
Jordan dan Melani pamit dari kantor Keanu. Mereka bersalaman, sedangkan Melani memeluk Hasna.
"Lain kali akan ku jambak rambut mu jika ketahuan memeluk suami ku seperti itu lagi" ucap Melani setelah mereka melepas pelukan.
Gelak tawa pun pecah mendengar ucapan Melani.
"Tidak, suami ku lebih tampan dari suami mu" ucap Hasna.
Melani tersenyum.
"Suami ku yang lebih tampan" jawabnya.
"Ya, terserah! " ucap Hasna menyerah.
"Kami pergi, terimakasih" ucap Jordan.
"Bye Hasna, Akan aku ingan selalu, kau menyatukan kami karena masih ada cinta" ucap Melani dengan isyarat tangannya yang membentuk hati.
Senyuman Hasna pudar, tapi mereka pergi dengan senyuman.
"Jadi..... " seru Keanu menoleh padanya.
Hasna mengangkat dahinya bertanya apa maksud ucapannya.
"Kau sudah mengambil keputusan untuk menerima tawaran ku? " tanya Keanu.
"Aku masih belum mendapatkan izin dan.... "
"Jadilah asisten ku! " ucap Keanu memutuskan.
"Apa? "
"Asisten ku, tak perlu izin profesi untuk menjadi asisten ku. Kau juga takkan di rendahkan karena aku putra Marvin Reaves" jelas Keanu sedikit menyombongkan diri.
Keanu menunggu jawabannya. Tapi Hasna tetap bimbang.
~Aku harus menerimanya, kapan lagi ada kesempatan ini. Aku juga bisa membiayai semua kebutuhan anak-anak~ ucap hati Hasna.
"Baiklah, aku menerima tawaran mu Pak Reaves" ucap Hasna memantapkan jawabannya.
Keanu tersenyum sumringah. Jelas itu yang dua mau, yaitu Hasna berada dalam genggamannya.
***
Kamal berusaha dengan keras mengajukan banding atas hukuman yang diterima Vino. Dengan sedikit uang pelancar, dia akhirnya mampu membuat Vino bisa bebas tahun depan.
Vino yang sudah tahu Hasna bekerja di kantor hukum Reaves sebenarnya tak menyetujuinya. Dia tahu Keanu dulu adalah penggemar rahasia Hasna sejak bangku kuliah.
"Kini hanya tinggal menghitung bulan. Aku bisa bebas dan berada lebih dekat dengan cinta ku" gumam Vino.
Tak berapa lama, seorang petugas memanggilnya.
"Hei pengacara! Pimpinan memanggil mu! " serunya seraya membuka sel nya.
"Apa? Ada apa? " tanya Vino.
"Kejutan" ucap petugas itu.
Vino heran dan penasaran. Tapi pikirannya sudah tertuju pada Wira yang pernah bicara dengannya di ruangan itu.
Saat membuka pintu, mata Vino beralih dari kepala lapas menuju ke pria yang duduk di sofa.
Benar saja, Wira ada di sana. Kepala lapas pergi meninggalkan mereka berdua untuk bicara. Vino mengantar kepergiannya seraya membaca gerak bibir kepala lapas.
~Apa? Hati-hati! ~ tanya hati Vino setelah memahami ucapan kepala lapas.
"Duduklah! " pinta Wira.
"Ada apalagi? " tanya Vino dengan malas.
"Perkumpulan menagih janji mu setelah apa yang kau dan ayah mu ambil" ucap Wira.
"Ayahku sudah melakukan semua yang kalian minta. Membunuh satu persatu gadis yang dinodainya" ucap Vino seraya mendelik.
"Tidak semua, dia gagal di dua wanita. Dara dan Hasna" ucap Wira.
Vino geram, dia menarik kerah baju Wira dan hendak melancarkan bogem mentah di wajahnya.
"Lakukan apa yang perkumpulan minta, atau relakan Hasna dan serahkan dia dengan tangan mu sendiri pada perkumpulan? " ucap Wira tanpa rasa takut.
Vino menghela keras, dia mengatur nafasnya agar mampu mengendalikan amarahnya. Dia tak boleh memukul Wira di sana. Jika terjadi, permintaan bandingnya akan dibatalkan.
Vino melepaskan genggaman tangannya.
"Kau bersikap seperti ini karena kehilangan putri mu" ucap Vino berusaha memprovokasinya.
Kali ini Wira yang berubah wajahnya menjadi merah padam. Tangannya mengepal dengan keras, menahan diri dan mengatur nafasnya.
"Ya, ini karena istri mu tak mau membantu ku" ucap Wira seraya memejamkan matanya sejenak.
