
Fajri menatap berkas di hadapannya.
"Seseorang tanpa nama mengirimkannya, dia menaruhnya di kotak surat. Pagi ini Udin yang ngasih" ucap Beno.
"Ini semua tentang bisnis prostitusi orang-orang berkelas. Seseorang mengambil keuntungan dari para pengusaha kesepian yang istrinya sibuk dengan bisnis mereka. Orang ini berusaha menunjukkan bagaimana mereka bermain, tapi tidak menunjukkan siapa orangnya"
"Dia saja memberikannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Pasti dia juga hanya ingin menyembunyikan jati diri pelaku" Beno mengambil kesimpulan sendiri.
"Bisnis ini sudah ada sejak jaman dulu, sulit bagi petugas menyentuhnya. Hukum seolah alot dalam menangani kasus ini. Karena beberapa oknum dari orang penting juga terlibat. Aku hanya penasaran, siapa yang kekeh mengirim data ini hingga berkali-kali ke kantor kita"
Fajri menatap ke arah jendela. Beno ikut menatapnya, namun dia merasa aneh karena merasa tak mendapat jawaban saat menatap jendela itu. Dia kembali mengerjakan tugasnya di laptop.
~Siapa dia yang selalu membantuku? Awalnya aku kira dia adalah Hasna. Tapi saat Hasna di rumah sakit pun dia terus mengirimkannya. Dia intens mengirimkannya. Entah itu kasus Wahyudin, hingga kasus prostitusi berkelas ini. Hasna mungkin tak punya waktu untuk melakukan ini semua. Atau ada yang membantunya?~ pikiran Fajri tak bisa fokus.
Dia berusaha memikirkan bagaimana alur semuanya dari awal. Tapi selalu menemukan jalan buntu dan kemudian surat-surat ini memberikannya jalan untuk membuka kasus dan menyelesaikannya.
"Kadang aku merasa aku tak berguna selama menjadi detektif kriminal. Surat-surat ini yang membimbing ku melakukan semuanya" keyakinan Fajri berkurang.
"Tidak juga, kau sudah berusaha keras. Meskipun kasus Dudung terasa sangat mudah di akhir sesi. Seolah semua bukti telah diatur dan merujuk padanya. Berpikir positif, dia membantu tanpa meminta imbalan saja kita sudah sangat beruntung" Beno memberikan semangat.
###
Vino mengambil handuk dan melap seluruh tubuhnya setelah mandi. Dia keluar dan mendapati Hasna baru keluar dari kamarnya. Dia menutupi bagian tubuh di bawah perutnya karena takut Hasna malu menatapnya.
Namun Hasna berlalu menuju dapur dan mengambil segelas air. Dia meneguk segelas air dengan hausnya. Seolah telah berlari jauh. Vino memperhatikannya.
"Kau mimpi buruk lagi?" tanya Vino.
Hasna menghela kemudian menatapnya. Dia mengangguk lalu meneguk lagi sisa air di gelasnya hingga habis.
"Mimpi itu mungkin akan hilang jika kau menceritakannya. Aku bisa mendengarkan mu" ucap Vino.
Dia sangat ingin membantu Hasna mengatasi ketakutannya. Tapi seolah hanya sebuah basa-basi seperti biasanya, Hasna tak menganggapnya serius.
"Ganti di dalam saja, aku mau mandi" ucap Hasna mengalihkan pembicaraan.
"Ok, aku takkan memaksa. Lihat saja nanti, saat kita sudah menikah, aku akan memaksa mu melakukan semuanya. Bahkan dengan cerita mimpi buruk mu"
Vino menggerutu hingga masuk ke kamar, tapi Hasna hanya menatapnya. Dia berjalan ke kamar mandi kemudian membersihkan dirinya, meskipun peluh masih keluar sedikit di kepalanya karena berlari cukup jauh dini hari tadi.
###
Bima meminta anak buahnya memberikan peringatan pada Hasna untuk meninggalkan Vino. Namun anak buahnya yang mengawasi rumah Hasna melaporkan semua yang dia lihat dini hari tadi.
"Apa? Dia pergi ke kantor petugas dan kembali saat masih gelap. Berlari?" tanya Bima.
"Iya Pak, saya mengikutinya. Dia menaruh sebuah koran di kotak surat departemen kriminal. Saya tidak sempat mengambilnya karena salah satu petugas mengetahui keberadaannya. Tapi dia berhasil bersembunyi, saya pun terpaksa bersembunyi Pak" jelas anak buahnya.
