
Vino membuka pintu kamar mereka, Hasna masuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Vino duduk di sofa dengan meremas kedua tangannya sendiri.
Suara air mengalir terdegar, tanda Hasna mandi. Vino menatap pintu kamar mandi, dengan sesekali menghela dengan keras.
~Aku akan melepaskan mu, ya, Fajri akan membahagiakan mu. Dia akan menjadi pelindung mu, bukan aku~
Vino terus bicara di dalam hatinya. Hasna keluar dari kamar mandi dan menatap Vino.
"Mandilah! Aku akan siapkan makanan" ucap Hasna.
Vino berdiri dan memegang lengan Hasna yang hendak menggapai pintu.
"Kenapa kembali padaku? Kenapa tidak pergi bersama Fajri tadi?" tanya Vino.
Hasna menatap wajahnya.
"Karena kau suami ku, bukan dia" jawab Hasna santai.
"Sesantai itu kau mengatakan aku suami mu? Aku adalah anak dari penyebab kemalangan mu"
"Kau mau fokus ke arah mana?"
Vino terdiam mendengar pertanyaan Hasna.
"Kau suami ku, atau kau putra Bima Sebastian?"
Mata Vino membulat.
"Aku akan siapkan makanan untuk mu. Kau juga harus minum obat. Wajah mu pucat"
Hasna mengambil sikap untuk tak meneruskan pembicaraan Vino.
"Tapi alasan mu menikah dengan ku hanyalah sebatas untuk membalas dendam mu. Sekarang Bima Sebastian sudah ditangkap dan segera diadili oleh semua tuduhannya. Apalagi yang kau pertahankan dari hubungan ini?"
Vino kembali membahasnya, membuat langkah Hasna terhenti sejenak. Matanya hanya melirik tapi kemudian dia pergi ke dapur.
Vino terdiam, dia terkulai lemas di sofa. Pikirannya masih dihantui rasa tidak percaya diri menjadi suami Hasna.
Sementara Hasna menyiapkan makanan dengan bahan yang ada di lemari es. Pelayan datang karena mendengar suara dari dapur.
"Apa ada yang bisa saya bantu non?" tanyanya.
Hasna yang sedang membuat telur mata sapi menoleh padanya.
"Ya, aku tidak tahu dimana kotak obat. Tolong carikan aspirin untuk Vino. Dia terlihat sangat pusing sejak pulang" pinta Hasna.
Pelayan itu mencari dan memberikannya pada Hasna dengan tatapan yang iba.
Hasna paham dengan tatapan itu. Tatapan yang sama yang Fajri tujukan padanya.
"Makasih ya mba" ucap Hasna.
"Sama-sama non" jawabnya singkat.
Hasna melanjutkan membuat sandwich isi telurnya. Dia menyajikannya di piring dan mengisi gelas dengan susu.
Hasna kembali ke kamar, dia melihat Vino masih diam duduk termenung.
~Tidak Vino, kita tidak boleh berpisah sampai Bima benar-benar mendapatkan ganjarannya. Dia harus merasakan titik terendah dalam hidupnya, hingga dia sangat menginginkan kematian~ ucap hati Hasna.
"Kau belum mandi?" tanya Hasna sambil menaruh piring dan gelas di meja di hadapan Vino.
Vino hanya menatapnya.
"Ya sudah, ganti pakaian saja. Aku akan siapkan handuk hangat untuk membasuh rambut mu"
Hasna berinisiatif.
"Aku akan mandi, kau istirahatlah" ucap Vino sambil berdiri.
Hasna terdiam dan mengantar Vino ke kamar mandi dengan tatapannya.
###
"Aku sudah siapkan makanan dan obat terkahir anda. Makan dan minum vitamin, Pak Rahmat menunggu anda masuk besok" ucap Vania sambil memakai mantelnya.
"Apa saja yang Hasna katakan saat dia menyuruh mu tinggal untuk merawat ku?" tanya Fajri.
Langkah Vania terhenti kemudian berbalik dan menatap Fajri yang tatapannya kosong menatap ke jendela.
