My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
75



Beberapa hari setelah itu, barulah Hasna bersiap mendatangi rumah Nunik. Seperti biasa, Hasna tak memberi tahu siapapun tentang apa yang dia kerjakan.


Dia hanya meminta Armand untuk memeriksa berkas hak asuh putri dari Nunik dan mengajukan pengajuan hak asuh ulang diberikan pada ibunya.


Meskipun situasi nya sangat sulit, Armand selalu percaya pada Hasna. Dia mengerjakannya dengan baik.


Hasna sudah berdiri di depan rumah Nunik. Rumah yang seharusnya menjadi hak milik Nunik karena adalah peninggalan kedua orang tuanya. Belakangan Hasna mengetahuinya dari silsilah keluarga mereka.


Hasna mengetuk pintunya, tak ada jawaban. Dia mengetuk kedua kalinya. Masih tak ada jawaban. Tak lama setelah itu, seorang wanita tua menghampiri.


"Bayu membawa Nina yang menangis pergi" ucapnya tiba-tiba.


Hasna terkejut, dia yang sedang menyamar sebagai pengantar paket hampir melepas barang bawaannya.


"Astaga Nyonya, anda membuat saya terkejut!" ucap Hasna.


Tapi wanita tua itu pergi begitu saja tanpa reaksi lain. Hasna terheran, dia mengalihkan pandangannya ke arah dalam rumah Bayu dari lubang yang cukup menganga di pintu pagarnya.


Rumahnya tak terawat, seolah sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Hasna menunggu, dia juga menggali informasi dari seorang teman yang sering mengintai di beberapa tempat para g$rmo menjajakan gadis-gadisnya.


[Tidak, gadis itu tidak ada di sini!]


Hanya jawaban itu yang Hasna dapat. Dia menghela, dari semua tempat yang menjadi markas mereka, tak ada satupun tempat yang mengatakan mereka ke sana.


Lalu Hasna teringat dengan cerita Nunik yang mengatakan bahwa Nina akan dijadikan aktris p@rno. Hasna beranjak dari tempat tunggunya dan hendak pergi ke suatu tempat. Namun dia berpapasan dengan Bayu yang menyeret Nina pulang dengan keadaan sedang menangis histeris.


"SUDAH KU BILANG DIAM!" teriak Bayu di hadapan Hasna pada Nina.


Hasna berjalan lurus saja, dengan perlahan.


"Aku mengatakan padamu turuti semua yang mereka mau, mereka tidak akan membunuh mu! " Bayu terus mengoceh.


Hasna berbalik, kemudian menyapanya.


"Pak Bayu Setianto?" tanya Hasna.


"YA ITU AKU, ADA APA? " Bayu berbalik.


"Ada paket dari rutan kota, dari Bu Nunik Nurdiah" ucap ku membaca.


"Ibu! " seru Nina.


"Masuklah!" Bayu melempar Nina ke dalam.


Matanya memperhatikan Hasna dengan seksama.


"Tolong ditandatangani di sebelah sini! " ucap Hasna bertingkah normal.


Bayu menandatangani dan hendak masuk.


"Pak! " seru Hasna.


"ADA APA LAGI? " Bayu kesal, dia membelalak.


"Maaf, harus difoto" ucap Hasna dengan memasang wajah polos.


"Tidak bisa! " nada suara bayu melemah.


"Setidaknya tangannya saja pun tidak apa Pak, untuk bukti saya ke kantor" paksa Hasna.


Bayu menyerah, dia menyodorkan tangannya yang memegangi paket. Tapi Hasna memotret seluruh tubuhnya.


"Terimakasih Pak, maaf menggangu waktunya" ucap Hasna pamit.


Bayu masuk tanpa menjawab ucapan Hasna. Dia langsung menutup pintu dengan keras. Hasna langsung mengirimkan foto Bayu ke temannya dan meminta menyebarkan pada yang lain agar memberitahu nya jika saja melihatnya di suatu tempat.


Pergerakan mereka cukup cepat, belum sempat Hasna membuka pintu rumahnya, dia sudah mendapat informasi bahwa Bayu baru saja keluar dari sebuah hotel mewah di kota.


Hasna langsung masuk dan memeriksa tempat yang dimaksud. Tak lama kemudian Fajri menelponnya.


"Ya hallo! " jawab Hasna.


"Kau menyelidiki sesuatu? " tanya Fajri datar.


"Tidak! " jawab Hasna singkat.


"Lalu kenapa kau menanyakan pemilik hotel M di kota? " tanya Fajri.


Hasna terdiam sejenak. Dia tidak tahu bahwa teman yang dia tanyakan kepemilikan hotel itu adalah bawahan Fajri.


"Aku mau membeli saham nya" kilah Hasna.


Tangannya masih mengetik mencari semua informasi tamu yang datang hari itu. Dia juga mencari event yang sedang diadakan di sana. Siapa tahu Nunik salah, mengira akan menjadikannya aktris p@rno padahal casting yang lain.


