
Fajri berdiri di depan kantor Hasna, hendak masuk namun ragu dan hanya menatap gagang pintu kaca kantor itu.
Tiba-tiba mobil Vino parkir di dekatnya, Fajri menatapnya hingga Vino keluar dan membukakan pintu untuk Hasna.
Mata Fajri membulat, dia terkejut karena ternyata Hasna pergi bersama Vino.
~Lalu wanita yang tadi? Aku yakin itu Hasna, apa Vino juga tahu tentang hal ini? Tapi, dia sangat membela ayahnya. Apa ini? Kenapa aku merasa dipermainkan?~ hati Fajri bertanya-tanya.
Vino merangkul pinggang Hasna dari samping, tapi Hasna melepasnya.
"Kau tidak boleh masuk, Armand nggak suka kamu datang ke kantor" ucap Hasna.
Vino menghela, dia baru saja ingin mengantarkan Hasna ke mejanya dan pergi. Namun Hasna mematahkan niatnya.
"Aku dilarang mengantar mu sampai ke meja kerja, ya sudah, aku minta ciuman di pipi sebagai gantinya" ucap Vino bermanja pada Hasna.
"Nggak ada yang seperti itu, ini di depan kantor!" ucap Hasna mengelak sambil menampar pelan pipi Vino yang mendekat padanya.
Hasna mengalihkan tubuh Vino yang menghalangi langkahnya. Namun dia terhenti saat melihat Fajri berdiri menatap mereka. Vino pun yang berbalik ikut melihat Fajri yang sedari tadi melihat pemandangan mereka yang saling bermanja.
Vino merangkul bahu Hasna dengan sengaja, agar Fajri semakin cemburu. Hasna diam saja meskipun matanya masih menatap memperhatikan mata Fajri yang makin memerah.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada pengacara Hasna" ucap Fajri memecah situasi yang canggung itu.
Vino berdecak.
"Hasna sedang tidak menangani kasus yang dipegang kalian. Apa yang perlu kalian bicarakan?" tanya Vino sambil menghalangi Hasna.
"Masuklah! Kita bicara di dalam" ucap Hasna sambil berjalan melingkari tubuh Vino.
"Tapi sayang!" Vino hendak protes.
"Udah sana pulang, Armand pasti marah kalau lihat kamu" ucap Hasna.
Dia pun menyerah, dia hendak membuka pintu mobil dan masuk, namun menatap kepergian mereka yang masuk ke kantor lamanya itu dan menghilang dari pandangannya.
Masih ada sedikit cemburu di hati Vino untuk Fajri. Meskipun Hasna selalu mengatakan bahwa Fajri sudah seperti kakak kandung baginya. Tapi Fajri menganggap Hasna sebagai wanita. Dan setiap tatapannya sangat dalam dan penuh perasaan pada Hasna.
"Hufhh, aku tidak bisa tidak cemburu pada Fajri, dia akan selalu dekat dengannya. Aku harus segera menikahi Hasna, kalau tidak, dia akan tetap merasa punya hak dan kesempatan untuk terus mendekati Hasna" Vino bicara pada dirinya sendiri setelah masuk ke mobil.
##
Hasna meletakkan tas kertas besar di kiri bawah meja, seperti sengaja dia sembunyikan dari Fajri yang duduk di sebelah kanannya. Mata detektif Fajri jeli, dia melihat warna dari kain yang ada di dalam tas kertas itu adalah merah marun, sama dengan pakaian yang dia lihat di hotel tadi.
"Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Hasna sambil merapikan posisi duduknya.
"Hotel M, aku melihat mu di sana siang ini. Beberapa jam yang lalu. Sedang apa kamu disana?" tanya Fajri langsung tanpa basa basi.
Hasna menelan salivanya, dia melirik ke sisi lain ruangan dan seolah berpikir.
~Dia sudah ada di sana? Kapan? Kenapa aku tak melihatnya?~ tanya hati Hasna.
"Kau tidak melihat ku dan Beno karena kami menyamar. Aku hanya ingin tahu, sekeras itu kah kamu mencoba menjatuhkannya? Apa sedikitpun kamu nggak mikirin bagaimana jika pria jepang itu melakukan hal... " Fajri tak mampu melanjutkan ucapan dan bayangan yang mengerikan yang dia pikirkan.
"Aku tidak kemana-mana, aku pergi bersama Vino. Sepulang dari pengadilan, aku dijemput Vino" jawab Hasna berbohong setelah dia mengerti kekhawatiran Fajri padanya.
"Aku terlalu khawatir, setelah kehilangan ayah, aku tak ingin kehilangan mu. Aku bisa mati jika itu terjadi..."
