
Mata Hasna terbuka setelah dia menjalani operasi pengangkatan peluru di lengannya. Dia meraba langit-langit rumah sakit dengan mata yang masih cukup berat untuk dibuka.
Fajri melihatnya dan langsung mendekatinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Fajri.
Vania yang menemani sedari tadi memperhatikan bagaimana Fajri begitu mengkhawatirkan Hasna dan dia cukup merasa cemburu akan hal itu.
Hasna yang masih berusaha untuk sadar sepenuhnya, menatap Fajri yang wajahnya berada di depan wajahnya.
"Panggil dokternya!" perintah Fajri pada Vania.
Mata Vania membulat, dia terkejut karena baru tadi siang dia terlihat sangat membutuhkan dirinya. Sekarang dia memerintah seolah dirinya hanyalah seorang pengikutnya. Dengan kesal, Vania keluar dan memanggil dokter.
" Lihat aku, ini aku Fajri. Kau baik-baik saja kan? "
Fajri berusaha membuat Hasna sadar karena masih terlihat sulit membuka matanya.
Hela nafas Hasna terdengar, matanya melirik ke arah lain, arah datangnya dokter bersama Vania.
"Anda bisa keluar dulu Pak! " pinta Dokter Adrian.
" Tidak, aku di sini saja " jawab Fajri.
Dokter Adrian menatapnya dengan heran, tapi tetap memeriksa Hasna.
"Hai, kau baik-baik saja. Peluru yang mengenai lengan mu sudah diambil. Kau lemah sekali, mungkin karena kondisi mu sebelumnya memang belum baik. Kau pulang sebelum kami memperbolehkannya sebelumnya" jelas dokter Adrian.
" Kapan aku bisa pulang? "
Fajri dan dokter Adrian menatap Hasna dan terheran dengan pertanyaannya yang hanya memikirkan pulang.
"Pelurunya mengenai otot gerak tangan mu, kau harus melakukan banyak terapi. Jadi ku rasa akan membutuhkan waktu yang cukup lama " jelas dokter Adrian.
"Kenapa ingin cepat pulang? Kau harus benar-benar pulih dulu, jangan pikirkan apapun" ucap Fajri.
Hasna diam saja tak merespon mereka berdua yang tak menjawab pertanyaannya.
Vania memperhatikan raut wajah Hasna yang memperlihatkan ketidaknyamanannya terhadap kehadiran mereka.
"Jika sudah selesai biarkan dia sendiri, dia terlihat tidak nyaman ada kalian berdua di sini" ucap Vania.
Dokter Adrian menatap Vania, sementara Fajri memejamkan matanya merasa ucapan Vania sangat ketus di telinganya.
Hasna memejamkan matanya tak mau mendengarkan pembicaraan mereka. Vania benar, keberadaan mereka sangat mengganggu.
Dokter Adrian dan Fajri keluar.
"Dengar, aku sudah bilang saat dia pingsan di pengadilan, dia harus istirahat. Hari itu bahkan aku tidak tahu kalau dia pergi sendiri tanpa mu. Dia sangat lemah dan perlu di rawat. Sekarang usahakan agar di tetap tinggal. Awasi langsung oleh mu. Aku takut dia semakin drop dan semakin lemah"
Fajri fokus menatap dokter Adrian dan mendengarkan dengan seksama. Namun dia tak bisa lupa dengan pengakuan Hasna tentang hari itu. Hari kelam kedua kalinyakalinya yang terjadu.
Vania melihat ekspresi wajah Fajri yang langsung diam.
"Pokoknya jangan sampai lemah, ok?" usap dokter Adrian memastikan Fajri mendengarkan.
Fajri mengangguk, dokter Adrian pergi setelah memastikan Fajri mengerti.
Fajri menatap kepergian dokter Adrian. Vania mendekat sambil ikut menatap punggung dokter Adrian.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Anda begitu khawatir, padahal di hanya terkena luk tembak di lengan" ucap Vania.
Fajri menatap Vania, kemudian duduk dengan lemas.
"Ada luka yang sangat dalam sejak lama, tak pernah sembuh dan kini terbuka dan terulang kembali. Jika kau jadi Hasna mungkin kau takkan pernah mau untuk hidup lagi"
Vania tak mengerti dengan ucapan Fajri. Dia sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Yang dia tahu, Hasna sudah berhasil membuat Bima masuk penjara tapi kejadian penembakan membuat Bima lolos dan mati tanpa dihukum. Anggapan Vania, Hasna hanya merasa sedih karena yang melakukan penembakan adalah suaminya.