"Bu Hasna hanya minta agar saya bisa memastikan anda sembuh dan sehat kembali. Sekarang anda sudah sembuh dan bisa masuk bekerja besok. Banyak hal yang harus di urus, beberapa laporan datang dan butuh penyelidikan. Dan untuk sementara, Beno cuti selama persidangan karena adiknya yang menjadi saksi di persidangan kasus Bima Sebastian"
Vania menjelaskan dengan panjang lebar.
"Apa kau melihat dia begitu peduli karena menyayangi ku?"
Pertanyaan Fajri membuat Vania merasa telah salah menjelaskan masalah perkerjaan.
~Dia hanya peduli dengan pengacara cantik itu~ ucap Vania dalam hatinya.
Hela nafas Vania terdengar keras. Fajri terbangun dari kalutnya dan membenahi posisi duduknya.
"Saya tidak tahu, jujur tidak mau tahu. Saya permisi Pak" ucap Vania.
"Terima kasih Vania" ucap Fajri.
Langkah Vania terhenti sejenak, kemudian pergi meninggalkan Fajri tanpa menjawab.
###
Beno menatap wajah Bima dengan rasa kesal yang menggunung di kepalanya. Teringat dengan semua ucapan Dara yang menangis dalam pelukan Hasna, menceritakan semua malam kelam yang dia alami.
"Kenapa kau tak membunuh adik ku Dara?" tanya Beno.
Rekan kerja Beno menatapnya, mereka cukup terkejut dengan pertanyaan Beno yang menjurus pada urusan pribadi.
Bima sedari tadi menyandarkan kepalanya ke tembok, menoleh dan menatap wajah Beno, kemudian menyeringai. Dia tak menjawab pertanyaan Beno.
"Hari itu, kau mencoba membunuh Nabila, tapi sayang, dia diberkahi umur yang panjang. Dia hidup kembali setelah seorang petugas patroli menemukannya"
Beno terus bicara sambil memperhatikan reaksi Bima dan ingin selalu dia terpancing dan mengakui semua kejahatannya. Tapi sayang, Bima begitu tenang dan santai menatapnya.
"Dulu, sepuluh, ah tidak, sebelas, sebelas tahun yang lalu kau juga melakukan kesalahan yang sama. Korban mu kabur dan berhasil terhindar dari maut yang kau rancang. Dan, hahaha...."
Beno tertawa, jelas menertawakan Bima yang sedang duduk di dalam sel tahanan di kantornya. Rekannya menelan saliva mereka, bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi karena sindiran Beno.
Bima mulai membulatkan matanya lebar-lebar menatap tajam pada Beno.
"Dan dia yang berhasil membuat mu duduk di balik besi-besi ini. Hahahahha!" lanjut Beno semakin keras tertawa.
Bima naik pitam, dia meraih kerah baju Beno yang berdiri dekat dengan dirinya. Semua orang panik dan berusaha melepaskan tangan Bima dari kerah Beno.
Wajah Bima merah padam karena amarahnya atas ucapan Beno. Sementara Beno masih tersungging senyum di sudut bibirnya, menertawakannya.
"Kau dan wanita itu, aku akan pastikan kalian takkan selamat. Lihat saja, apa yang bisa aku perbuat bahkan dibalik jeruji besi ini" seru Bima di hadapan wajah Beno.
"Lepaskan Pak, anda bisa dituntut atas perbuatan mengancam petugas. Terlebih banyak saksinya" ucap pengacara Bima yang baru datang.
"Wahhh, ide bagus!" ucap Beno dalam nafasnya yang terbatas karena genggaman tangan Bima yang besar hampir mencekiknya.
Pengacaranya menghela dengan keras sambil menatap wajah Beno dengan kesal karena berhasil membuat Bima bereaksi sesuai keinginannya.
"Pak, ini akan memberatkan kasus anda. Tolong Pak, setidaknya mudahkan kami untuk meringankan hukuman anda" Pengacara itu berusaha membujuk Bima.
Tak lama kemudian tangan Bima terlepas dan Beno mulai mengambil nafas dalam. Rekan kerja Beno membantu mengambilkan minum dan mengusap punggungnya.
"Kau tidak akan lepas dari hukuman berat Bima Sebastian. Kau pikir apa ada setitik ampunan bagi pria yang melecehkan dan membunuh korban hingga belasan. Itu hanya akan jadi mimpi bagi mu, aku akan memastikannya"
Beno masih saja bicara meski nafasnya tersengal.