Belum selesai Fajri bicara, Hasna sudah meraih tangannya dan menggenggamnya.
Mata Fajri yang merah hendak menangis, menatap wajah Hasna yang menatapnya juga.
"Kenapa, kau selalu ingin mati, selain membunuh "iblis" itu? Kenapa tak pernah memikirkan aku yang selalu ingin kau hidup di sisi ku selamanya. Lupakan dia, pergilah bersamaku, jauh, menjauhinya...."
Mata Hasna meraba seluruh wajah Fajri yang sangat ingin dia peluk saat itu juga. Wajah pria yang selalu mendukung dan melindunginya sejak dia terjatuh sangat dalam, dulu. Dia yang membantunya untuk bangkit kembali.
"Pergilah, kau harus bekerja. Nanti Beno nyariin" ucap Hasna melepaskan tangannya dan kembali membuka laptop yang dia keluarkan dari tasnya.
Fajri menghela, semua ucapannya tak didengar Hasna. Dia malah memintanya pergi. Fajri berdiri hendak pergi. Hasna melirik ke arahnya.
"Lain kali hubungi aku dulu sebelum kau bertindak, aku percaya padamu, apapun, aku akan melakukannya tanpa bertanya lagi alasannya. Aku mohon!" ucap Fajri tanpa berbalik.
Hasna menundukkan pandangannya saat mendengar kata "mohon" dari mulut Fajri.
Fajri pergi, dia keluar setelah membungkukkan sedikit tubuhnya pada Armand yang berdiri di depannya. Yang mungkin sudah sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
"Terimakasih!" gumam Hasna, dengan bening mengembang di kelopak matanya.
Armand memperhatikan Hasna, baru kali ini dia melihat Hasna yang menjadi diam dia hadapan Fajri. Dia pergi ke mejanya tanpa bertanya dan hening pun memeluk ruangan kerja itu.
##
Fajri berjalan menuju kantornya yang tak jauh dari kantor Hasna. Dia berpikir, berharap Hasna mau berbagi lagi dengannya. Dia merasa menyesal karena terus memintanya berhenti membalaskan dendamnya pada Bima Sebastian. Karena hal itu, akhirnya mereka menjadi seolah saling menjauh.
Saat melamun sambil berjalan, tiba-tiba mobil Vino parkir di depannya. Fajri menatapmya dengan malas. Dia tak ingin bicara padanya, terlebih sudah tahu bahwa dia adalah putra Bima Sebastian.
Fajri membulatkan matanya, baru terpikirkan. Mengapa Hasna masih dekat dengannya, bahkan berencana akan menikah dengannya meskipun tahu bahwa Vino adalah putra dari Bima.
Vino mendekat dan berhadapan dengannya.
"Apa yang kamu bicarakan dengannya?" tanya Vino sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jasnya.
Fajri menatap wajahnya, pikirannya masih bertanya-tanya tentang maksud Hasna masih bersamanya.
"Hei, aku bertanya padamu!" suara Vino yang meninggi masih belum bisa membuyarkan pikiran Fajri.
Vino hendak menyentuh Fajri untuk memintanya menjawab. Namun tangan Fajri menahannya.
"Aku hanya membicarakan pekerjaan, tidak ada yang lain. Jangan khawatir!" ucap Fajri.
Fajri melangkah melewatinya.
"Hasna meminta ku menikahinya dengan segera, aku akan melamarnya malam ini. Dan mungkin kami akan menikah secara agama beberapa hari lagi. Soal resepsi..."
"Apa kamu tidak curiga kenapa tiba-tiba dia meminta mu menikahinya? Atau memang kau tidak punya otak!" ucap Fajri.
Vino terdiam mendengar ucapan Fajri yang menurut dia juga ada benarnya.
"Aku tidak akan berpikir lagi jika itu berhubungan dengan Hasna. Seperti mu yang selalu berharap dia bisa menerima perasaan mu. Aku juga akan tetap bersamanya apapun alasanya" jawab Vino setelah dia menepis semua pemikiran tentang Hasna.
Mata Fajri melirik, mendengar ucapan Vino yang begitu setia pada Hasna meskipun dia pernah melawan ayahnya. Mungkin dia juga tak tahu Hasna masih dendam pada ayahnya dan mungkin juga ada niat lain di balik pernikahan mereka.
Fajri berjalan menuju kantornya. Vino menatap kepergian Fajri dengan hati yang kesal berpikir tentang apa yang dikatakan Fajri.
"Tidak, aku harus percaya padanya. Aku harus percaya, jikalau pun ada niat dibalik permintaannya menikah, aku akan mencari tahu setelah kami menikah" ucap Vino pelan terhadap dirinya sendiri.