
Hasna mengambil berkas yang Keanu maksud setelah dia pergi. Perlahan membukanya kemudian membacanya.
"Banding Gerald? "
'Ini kasus Venus, Armand melimpahkan nya pada Keanu?' ucap hati Hasna.
Dia merogoh sakunya untuk menelpon Armand. Tak berapa lama, Armand menjawabnya.
"Hai, ada apa? " tanya Armand seolah sedang sibuk.
"Kau melimpahkan kasus Venus pada Keanu?" tanya Hasna langsung.
"Hasna! " seru Armand terkejut.
"Kau tak tahu aku yang menelpon? " tanya Hasna.
"Aku kira Nisa" jawab Armand.
"Jawab aku, kenapa? " tanya Hasna lagi.
Armand tertegun mengingat bagaimana Venus memintanya menangani kasusnya karena berpikir Hasna masih bekerja bersamanya.
'Jadi mereka meminta ku melimpahkan kasus pada Keanu karena Hasna bekerja bersamanya! ' ucap hatinya.
"Aku tidak bisa katakan, tapi sebisa mungkin jangan menyentuhnya" pinta Armand.
"Kenapa? Keanu meminta ku memeriksanya. Bagaimana aku bisa tak menyentuhnya? " ucap Hasna.
"Na, cari alasan agar kau tak membantu Keanu menyelesaikan kasus Venus. Dia hanya ingin bebas, sementara dia masih terkait dalam beberapa kejahatan serius" jelas Armand.
Hasna terdiam, Fajri juga sedang menangani kasus yang berkaitan dengan Venus. Sayangnya dia tak pernah menanyakannya lagi. Tapi Hasna jadi berpikir, mungkin ini yang membuat Fajri bicara hal aneh padanya.
"Na! " seru Armand karena tak mendengar jawabannya.
"Hmmm? " jawab Hasna.
"Jangan ya! " pinta Armand.
"Kenapa? " tanya Hasna sedikit memaksa.
"Kita sudah sepakat untuk tidak membantu para pejabat jahat itu, lagi pula... "
"Pejabat? " seru Hasna menyela ucapannya.
Armand menggigit bibirnya sendiri karena merasa sudah memberikan kode atas apa yang dia sembunyikan.
"Wira? " tanya Hasna lagi.
"Na.... " Armand sulit untuk menjelaskan.
"Jadi benar, semua masih berkaitan dengan Wira. Aku jadi menyesal pernah membantunya dulu" ucap Hasna.
Armand diam saja.
"Tapi kenapa? Aku sama sekali tak mengerti, kenapa aku merasa dia sedang mengincar ku" ucap Hasna.
Glek...
Armand menelan salivanya. Teringat saat dia mendengar pembicaraan Venus dan Wira yang menginginkan Hasna untuk perngorbanan mereka. Armand berusaha untuk selalu melindungi Hasna dengan tidak pernah memberitahu kemana Hasna pindah bekerja. Dia merasa menyesal karena tak bisa melindungi Hasna lagi.
"Kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui" ucap Hasna menduga.
"Na, pokoknya hindari mereka, aku mohon" Armand memelas.
Hasna terdiam, dia terheran dengan sikap Armand yang seolah sangat mengkhawatirkannya.
Di sisi lain, Keanu sedang mendengarkan pembicaraan Hasna di balik pintu ruangannya. Keanu tersenyum kemudian menghuhungi seseorang. Dia pergi dengan melangkah dengan perlahan.
Sementara itu Hasna dan Armand saling diam. Hingga akhirnya Armand bicara.
"Kita bertemu saja, hal ini tak bisa dibicarakan di telpon" pinta Armand.
"Tidak, aku akan langsung menanyakannya pada Pak Wira" jawab Hasna.
"Tidak Hasna, jangan! " Armand panik.
"Kau panik sekali, aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi" ucap Hasna.
"NA....! " Armand berteriak.
Sementara Hasna menutup telponnya. Hasna langsung pergi dari kantornya.
"Wit, kalau bos datang katakan aku ada urusan" ucap Hasna saat melewati meja Wita, sekretaris Keanu.
Wita tak sempat menjawab, dia hanya mendelik karena memang tak begitu suka padanya.
Tak berapa lama, Keanu masuk ke ruangannya dan tak mendapati Hasna di sana. Sontak dia bertanya pada Wita kemana dia pergi.
Keanu langsung menghubungi Armand dan bertanya apa yang mereka bicarakan.
"Hasna pergi, dia mau menemui siapa? " tanya Keanu.
Armand cukup terkejut saat mendengar suara Keanu.
