My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
97



Fajri mendengar semua laporan anak buahnya. Kasus yang dia tangani semakin melebar. Venus pun ikut terlibat dalam semua bisnis jual beli organ tubuh itu.


"Masih harus dilakukan penyelidikan Pak, terutama tentang keterlibatan Venus dalam hal ini" ucap Hadi.


"Dia masih dipenjara, tapi masih aktif dalam melakukan kejahatan. Aku harus melakukan sesuatu" gumam Fajri.


Dia pun pergi ke penjara untuk menemui Vino.


Duduk menunggu cukup lama, Vino baru keluar dan menatap Fajri dengan alis terangkat.


"Ada apa?" tanya Vino seraya duduk.


"Hanya memastikan kau benar-benar akan keluar awal tahun ini" jawab Fajri santai.


"Ya, tentu saja. Semua sudah diatur. Kau tahu sendiri aku meminta bantuan yang ditawarkan Wira padaku" jawab Vino dengan ekspresi penyesalan.


Fajri menunduk saat mendengar nama Wira.


"Apa kalian benar-benar tidak bisa menjebloskan pria tua itu ke penjara? Bukankah dia juga terlibat dalam sekte sesat ini? " Vino memajukan tubuhnya untuk bicara lebih dekat dengan suara pelan.


Fajri hanya bisa diam. Dia juga menyesal sudah menerima bantuan Wira dalam kenaikan pangkat dan fasilitas yang dia pakai sekarang.


"Kau juga mengambil tawarannya. Kita menjadi bagian dari sekte ini? Sialan! " ucap Vino.


"Cukup, sekte ini takkan berpengaruh pada kita. Kita hanya diminta untuk tutup mulut saja bukan? " ucap Fajri.


"Kemarin dia kemari dan meminta ku untuk mengorbankan Hasna dan menyelesaikan pengorbanan yang tertunda selama belasan tahun ini" ucap Vino dengan suara lemah.


"Kau tidak menyetujuinya kan? " tanya Fajri panik.


"Tentu saja tidak" jawab Vino seraya mengalihkan pandangannya.


Fajri tak yakin dengan jawaban Vino.


"Jangan lakukan apa yang akan membuat mu menyesal seumur hidup" ucap Fajri.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Kau tahu aku sangat mencintainya. Aku akan melakukan apapun agar dia terhindar dari sekte biadab itu" ucap Vino dengan mata menatap mata Fajri.


Fajri mengalihkan pandangannya, dia masih belum yakin dengan ucapan Vino.


"Aku kemari juga untuk menanyakan tentang Venus. Apa dia juga mengambil kekuasaan dan keleluasaan di sini? " tanya Fajri.


"Venus? Pria sombong itu? " tanya Vino.


Fajri mengerutkan dahinya.


"Aku tidak tahu jika dia sesombong itu hingga kau begitu tak suka membicarakannya"


"Tingkah nya terlihat biasa saja, dia sering mendapatkan kunjungan dari pengacaranya, selain itu aku tidak memperhatikan apapun lagi"


Vino menjelaskan apa yang dia tahu. Fajri menghela, dia harus menyelidiki lagi tentang Venus.


"Coba tanyakan pada Maya, dia sering menguping pembicaraan semua orang-orang penting yang mendapatkan kunjungan yang membuatnya penasaran"


"Maya? "


"Ya! "


"Maya teman sekelas kalian sewaktu SMA? " Fajri memastikan.


"Ya, dia"


"Wanita yang menyukai mu hingga sekarang?"


"Apa? Menyukai ku? "


"Ya, berberapa kali dia datang ke rumah Hasna. Kadang memintanya untuk melepas mu, kadang memintanya untuk tak melepas mu. Dia sering membentak Hasna dalam keadaan mabuk, bicara tak menentu"


"Maya, dia begitu? Lalu Hasna bagaimana? "


"Untungnya dia tahu sifat setiap temannya, dia hanya memaklumi dan tetap pada pendiriannya"


Vino diam sejenak.


"Baiklah, aku pergi" pamit Fajri.


"Jadi Hasna tetap akan menceraikan ku? " ucap Vino saat Fajri berbalik.


"Tidak tahu, bujuklah dia dengan baik. Rayu dengan segenap kemampuan mu. Aku pergi!"


Fajri meninggalkannya dalam keadaan diam berpikir tentang apa keputusan yang akan Hasna ambil untuk pernikahan mereka.


Fajri berdiri menatap Maya yang sedang memeriksa daftar kunjungan. Perlahan dia maju dan melihat apa yang sedang dia perhatikan.


"Siapa yang Venus temui? " tanyanya.


