My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
47



Seorang pria datang ke kantor hukum tempat Vino bekerja. Dia mengadu pada Brian bahwa Hasna sudah melakukan kecurangan dalam kasusnya. Vino yang tak sengaja mendengarkan nama istrinya disebut dan dihina, membuka pintu ingin mengetahui siapa yang sudah mengatakannya.


Wajah Vino berubah saat dia melihat itu adalah Rusdiawan Pratama.


~Juragan Garang?~ ucap hati Vino.


Brian dan Rusdi menatap Vino dengan heran karena masuk tanpa mengetuk pintu.


"Vino!" seru Brian.


Rusdi menatap Brian kemudian beralih pada Vino.


"Kebetulan sekali, kasus ini kamu yag tangani. Kasus untuk rival kita. Hasna Maulida Fadilah. Pak Rusdi menyatakan kejanggalan atas kasus yang ditangani oleh Hasna beberapa bulan lalu" jelas Brian.


Tangan Vino mengepal karena kesal mendengar ucapan Brian. Dia kesal karena Brian sudah tahu kalau Hasna sekarang adalah istrinya, tapi tetap ingin menjatuhkannya sebagai pengacara rival mereka.


"Ya, ajukan tuntutan padanya. Aku dipaksa melaporkan anakku sendiri untuk kasus puluhan surat tanah yang sudah menjadi milikku yang dialih namakan menjadi korban longsor itu" jelas Rusdi.


Vino masih diam dan sesekali menghela, dia masih tak bisa menerima ucapan mereka.


"Aku sudah bertanya pada Ryan anakku, dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan Hasna yang tidak lain adalah teman SMP nya dulu. Hasna mengatakan semua pekerjaan ku yang meminjamkan uang dengan jaminan sertifikat tanah. Membuat pemikirannya menjadi pembangkang dan melawan ku. Aku...."


Rusdiawan menjadi sesak setelah banyak bicara, kesehatannya turun naik saat dia mengetahui semua cerita tentang Ryan yang terjebak ucapan Hasna.


"Tarik nafas Pak, jelaskan pelan-pelan. Kami pasti akan bantu tentang masalah ini" ucap Brian.


Tapi Vino jadi berpikir tentang ucapan Pak Rusdi.


~Teman SMP?~ tanya hati Vino.


Tanpa mengatakan apapun, Vino mengambil berkas milik Pak Rusdi dan keluar dari ruangan Brian. Vino langsung menuju penjara untuk menemui Ryan Pratama memastikan apa yang dia dengar.


###


Armand menyimpan rekaman yang dia rekam dari semua pernyataan Dara. Dia merasa puas dengan hasil yang dia dan Hasna dapat hari itu. Meski baru sebagian, mereka merasa sudah selangkah lebih maju dalam memecahkan kasus ini.


"Vino dan Brian masih belum tahu kalau kita menyelidiki ulang kasus Dudung?" tanya Armand.


Hasna terdiam, dia ingat telah mengirimkan video pertemuannya dengan Ryan Pratama, juga Rina. Hal yang akan menyibukkan mereka, sesuatu yang mereka sukai untuk menjatuhkannya.


"Aku rasa mereka sedang sibuk sekarang" jawab Hasna.


"Apa yang membuat mereka sibuk? Selain hanya mengurusi Bima Sebastian, mereka hanya ingin kau jatuh sejatuh jatuhnya" ucap Armand.


Cara bicaranya biasa saja, tapi dia memang sangat memperhatikan teman kerjanya ini. Armand juga baru paham akan sesuatu.


"Ah. . , kau sengaja mengoreksi bisnis Bima dan Takeshi agar mereka sibuk" ucap Armand sambil membulatkan matanya menatap Hasna.


"Astaga, bapak-bapak ini sudah lupa caranya menjaga rahasia pengacara. Kenapa mulutnya lemes sekali" ucap Hasna mengeluhkan sikap Armand.


Armand menggigit bibirnya sendiri karena merasa ucapan Hasna benar.


"Maaf, kali ini, semua yang kamu lakukan entah untuk kasus Bima atau hanya untuk mencapai tujuan mu, membuat aku terbawa perasaan" ucap Armand.


"Apalagi ini?" tanya Armand.


"Anda harus mengatakan tidak mengetahui apa-apa tentang apa yang saya lakukan. Siapapun yang bertanya" ucap Hasna.


