
Vino keluar dari ruangan hukuman, tatapan mata para warga binaan lain tertuju padanya. Wajahnya lebam, pakaiannya kotor, bau kotoran warga binaan lain yang sebelumnya dihukum di ruangan yang sama.
Dani, teman satu selnya memberikan handuk untuknya, seraya menatap dengan iba padanya. Vino mengambilnya dengan cepat dan sedikit marah. Dia benci tatapan iba yang tertuju padanya.
Sementara pria lain menertawakannya. Vino masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Cucuran air dari gayung yang dia pakai membasuh kotoran yang ada di wajahnya. Matanya terpejam kemudian bayangan wajah Hasna di pengadilan, muncul di matanya.
Kali ini Vino tak bisa menahan lagi, dia menangis. Tubuhnya runtuh, terduduk di lantai kamar mandi. Menangis tanpa suara, meratapi nasib yang dia terima saat ini.
Asa yang pernah dia bangun untuk bisa hidup bersama dengan wanita yang sangat dicintainya kini kandas. Dia mulai menyesali perlawanannya di rutan itu.
Dia merindukan Hasna, merindukan senyumannya yang mulai hilang dari wajahnya saat dia melihatnya tadi di pengadilan.
Sekilas, semua kenangan manis bersama Hasna muncul, membuatnya semakin merindukan Hasna dan semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.
***
Di rutan khusus wanita, Hasna duduk di sisi lapangan, menatap warga binaan lain yang sedang olah raga. Selain memikirkan tentang cerita Nunik, dia juga tiba-tiba mengkhawatirkan Vino.
Sekilas dia melihatnya di pengadilan, namun petugas terus menarik tangannya, sampai ke dalam ruang tunggu, hingga dia tak bisa begitu memperhatikan wajah Vino yang terlihat lebam dengan baik.
Maya memberitahu bahwa Vino terlibat perkelahian karena dia tak terima Hasna diejek. Hasna merasa sangat bersalah karena sudah memanfaatkan perasaannya untuk membalas dendam. Kini, semua sudah berakhir, Bima sudah meninggal. Hasna berpikir untuk melepaskan Vino sebagai suaminya.
Tak berapa lama, Maya datang berdiri di dekatnya sambil memperhatikan warga binaan lain.
"Vino sudah keluar dari ruang hukuman, dia baik-baik saja menurut level rasa sakit warga binaan lain. Tapi jika mengingat bagaimana penampilannya dulu sebagai pengacara, dia sangat kacau" ucapnya dengan mata menatap ke arah lain.
"Apa Pak Armand belum datang berkunjung? " tanya Hasna tanpa merespon ucapan Maya.
Maya menatap wajah Hasna.
"Belum, memangnya kenapa? " tanya Maya.
"Aku harus membuat gugatan untuk perceraian ku" ucap Hasna.
Mata Maya membulat mendengar ucapan teman sekolahnya itu.
"Aku baru saja mengatakan bagaimana keadaan Vino yang sudah membela harga dirimu di sel tahanan pria, tapi kau malah mau menggugat cerai dia? "seru Maya.
Beberapa warga binaan juga penjaga menatapnya, karena suaranya cukup lantang.
Hasna menoleh padanya, dia juga mengalihkan pandangannya pada mereka yang sedang menatapnya.
"Suara mu" ucap Hasna mengingatkan.
Maya menghela dengan keras.
"Aku dengar dari Bianca bahwa alasan mu menikahinya hanya untuk balas dendam, tapi aku merasa bahwa ucapannya terlalu berlebihan dan terlalu jahat bagi kau yang ku tahu punya sifat baik. Tapi, ternyata aku salah, kau lebih jahat dari yang Bianca kira"
Tatapan Maya berubah menjadi kesal padanya.
"Ok, ceraikan dia. Aku jadi akan lebih mudah mendekatinya" ucap Maya.
Kemudian dia pergi dan meninggalkan Hasna yang masih menatapnya hingga hilang di balik pintu besi tertutup.
Pandangan mata Hasna beralih pada bola yang mengelinding ke hadapannya. Semua mata warga binaan lain menatapnya dengan heran. Tapi Hasna hanya berdiri dan meninggalkan bola yang ada di hadapannya. Dia masuk ke sel tahanannya sebelum waktu yang ditentukan.