Bima menggebrak meja, dia kesal kemudian menutup telponnya.
"Jadi selama ini dia memberikan informasi pada anak Agung itu. Darimana dia mendapatkan semua itu. Siapa anak ini sebenarnya?"
###
Vino menunggunya di mobil, Hasna keluar dengan blazer abu tua dan celana senada. Vino tak bisa memalingkan matanya karena selalu bisa terpesona pada Hasna. Dia tersenyum menyambutnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Hasna tak bereaksi apa-apa. Dia hanya duduk dan memeriksa kembali berkas yang harus dia bawa.
"Kau baru saja masuk, tapi sudah sangat sibuk" keluh Vino.
"Aku harus menyerahkan hasil investigasi petugas pada Frans, aku juga harus menyaksikan persidangan kasus lain. Hari ini akan sibuk" jawab Hasna yang masih memeriksa tasnya.
"Kamu bawa laptop mu ke kantor?" tanya Vino.
Tak biasanya Hasna membawa laptopnya.
"Ouh, kau takut ada yang mencuri lagi. Tempat tinggal mu ini sudah tidak aman. Kau pindah saja ke apartemen ku. Belum ada yang menempati setelah aku pindah ke rumah ayah"
Vino terus bicara sambil menyetir, Hasna memakan sarapan roti lapis buatannya kemudian sesekali menyumpal mulut Vino dengan makanan agar tak banyak bicara. Tapi tetap saja, Vino terus bicara hingga Hasna mencium pipinya untuk pamit keluar dari mobil.
Vino menatap kepergian Hasna, dia masih merasa janggal dengan sikapnya. Meskipun di sisi lain dia sangat senang dengan Hasna yang kini mulai lebih dekat dengannya.
"Apa rahasiamu? Mimpi buruk macam apa yang membuat mu selalu terbangun tengah malam? Sebesar apa rasa sakit yang membuat mu menjadi begitu dingin seperti ini Hasna? Apa rencana mu? Apa menikah dengan ku adalah bagian dari rencana mu?"
Vino menyalakan kembali mobilnya dan pergi.
"Tidak apa-apa Hasna, aku rela menjadi bagian dari rencana mu. Asalkan aku selalu bersama mu" gumam Vino selama perjalanan menuju kantor hukum barunya.
###
Frans meminta Hasna datang ke pengadilan langsung setelah dia menaruh berkas yang dia minta di mejanya.
Hasna langsung pergi, dia sampai di pengadilan tepat waktu. Namun Bima menariknya ke sebuah ruangan sepi dan mencekik lehernya.
Hasna menghela cukup keras karena terkejut. Tubuhnya jelas gemetar dan tak bisa terkendali saat menatap mata Bima. Teringat semua yang sudah dia lakukan pada dirinya. Nafas Hasna tersengal karena lehernya tercekik cukup kuat.
"Aku sudah katakan padamu, tinggalkan kota ini. Kenapa kau malah kembali pada Vino? Apa yang kau rencanakan?"
Bima bicara tepat di depan wajah Hasna yang mulai memerah menahan sakit di lehernya. Tekanan tangan Bima semakin keras dan membuatnya meronta.
Namun alih-alih merasakan sakit di lehernya. Hasna mencoba untuk melawan rasa takutnya pada Bima. Tubuh yang awalnya gemetar dan lemas, mulai bergerak menyentuh tangan dan pinggang Bima. Hasna mencengkram tangan dan pinggang Bima untuk membuatnya melepaskan lehernya.
Bima bertahan, namun kuku panjang Hasna mulai menusuk kulitnya dan membuat luka. Bima melepaskan cekikannya dengan sedikit melempar Hasna.
Hasna terpental ke arah sebuah meja. Suara jatuhnya membuat seorang petugas memeriksa ruangan itu. Dia melihat Hasna terduduk di lantai dengan nafas terengah.
"Apa yang anda lakukan di ruangan ini nona? Ini ruangan saksi" ucapnya sambil membantu Hasna berdiri.
Bima menyelinap keluar saat petugas itu membantu Hasna. Dia berhasil lolos lagi. Hasna menatap kepergiaannya tanpa menunjukkan pada petugas itu. Dia malah menyeringai merasa puas telah bisa mengendalikan ketakutannya. Juga bisa membuat Bima ketakutan dengan tindakannya.