**
Vino diam menatap dinding penjara di dalam kantor Beno. Pikirannya melayang memikirkan Hasna yang sedang ada di rumah sakit. Kekhawatirannya tak bisa dia sembunyikan dari raut wajahnya. Beno memperhatikan dan berinisiatif untuk menelpon Vania menanyakan keadaan Hasna.
"Ya aku tahu" jawab Vania datar.
"Bisa kau perlihatkan bagaimana keadaan Hasna sekarang? " tanya Beno.
"Ok" jawab Vania dengan mudah.
Dia mengalihkan telpon ke video call. Dia memperlihatkan Hasna yang diam menatap dinding rumah sakit dengan matanya yang sembab. Sangat menggambarkan kesedihan hatinya.
Vino melihatnya, dia sadar sudah membuat Hasna terluka, entah itu fisik maupun hatinya.
Beno mengangkat alisnya menatap reaksi Vino yang menangis menatap Hasna. Dia merasa sangat beruntung telah mengenal wanita seperti Hasna. Selain memang baik, dia juga mau membantu orang lain. Tak heran jika Fajri dan Vino memperebutkan dia.
Vino mengalihkan pandangannya kemudian mengusap air matanya. Beno menutup telponnya kemudian meninggalkannya sendiri di selnya.
**
Fajri masuk ke kamar rawat Hasna dan mendapati nya masih diam menatap dinding di hadapannya.
"Apa yang kamu pikirkan sampai terus diam menatap dinding seperti itu?, kau tahu kalau itu sangat membuat ku khawatir" ucap Fajri sambil merapikan bantalnya.
"Pulanglah!"
Fajri menatap Hasna yang baru bicara sejak tadi dan hanya memintanya untuk pulang.
"Tidak mau, kali ini terserah aku. Jika kamu mau terus melarang ku datang atau menginap, aku akan tetap tinggal di sisi mu"
Fajri berbaring dan membuat dirinya nyaman di sofa dekat ranjang Hasna. Dia takkan pergi, dia akan selalu bersama Hasna mulai sekarang. Hasna tak perduli, dia tetap diam dan memandang langit-langit kamar rumah sakit itu.
"Berhenti menatap seperti itu pada dindingnya. Tidur dan istirahat, bukankah kau mau cepat pulang? "
Fajri berusaha membujuknya.
**
Seorang pria datang ke kantor Beno saat dia sedang keluar untuk mencari kopi panas. Pria bertopi dan berhasil hitam itu menatap Vino yang tidur memeluk lutut di dalam sel.
Cukup lama pria itu di sana, hingga dia pergi dan Beno pun tak sadar akan kedatangan juga kepergiannya.
Vino terbangun, dia menatap Beno yang sedang duduk menyeruput kopinya.
"Tadi kau keluar? " tanya Vino.
"Hmm, iya" jawab Beno sambil mengunyah makanan.
"Lalu siapa orang yang tadi berdiri lama di sini? " tanya Vino.
Mata Beno membulat mendengar pertanyaan Vino.
"Jangan menakuti ku, di sini tidak pernah ada kisah horor. Aku juga tidak takut"
Beno berusaha membuat Vino yakin dirinya bukan penakut.
"Jelas aku mendengar langkah kakinya dan aku kira itu kau" jelas Vino.
"Hei, kau ini sangat bertekad ya membuatku ketakutan. Itu tidak akan mempengaruhi ku, aku bukan penakut" Beno mulai kesal dengan tingkah Vino.
Beno terus bicara meyakinkan Vino, tapi Vino sendiri hanya diam berpikir.
~Siapa itu? Kenapa dia diam di dekat sel ini? Apa dia sedang memperhatikan ku? ~
"Ouh! "
Beno berseru cukup keras, Vino menoleh padanya.
"Apa mungkin ayah mu menghantui mu karena kau menembaknya, secara, hanya dia yang mati tertembak di kantor ini" ucap Beno seolah mendapatkan ide brilian.
Vino tak meresponnya, pikirannya hanya tertuju pada semua relasi ayahnya yang pernah datang ke rumah.
Beno pergi setelah dia semakin merasa merinding karena ucapan dan pemikirannya sendiri.