
Vino makan siang bersama warga binaan yang lain, dia berbaris dan mendapatkan bagiannya kemudian mencari tempat duduk.
Sudah hampir satu bulan dia tinggal di sana, dia sudah mulai terbiasa dengan kejahilan warga binaan lain yang suka membulinya. Salah satu dari mereka mencegat kakinya agar dia terjatuh dan makan siangnya juga terjatuh, tapi karena dia sudah melihatnya, Vino menghindar dan tetap bisa duduk dan makan dengan nyaman.
Salah satu teman satu selnya tersenyum dan ikut duduk di sisinya.
"Kau mulai terbiasa dengan mereka" ucap Bari.
Vino tak menjawab, dia makan dengan memperhatikan beberapa petugas yang juga sedang mengawasinya.
Selesai makan, mereka diberikan penyuluhan dan siraman rohani di lapangan besar. Dengan duduk bersila, Vino dan teman-temannya memperhatikan pembicara.
"Istri mu juga dipenjara, iya kan? " ucap Chiko.
Chiko adalah warga binaan atas kasus pencurian toko emas, dia bekerja berkelompok, namun hanya dua orang yang berhasil ditangkap dan dipenjara.
Awalnya Vino mengabaikannya, dia diam saja meski Chiko gencar bicara.
"Kalian pasangan yang sangat cocok, suaminya pembunuh, istrinya pel@cur" ucap Chiko.
Jelas dia sangat ingin Vino naik pitam. Dan dia berhasil membuat Vino menarik kerahnya dan mendorongnya jauh dari warga lain.
Semua orang terkejut dengan sikap Vino yang tiba-tiba tak terkendali. Mereka berusaha melerai.
Sementara itu, Chiko tersenyum puas. Vino memejamkan matanya merasa telah terpancing jebakan Chiko.
"Nah begitu dong, marah, tunjukkanlah taring mu" bisik Chiko.
Vino melonggarkan tangannya dan hendak melepaskan Chiko. Tapi Chiko tak membiarkannya melakukn itu, dia mulai memancing amarah Vino lagi.
"Aku jadi penasaran bagaimana rasanya tidur dengan istri mu yang tak pernah kau sentuh"
Vino naik pitam, tinjunya mendarat di wajah sangar Chiko. Berkali-kali hingga Chiko terkapar di lantai. Sesekali di menendang perut Chiko karena kesal dengan ucapannya.
Beberapa petugas nyaris tak bisa menarik Vino yang begitu kuat memegang tangan Chiko yang mulai lemas.
Akhirnya petugas tak punya pilihan, mereka memukul punggung Vino dengan tongkat berkali-kali karena dia masih saja kuat memukuli Chiko.
Hingga pukulan kesekian kalinya, Vino akhirnya tumbang dan pingsan. Semua orang menghela keras karena kelelahan menanganinya.
***
Kabar Vino memukuli warga binaan lin tersebar dan sampai pada Fajri dan Armand yang sedang mendiskusikan sidang Hasna selanjutnya. Mereka sedang di rutan tempat Hasna dipenjara.
"Apa? Bagaimana keadaannya sekarang? " tanya Fajri dari telpon.
Armand menatapnya penasaran.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang" ucap Fajri.
Dia menutup telponnya dan hendak pergi.
"Dia baik-baik saja kan? " tanya Armand.
"Entahlah, mereka bilang dia sulit ditangani hingga harus dipukuli beberapa kali. Sekarang dia tidak sadar" jelas Fajri.
"Kau akan kesana sekarang? " Armand memastikan.
"Ya, dan tolong jangan katakan bahwa Vino berkelahi di rutan pada Hasna, dia bisa khawatir" pinta Fajri pada Armand.
Armand mengangguk, tapi mata Fajri menatap ke arah pintu dimana Hasna sudah berdiri disana dan mendengarkan semuanya. Hasna mengalihkan pandangannya dan duduk di depan Armand.
"Apa lagi yang harus didiskusikan? " tanya Hasna datar.
Glek!
Armand menelan salivanya dan dengan gugup membuka berkas yang akan mereka bahas. Fajri sendiri terheran menatap Hasna yang begitu acuh meski sudah mendengar kabar Vino.
Hasna menerimanya dan membacanya. Fajri masih berdiri menatapnya. Armand jadi menatap Fajri yang tak kunjung pergi.