"Kau main saham sekarang, apa kau bisa melakukan nya? " tanya Fajri.


"Belajar, aku pengangguran sekarang, kau tidak ingat? " Hasna mengingatkan.


"Hei, apa kau pikir aku ini bodoh?" Fajri menaikan nada suaranya.


Fajri menghela.


"Aku tahu kau sedang mengerjakan apa" Fajri menebak.


"Apa? " tanya Hasna datar.


"Sebuah kasus prostitusi kan? " Fajri menebak.


"Apa ada yang terjadi di sana? " Hasna malah bertanya.


Dia diam menunggu jawabannya. Fajri yang merasa telah terjebak sendiri, malah menelan salivanya dan tak tahu harus mengatakan apa.


"Apa yang terjadi di sana? " tanya Hasna lagi.


"Tidak, tidak ada yang terjadi. Aku hanya asal menebak" jawab Fajri bersikap bodoh.


Hasna menutup telponnya, dia meretas infromasi kantor Fajri dan melihat berkas kasus yang terjadi beberap hari ini.


Hasna menghela, dia membaca sebuah kasus yang dinamai Venus. Gembong narkoba yang pernah tak sengaja dia bela karena memiliki bayi yang ditinggalkan meninggal oleh istrinya.


"Jadi dia ditangkap di hotel M, tapi kenapa Fajri mengatakan ini kasus prostitusi? Venus hanya berkecimpung di bidang ini. Aku tidak tahu dia merambah bisnis lain" gumam Hasna.


Tak lama kemudian, seseorang menggedor pintu rumahnya.


dorr.. dorr. dorrr. ..


"Hasna! Kau di rumah? " seru Bianca.


Hasna menutup laptonya dan memasukkannya ke laci juga menguncinya bersama berkas yang dia tulis tadi. Dia membuka pintu dan menatap Bianca yang berdiri di depan pintu.


"Masuklah! " ucap Hasna.


Bianca masuk dan meletakkan kotak nasi besar yang dia bawa di atas meja.


"Kau mau kopi atau teh hijau? " tanya Hasna yang berjalan ke pantry nya.


"Aku baru pulang dari rutan, menjenguk Vino" ucap Bianca.


Hasna terdiam sejenak.


"Aku tanya kopi atau teh, kau malah bilang baru dari rutan" keluh Hasna.


"Vino bilang dia langsung menandatangani berkas perceraian kalian" lanjut Bianca.


Hasna berhenti menyiapkan kopi. Dia menatap Bianca yang seolah hanya ingin membahas Vino.


"Dia tidak bilang alasan dia mudah melepas mu. Bukan itu juga yang jadi perhatian ku sekarang. Aku melihat dia jauh lebih berani dan bersikap aneh. Tatapannya seolah menantang semua yang ada di hadapannya. Tapi aku melihat matanya yang kosong dan sangat terluka.... "


"Tidak baik terlalu memperhatikan pria lain saat kau sudah mempunyai suami yang baik dan anak-anak yang menggemaskan. Kau bisa kehilangan semuanya dalam sekejap"


Hasna menyela ucapanya. Bianca diam menelan salivanya.


"Aku khawatir Hasna" jawab Bianca.


"Khawatirkan saja Armand. Ku dengar dia tak pulang beberapa hari ini. Kau tidak mengunjunginya di kantor? " Hasna mendekat dan berdiri sambil melipat tangan di hadapannya.


Bianca tak berani menatap Hasna yang menghela memperhatikan sikapnya.


"Aku ke rutan atas izin Armand" ucap Bianca.


Hasna menatap nya.


"Vino butuh kamu Na, bisa kan kunjungi dia di rutan? " pinta Bianca.


"Bi....! " seru Hasna dengan kesal.


Dia tak ingin Bianca membahas masalah Vino lagi, tapi Hasna berpikir akan menjadi pembicaraan panjang jika dia melawannya sekarang.


"Baiklah, aku akan menemuinya besok. Kau puas? " Hasna kesal.


"Terimakasih! " ucap Bianca,


Dia berdiri dan hendak pergi.


"Tempat makanan mu.... Jangan sampai tertinggal" seru Hasna.


Bianca kembali dan mengambilnya.


"Kau berubah menjadi orang yang menyebalkan, ku harap Armand tak berpikir sama dengan ku" ucap Hasna saat dia mengambil tempat makanannya.


Bianca menunduk dan pergi. Hasna mengusap wajahnya dan duduk di sofa.


Bukan dari Bianca, Hasna sudah lebih dulu tahu keadaan Vino dari Maya yang juga membujuknya untuk mengunjunginya.


Maya bahkan memberitahu secara detil, hingga tentang dia yang kini seolah jadi pemimpin warga binaan lain. Pemimpin dalam tanda kutip besar.


Hasna menatap gelas milik Vino yang selalu dia pakai di sana.