"Kenapa? Kau pikir aku takut?" tanya Armand menantang.


"Saya percaya keberanian anda sangat besar, terlihat dari pengalaman anda selama menjadi pengacara. Tapi kali ini, yang saya khawatirkan adalah Bianca dan anak-anak" jelas Hasna.


Armand menatap Hasna dengan membulatkan matanya, kemudian dia berpikir.


"Baiklah, kali ini ucapan mu ada benarnya. Aku akan berhati-hati soal mereka" jawab Armand.


Meskipun pengalaman sebagai pengacara lebih banyak dari Hasna, tapi Armand baru mendapatkan kebahagiaannya setelah menikah dengan Bianca yang jauh lebih muda darinya. Juga baru dikaruniai anak. Dia akan mendengarkan ucapan Hasna, karena dia sangat tahu bagaimana terpuruknya Hasna saat kehilangan Agung ayah angkatnya. Juga saat menunggu kesadaran Fajri saudara angkatnya.


###


Di penjara.


Di hadapan Ryan Pratama, Vino memperkenalkan diri sebagai pengacara ayahnya. Ryan hanya diam menatap dan mendengarkannya, kemudian bertanya di luar apa yang diinginkan Vino.


"Kenapa dengan Hasna, apa dia sangat sibuk sampai tidak mau menjadi pengacara ayah ku lagi, atau dia dipecat ayah karena tidak mendukungnya?" tanya Ryan dengan santainya.


Vino terkejut dengan pertanyaan Ryan.


"Dia...." Vino terbata.


Ryan tersenyum.


"Ini yang menjadi kasus utamanya, ayah mu ingin Hasna bertanggung jawab atas masuknya diri mu ke penjara dan hilangnya semua surat tanahnya" jelas Vino.


Ryan baru menatap Vino dengan dalam, kemudian tertawa.


"Apa dia sudah pikun? Dia sendiri yang menggali lubang hitam dalam hidupnya sebagai rentenir. Kenapa menyalahkan orang lain yang justru menguak semua kejahatannya?" ucap Ryan dengan kesal.


"Dia merasa dijebak karena melaporkan dan memenjarakan mu" lanjut Vino.


"Bagaimana caranya bicara dengan orang tua itu? Dia sangat tidak mau mendengarkan orang lain. Apa dia harus dipukul di kepala agar sedikit paham?" gumam Ryan, namun Vino mendengarnya.


"Ryan, orang tua yang kau sebut itu adalah ayah mu. Bersikaplah sopan padanya" ucap Vino.


"Aku tahu, aku sangat paham. Tapi dia salah, bukan hanya orang tua yang menjelaskan pada anaknya pada saat anaknya salah, tapi anak juga harus menjelaskan bahwa tindakan ayahnya salah. Kita juga punya tanggung jawab itu, dan Tuhan akan mempertanyakan tugas kita itu suatu saat nanti. Dia akan marah jika kita hanya membela dan diam saja saat tahu orang tua kita berbuat salah" ucap Ryan.


Vino tersentak, dia dibungkam oleh ucapan pria dua tahun lebih muda darinya.


"Aku sudah berusaha mengatakannya, bukan karena saat Hasna menceritakan kisah sedih kematian ayahnya. Tapi jauh sebelum dia menceritakannya, aku sudah mengatakan pada ayahku, bahwa semua yang dia lakukan adalah hal buruk yang membuat puluhan keluarga kehilangan kebahagiaannya" jelas Ryan.


Vino lebih tercengang mendengar ucapan Ryan yang sekaligus mengakui pertemuannya dengan Hasna. Dan Vino terkejut, karena Hasna belum pernah menceritakan kisah kedua orang tuanya pada dirinya.


"Aku juga takut kebahagiaan kami hancur. Aku selalu menahan semuanya sendiri, aku dihina karena aku adalah anak seorang rentenir. Mereka hanya berani pada ku dan ibu ku saja. Karena kami diam dan memendam, karena jika ayah tahu, dia akan mengirim Bardin untuk memukuli mereka semua" Ryan terus menceritakan semuanya karena terpancing emosi dari Vino.


Sementara itu, Vino masih diam, dengan semua pertanyaan di benaknya. Semua tentang Hasna yang bertindak di luar profesinya sebagai pengacara. Hal ini akan menjadi boomerang bagi pekerjaannya.