"Sthhh! " bisik Armand pada Fajri.
Fajri membulatkan matanya menoleh pada Armand.
"Bukannya kau mau pergi? " Armand bicara tanpa suara.
Hasna masih membaca, dia terlihat fokus seolah tak mendengar aksi saling bisik antara Armand dan Fajri.
"Kau baik-baik saja kan? " Fajri malah bertanya dengan nada keras pada Hasna.
Hasna berhenti membaca dan mengalihkan pandangannya ke arah sisi meja. Diafragmanya bergerak memperlihatkan hela nafas yang mengisyaratkan rasa malasnya menjawab pertanyaan Fajri.
"Kau banyak yang menjahili, apa mereka tidak tahu kalau kau pengacara terkenal? " ucap Fajri yang masih berdiri dan malah melipat tangan di dadanya.
"Kau mau pergi kan? Pergilah!" Hasna malah mengusirnya.
"Aishhhh, aku benar-benar bisa gil@ menghadapi wanita ini" keluh Fajri.
Fajri berbalik kemudian pergi, dia tak mau melanjutkan pertengkaran mereka. Terlebih dia sedang terburu-buru agar bisa membantu Vino.
Armand menganga menatap pertengkaran kecil mereka, yang menurutnya cukup menengangkan. Dia mengalihkan pandangannya dari Fajri menuju Hasna yang kembali membaca berkasnya.
"Kau adalah istri dari Vino, tapi aku rasa chemistry kalian lebih besar dibandingkan kau dan Vino" Armand bicara sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
"Aku tidak mau mengatakan semua ini, aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan" ucap Hasna sambil menyerahkan kertasnya.
Armand tersenyum merasa ucapannya diabaikan, tapi dia mengerti, itulah Hasna.
"Lalu apa yang akan kau katakan? " Armand memasukkan kertas kembali ke tasnya.
"Pak.... "
Hasna sedang tidak fokus, terlebih saat dia mendengar bahwa Vino berada di rumah sakit karena dipukuli petugas. Dia menghela dan berusaha mengucapkan apa yang harus dia ucapkan untuk diskusi sidangnya. Namun dia memutuskan untuk menutup pertemuan itu.
"Aku lelah, bisakah kita bicara lain kali? " ucap Hasna.
Armand menatapnya.
"Baiklah" Armand menyerah.
Armand merapikan tasnya dan berdiri hendak pergi. Hasna berdiri juga hendak kembali ke selnya.
"Soal tadi, maaf jika pemikiran ku salah tentang kalian" Armand berbalik dan minta maaf.
Hasna menoleh dan mengangguk. Mereka kembali ke tempat masing-masing.
***
Maya mengantar Hasna, dia mengajaknya bicara selama berada di lorong.
"Kalian mendapatkan kemalangan yang sama" ucap Maya.
"Ya, kau tahu apa alasan dia dipukuli? " tanya Hasna mengetahui Maya tahu tentang informasi rutan pria.
"Chiko menghina mu dan melecehkan mu lewat ucapan. Vino menghajarnya habis-habisan. Chiko mengalami banyak patah tulang di tubuhnya. Vino hanya pingsan, teman ku bilang dia sadar setelah mendapat penanganan di rumah sakit. Dia juga sudah kembali ke ruang tahanan ekstra, mungkin akan dihukum sampai dia menjalani sidang yang akan datang"
Maya bicara dengan cepat dengan suara yang sangat pelan, tapi Hasna mendengarnya dengan jelas.
Hasna dimasukkan kembali ke sel dan bergabung dengan Wulan yang menatap ketakutan padanya. Hasna tidak mau memperdulikannya, dia sedang memikirkan Vino dan hanya ingin melihat keadaannya.
~Aku harap Fajri bisa memberikan bantuan yang kau butuhkan, maafkan aku Vino. Aku adalah alasan terbesar kau menjadi seperti ini. Maafkan aku telah memanfaatkan mu. Aku berjanji akan melepaskan mu dari ikatan ini. Kau akan terbebas dari beban dari ikatan ini~
Hasna menulis sebuah surat, dia membuat dua surat ditulis dengan tangan. Tak berapa lama setelah dia selesai menulis, dia memasukkannya ke sebuah amplop dan meminta penjaga di luar untuk mengirimkannya pada Armand.