Vino menghela, dadanya kembang kempis ingin meluapkan semua yang ada dibenaknya Terutama setelah dia mengerti semua yang dilakukan ayahnya hanyalah keterpaksaan.
"Pengabdian. Ya semua itu omong kosong. Seandainya Hasna menerima permintaan ku, mungkin putri ku masih hidup saat ini" Wira menangis.
"Kau menyalahkan Hasna atas semua keserakahan kalian. Dia bahkan tidak tahu ayahnya terlibat semua ini! " Vino melempar semua barang yang ada di meja kepala lapas.
Kepala lapas mendengar keributan itu. Dia dan anak buahnya membuka pintu dan melihat Vino sedang menatap tajam pada Wira.
"Kendalikan diri mu" ucap kepala lapas pada Vino.
Kemudian matanya beralih pada Wira.
"Sebaiknya anda keluar Pak! " ucap Kepala Lapas dengan hormat.
Wira pergi meninggalkan kebisuan Vino. Petugas menariknya kembali ke sel dan menguncinya sendirian. Teman yang lainnya pun untuk sementara dipindahkan ke sel lain.
***
Fajri memeriksa semua laporan yang dia terima dari hasil investigasi kasus barunya. Kesibukannya membuat dia lupa menanyakan kabar Hasna.
Tatapannya beralih pada ponsel yang sama sekali tak menerima satu pesan pun dari Hasna selama satu minggu ini.
"Apa dia masih menjauhi Vino? " tanya Fajri.
"Tidak, dia sedang sibuk bekerja sekarang" jawab Hadi.
Fajri menoleh padanya.
"Apa? "
"Pengacara Hasna kan? " Hadi menerka dengan percaya diri.
"Wahhh, kau sekarang dekat dengannya?" tanya Fajri sedikit mengabaikannya.
"Tentu saja tidak, aku hanya sering melihatnya mondar-mandir di kantor cabang lain bersama Pengacara Reaves. Kurasa mereka bekerja dalam satu tim. Anda tahu kan Pak, biasanya pengacara berkerja berkelompok seperti itu" jelas Hadi.
"Tidak mungkin, izin profesi Hasna masih dibekukan. Jika dia melanggarnya, izin itu bahkan akan dicabut" Fajri menyangkal.
"Ohhh, bisa saja Pengacara Reaves membantunya. Secara dia adalah pengacara kaya ternama, anak dari pengacara Marvin Reaves yang sangat dikenal banyak orang dan berpengaruh" Hadi menjelaskan.
Fajri menelan salivanya. Matanya menatap ponsel dan meraihnya. Jemarinya mencari kontak nama Hasna dan menekannya.
~Tidak Hasna, kau tidak boleh melakukan itu. Reaves menyukai mu sejak kuliah. Dia mungkin akan menahan mu untuk tetap di sisinya dengan cara apapun~ ucap Fajri.
***
Panggilannya diabaikan oleh Hasna yang sedang mendampingi Keanu rapat. Dia bahkan terlihat terkantuk-kantuk di sudut ruangan.
Keanu tersenyum melihat betapa manisnya Hasna.
"Ok, kita akhiri rapatnya sampai di sini. Lagi pula ini sudah terlalu larut malam" ucap Keanu.
Semua orang pergi, Keanu berdiri di dekat Hasna dan menyentuh bahunya.
"Hei, bangunlah! " seru Keanu.
Hasna membuka matanya dan melihat semua orang sudah tak ada di sana.
"Rapatnya selesai? " tanya Hasna.
"Sudah" jawab Keanu dengan senyum manis dan anggukannya.
"Maafkan aku, aku pasti merasa bosan karena tak biasa hanya duduk diam mendengarkan rapatnya" keluh Hasna.
"Bersabarlah, mungkin sebentar lagi izin profesi mu kembali normal" ucap Keanu seraya berjalan di depannya.
"Apa? " Hasna tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Keanu hanya tersenyum dan melenggang di depannya. Hasna menyusul dengan raut wajah yang penasaran dengan apa yang dikatakannya.
"Kau bercanda kan? Mana mungkin izin ku bisa keluar dengan mudah. Apalagi aku sudah mendapatkan teguran karena bekerja bersama mu" keluh Hasna lagi.
Keanu berhenti dan berbalik padanya.
"Itu mudah bagi ku" ucapnya.
Hasna diam.
"Kau sudah banyak membantu ku memenangkan semua kasus yang aku tangani. Sekarang nilai ku jauh lebih baik dari ayah ku sendiri" ucap Keanu.
Hasna semakin tak mengerti.
"Karena hal itu, aku akan mudah melakukan apapun. Termasuk membuat izin mu keluar lagi"
Hasna semakin diam tak percaya dengan apa yang dia dengar.