Suara Fajri yang sudah ada di dekatnya, membuat Maya terperanjat.


"Astaga! " serunya.


Fajri membulatkan matanya, tak menyangka reaksi Maya akan terkejut seperti itu.


"Kau membuatku terkejut. Sejak kapan kau di situ? " tanya Maya sembari mengusap dadanya.


"Baru saja, aku baru bertemu Vino tadi" jawab Fajri seraya membuka halaman buku dimeja Maya.


"Vino akan keluar beberapa minggu lagi. Kau mau memastikan dia keluar atau kembali ke Hasna? " tanya Maya.


"Dua duanya, dia harus kembali. Hasna harus ada yang melindungi" jawab Fajri santai.


Maya menelan salivanya.


"Apa yang sedang Venus kerjakan? Kau tahu itu kan? " tanya Fajri.


"Aku tahu, tahu banyak. Memangnya ada apalagi dengannya? " tanya Maya dengan melipat tangan di dadanya.


"Aku sedang menyelidiki kasus penjualan organ tubuh. Beberapa kasus pembunuhan anak tanpa identitas muncul dan membuat kami menggila"


Maya mendengarkan dengan seksama, dia juga membandingkan dengan kegiatan Venus yang dia curiagi juga beberapa minggu ini.


"Anak-anak itu adalah anak-anak panti asuhan yang terlantar. Sulit bagi kami menyelidiki ini karena mereka mengambil dari panti asuhan yang cukup banyak dan sulit dilacak" jelas Fajri.


"Apa imbalannya untukku? " tanya Maya.


Fajri menatapnya, dia berpikir sejenak.


'Maya bukan tipikal orang yang mengambil keuntungan dari sebuah kasus. Dia menjebakku atau memang mencoba membuat sebuah kesepakatan? ' tanya hati Fajri.


"Aku muak dengan kesulitan keuangan yang aku alami. Kali ini aku mau imbalan atas apa yang aku tahu" ucap Maya.


"Untung kau mengatakan ini padaku, aku akan memberikan apapun yang kamu mau" jawab Fajri.


'Untung? Memangnya kenapa jika aku memintanya dari orang lain? ' tanya hati Maya.


"Seratus juta? " tawaran Maya sudah dimulai.


"Tergantung informasi yang kamu berikan. Aku bisa memberikan lebih dari itu" Fajri menantangnya.


"Yang benar saja, kau bukan tipe petugas yang cukup punya uang sebanyak itu" Maya merendahkan nya.


Fajri menyeringai.


"Kau belum tahu saja siapa aku" ucap Fajri.


"Fajri Megantara, putra Agung, Agung siapa ya, aku tidak mengulik tentang ayah mu. Terlalu jauh" ucap Maya mengejeknya.


Fajri menatapnya dengan kesal, dia mengalihkan pandangannya dan juga membuat pembicaraan nya tak sia-sia.


"Apa yang bisa aku dapat untuk harga 100 juta itu? " tanya Fajri.


"Wahh, aku suka gaya mu" ucap Maya.


"Cepatlah, ini tempat kerja mu. Banyak dinding yang punya telinga di sini. Jangan sampai kamu terlaporkan sebelum menerima uang dari ku" ucap Fajri.


"Tidak, aku tidak tahu apapun tentang Venus. Dia hanya membicarakan tentang usaha semua pengacara untuk membebaskannya lebih cepat seperti yang dilakukan Vino. Selebihnya, mereka hanya membicarakan tentang bisnis hotel dan tempat hiburan" jelas Maya.


Fajri terdiam, dia kira akan mendapatkan banyak informasi tentang Venus dari Maya.


"Kenapa? Informasi dari ku tidak sesuai dengan yang kau harapkan? " tanya Maya.


"Jelas bukan itu yang ku cari. Aku sudah bilang, ini tentang kasus penjualan organ tubuh. Aku mau informasi itu. Tapi sepertinya Venus sudah memberi mu lebih dari tawaran ku" Fajri menutup berkas yang dia buka dan hendak pergi.


"Ada seseorang yang datang, tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan" ucap Maya.


Langkah kaki Fajri terhenti dan berbalik padanya.


"Wira, pria tak tersentuh. Aku memanggilnya seperti itu karena memang dia tak pernah tersentuh hukum meski dia banyak terlibat beberapa kasus aneh" jelas Maya seraya duduk.


Fajri melihat raut wajah Maya yang memang seolah kesal dengan Wira. Dia pun sama, ingin rasanya membeberkan semua tindakan Wira yang acap kali dia pergoki terlibat dalam beberapa kasus. Tapi Farji terlanjur sudah menerima semua tawaran menggiurkan nya.