengah. Agung berbaring di sofa di depan TV.


"Hehe, aku tidak tahu enak atau tidak. Ini kali pertama aku memasak bubur Yah" ucap Hasna.


"Sini, biar ayah cicipi" pinta Agung.


Meniup perlahan dan mulai makan dan menghabiskannya tanpa berkomentar. Hasna yang sedang mencuci piring tak melihatnya. Dia hanya terus bicara.


"Ayah harus banyak makan sayur dan buah. Aku akan belanja dan menaruhnya di lemari es. Ouh ya, apa Fajri tahu ayah sakit?" tanya Hasna.


Matanya membulat saat melihat mangkuk bubur sudah kosong. Dia membawanya ke dapur.


"Kurasa tidak" jawab Agung.


"Apa kalian belum membicarakan kasus itu lagi?" tanya Hasna.


"Kau masih ingin memecahkannya?" tanya Agung dengan pandangan kosong ke depan.


"Tentu saja, ternyata bukan hanya aku yang jadi korban. Ayah sendiri lihat bagaimana dia begitu kejam memperlakukan mereka dengan keji" ucap Hasna dengan menggosok mangkuk dengan keras.


"Aku masih terluka ayah, rasanya masih kemarin aku merasakan sakitnya, sakit dia sentuh dan sakit kehilangan kedua orang tuaku" ucap Hasna.


"Aku...." Agung belum selesai bicara.


"Aku akan membeli buah-buahan sebentar, aku akan cepat kembali" ucap Hasna menyela dan keluar setelah mencuci piring.


Agung diam terpaku menatap TV yang menyala. Pikirannya sangat mengkhawatirkan Hasna. Dia takut sesuatu terjadi padanya jika dia mengungkap hal itu lagi.


***


Hasna masuk ke swalayan dan memilah buah-buahan. Dengan perlahan memasukkan buah yang dipilihnya ke keranjang.


Seorang pria paruh baya memperhatikannya. Dia berdiri di stand makanan ringan yang tak jauh dari konter buah-buahan.


Seorang pegawai memperhatikan pria itu memandangi tubuh Hasna yang hanya memakai kaus tipis dan celana jeans. Kemudian dia mendekati Hasna dan memperingatkannya.


"Pria tua bangka itu menatap dengan tak sopan. Apa kau tidak pakai jaket?" tanyanya.


Hasna hendak berbalik dan melihat pria itu. Namun pegawai itu bilang untuk tak melihatnya karena dia mendekat. Hasna tak bisa diam saja, dia berbalik dan hendak memarahi pria yang pegawai itu maksud.


Namun saat dia berbalik, Hasna malah gugup dan menjatuhkan keranjang belanjanya. Nafasnya sesak saat dia melihat wajah pria itu. Perlahan Hasna mundur dan lemas seolah kehilangan keseimbangan.


Pria itu langsung menuju kasir dan membuat pegawai sibuk tak memperhatikan Hasna yang gemetar.


Hasna mencoba mengendalikan diri. Dia mengatur nafasnya. Setelah pria tua itu pergi, barulah pegawai itu melihatnya yang terduduk lemas.


"Ada apa dengan mu? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali!" ucap pegawai itu.


Swalayan itu berada di pinggir jalan jalur luar kota. Tak banyak kendaraan yang lewat, hanya kendaraan dari luar kota yang hendak masuk ke kota itu yang lewat.


Pegawai itu berusaha memberhentikan mobil untuk meminta tolong. Sebuah mobil berhasil berhenti dan itu Fajri dan Beno.


"Tolong, seorang wanita terkulai lemas di toko ku" ucapnya.


Fajri keluar, disusul Beno. Mereka mengikuti pegawai yang menunjukkan keberadaan wanita yang dimaksud.


Fajri terkejut karena yang dimaksud adalah Hasna. Sebelum Beno melihat siapa dia, Fajri sudah berteriak padanya.


"AMBIL INHALER ASMA DI TAS KU!"


Beno lansung berbalik dan kembali ke mobil mengambil tasnya. Fajri yang memeluk Hasna dari belakang langsung membantunya duduk dan mengatur nafas.


"Ini aku, atur nafas mu. Kendalikan dirimu!" ucap Fajri cemas.


Beno datang dan terkejut karena wanita itu adalah Hasna. Dia langsung membuka tas dan mencari inhalernya.


"Ini!" Beno menemukannya.


Fajri membantu Hasna memakai inhalernya dan membantunya mengatur nafas.


"Hirup, lepas, lagi!" ucap Fajri.


Hasna membaik, dia mulai tenang. Dia dibawa ke mobilnya dan duduk sementara Fajri dan Beno bertanya apa yang terjadi.


"Aku tidak mengerti. Tadi dia sedang memilih buah-buahan. Ada seorang pria tua berbadan kekar menatap tubuhnya karena dia memakai kaus tipis, aku memperingatkannya. Tapi dia seperti hendak memarahinya. Saat pria tua itu memintaku menghitung belanjaannya aku pergi ke meja kasir. Setelah itu melihat dia sudah terduduk lemas" jelas pegawai itu panik.


"Sudah tidak apa-apa, dia akan baik-baik saja. Aku pacarnya, aku akan mengantarnya ke rumah" ucap Fajri.


Beno tercengang mendengar Fajri mengatakan itu. Dia berpikir kemudian di dorong Fajri untuk keluar.


"Bagaimana dengan belanjaannya?" tanya pegawai itu.


Fajri menghela, dia kembali dan mengambil belanjaannya dan membayar. Merekapun keluar.


"Kau bawa mobil ikuti aku, biar aku yang bawa mobilnya" ucap Fajri.


"Siap Pak!" jawab Beno.


Fajri masuk ke mobil, dia menatap Hasna yang masih diam menatap kosong ke arah luar. Dia berusaha untuk tak bertanya tentang hal itu, meskipun dia sangat ingin tahu apa pria yang dia lihat itu adalah Bima.


Fajri menyalakan mobil dan menancapkan gas menuju rumah ayahnya.