***
Armand memberitahukan berita tentang Hasna yang mengirim pesan padanya tentang keinginannya untuk bercerai, pada Fajri.
"Apa? " tanya Fajri.
Armand sedikit terkejut karena respon Fajri yang suaranya sedikit meninggi.
Jelas pertanyaannya tidak untuk dijawab Armand, tapi tetap saja dia berkomentar.
"Entahlah, kurasa Hasna justru merasa risih mendengar Vino membelanya dengan melakukan perlawanan di rutan" ucap Armand.
"Tapi seharusnya dia mengerti bahwa Vino sangat mencintainya, kenapa malah menggugat cerai? " ucap Bianca yang datang membawakan minum untuk Fajri.
Mata Armand dan Fajri tertuju pada Bianca yang protes.
"Kau tahu Hasna tak seperti kita, pemikirannya berbeda dan dia bukan wanita yang mudah ditebak" ucap Armand.
"Ya, kau tahu segalanya tentang dia. Dia pengacara idola mu kan! " seru Bianca kesal.
Fajri menganga melihat pertengkaran mereka.
"Kau cemburu pada Hasna? Hah, yang benar saja! " ucap Armand mengejek istrinya.
"Kau tahu bukan cemburu, aku lebih menitik beratkan sikapnya pada Vino dibandingkan tentang pembelaan mu untuknya" Bianca mulai kesal lagi.
"Sayaaang, jangan seperti itu padanya" ucap Armand sambil mengusap lengan Bianca.
"Menikahinya dengan alasan balas dendam saja sudah sangat jahat, sekarang dia akan mengajukan gugatan saat Vino terpuruk. Ditinggal mati ayahnya dan dipenjara bersamaan dengan istrinya. Jika kau jadi dia, apa kau akan menerima hal itu dari ku? " Bianca terbawa perasaan dan mulai menangis.
Armand menganga tak percaya diberikan perbandingan seperti itu.
"Saayaaaang! "Armand membujuknya agar tak marah.
Sementara Fajri terdiam mendengar ucapan Bianca. Dia jadi memikirkan bagaimana perasaan Vino jika mendengar kabar tentang niat Hasna.
~Dia akan hancur, keyakinannya akan pecah belah seperti kaca yang pecah~ ucap hati Fajri.
"Aku sangat tahu bagaimana Vino sangat berusaha mengambil hati Hasna yang dingin sedingin salju, dia sangat mendambakan resepsi yang selalu Hasna janjikan padanya. Hasna keterlaluan, aku harus ikut menemuinya" ucap Bianca dengan menghapus air mata yang menetes ke pipinya.
"Tidak usah, kau di rumah saja" pinta Armand.
"AKU IKUT! " Bianca berteriak.
Fajri dan Armand menganga menatapnya.
"Iya, kau ikut" ucap Fajri.
"Kau ini, jangan langsung setuju padanya" keluh Armand pada Fajri.
"Kau mau dia mengamuk pada kita? " tatapan Fajri menggambarkan bagaimana nantinya jika Bianca memarahi mereka.
Glek...
Armand menatap Bianca yang berjalan mendekati lemari tasnya, bersiap untuk ikut dengan mereka.
"Biarkan saja dia ikut, nanti kau bicara saja dengan Hasna di dalam. Biar aku yang menemaninya di luar" bisik Fajri.
Bianca yang mendekat, menatap mereka. Armand dan Fajri mengubah raut wajahnya agar Bianca tak curiga dengan rencana mereka.
Bianca berjalan lebih dulu dan duduk di kursi belakang mobil. Tangannya melipat di perut dan menatap mereka dengan sinis.
Fajri dan Armand berusaha membicarakan hal lain, dengan sesekali menatap ke kaca spion. Mata Bianca masih bagaikan laser yang menyorot pada mereka. Mereka pun tak berani memandangnya.
Sampai di rumah tahanan, Bianca turun tanpa mempedulikan Armand dan Fajri yang masih di dalam mobil. Dia berjalan lurus dan langsung menanyakan Hasna pada penjaga rutan.
"Aku ingin bertemu dengan HASNA MAULIDA FADILAH" ucap Bianca dengan penekanan di namanya.
Penjaga itu menatap dengan heran, tapi kemudian memberitahukan pada penjaga di dalam untuk kunjungan Hasna.