"Dia akan menemui Pak Wira" jawab Armand.
Tanpa pamit, Keanu menutup telponnya dan pergi menyusulnya.
Sayangnya, Hasna sudah naik taksi saat dia keluar dari kantor. Keanu langsung masuk ke mobilnya dan mengikutinya.
Di dalam taksi, Hasna menelpon Wira. Tapi tak diangkatnya. Dia mengirimkan pesan bahwa dia menunggunya di cafe Metro. Hasna menyimpan ponselnya dan meminta supir taksi membawanya ke sana.
Di samping itu, Wira baru melihat ponselnya. Dia tersenyum menatap pesan dari Hasna yang memintanya datang. Tapi raut wajahnya berubah menjadi kesal dan merah padam. Tangannya meremas ponselnya kemudian dia berjalan keluar kantor untuk memenuhi permintaannya.
Wira merogoh ponselnya saat dia masuk ke mobil kemudian menghubungi seseorang.
"Hasna minta untuk bertemu dengan ku, aku ingin kau memanfaatkan momen ini untuk membawanya pergi jauh dari orang-orang yang melindunginya" ucap Wira pada pria diujung telpon.
Segera setelah dia menutup telponnya, dia tancap gas menuju tempat yang diminta Hasna.
***
Armand berusaha menghubungi Fajri, tapi tak diangkatnya. Dia gelisah mendengar suara Keanu yang panik saat mendengar bahwa Hasna ingin menemui Wira.
"Keanu tahu apa yang aku takutkan, dia paham dan langsung pergi. Aku harap dia bisa menyusul Hasna" gumam Armand.
Tak lama kemudian, Nisa, sekretarisnya, datang.
"Pak, ada seseorang yang memaksa untuk bertemu" ucap Nisa.
Armand menghela nafas, dia masih khawatir dengan Hasna, tapi dia tak bisa kemana-mana sesuai dengan keinginannya.
"Ya, katakan aku akan menemuinya di ruangan sebelah" jawab Armand.
Nisa keluar untuk memberitahu tamu itu. Armand menatap ponselnya untuk memastikan Fajri akan menjawabnya atau tidak.
Armand ingin mengirimkan pesan, tapi dia juga tak ingin membuat Fajri semakin panik padahal Keanu sudah mengendalikan semuanya.
"Apa aku hubungi Keanu saja? " muncul ide di benaknya.
Armand langsung menelpon nomor yang tadi menelponnya. Tapi di pun sama tak menjawabnya.
"Astaga, kalian membuatku semakin ketar ketir. Hasna, aahhh, kenapa aku tidak langsung menghubunginya saja! " Armand merasa terlambat berpikir.
Kali ini Hasna menjawabnya.
"Apa? " seru Hasna yang masih menunggu Wira di cafe.
"Kau benar-benar akan menemui Pak Wira?" tanya Armand.
"Hmmm, pesan ku sudah dibaca, tapi dia belum datang" jawab Hasna.
"Na, aku mohon jangan bertemu dengannya" pinta Armand.
"Kenapa? Kau terdengar khawatir, jangan katakan kau juga mengatakannya pada Fajri. Ayolah Pak, tidak semua kegiatan ku harus anda adukan padanya" keluh Hasna.
"Dia bahkan tidak mengangkat telpon ku. Bukan itu, Na, aku hanya tidak mau kau bertemu Pak Wira seperti ini"
"Seperti apa? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya, lagipula aku dan dia punya urusan lain juga" jawab Hasna yang langsung menyela ucapan Hasna.
"Aduh....Na, plissss! " Armand memohon.
Hasna tak menjawabnya karena Wira sudah berdiri di hadapannya.
"Na...! " seru Armand.
"Selamat siang Hasna, apa kabar? " ucap Wira dengan menawarkan jabatan tangannya.
Armand menelan salivanya mendengar Hasna sudah bertemu dengan Wira. Dia menatap ponselnya yang panggilannya di matikan oleh Hasna.
Sementara itu di cafe, Hasna berdiri meraih tangan Wira.
"Siang Pak, cukup baik. Anda pasti tahu kalau saya sudah mulai bekerja sekarang" jawab Hasna.
Wira tersenyum kemudian duduk. Hasna ikut duduk.
"Ya, aku sangat tahu tentang mu. Tapi... ada apa? Kau meminta untuk bertemu secara mendadak seperti ini" tanya Wira berbasa-basi.
"Ya, ucapan dan tindakan mu selaras Pak. Kau seolah sedang mengincar ku. Apa karena aku tidak membantu mu atas permintaan mu yang terakhir? "
Raut wajah Wira berubah.