
Sepulang kerja, Indhi memutuskan untuk menunggu Ega yang sedang melakukan operasi, wanita itu menunggu di cafe yang tak jauh dari Rumah Sakit. Indhi duduk sambil memainkan laptopnya dengan di temani secangkir latte panas dan sepotong cake cokelat kesukaannya. Meski tak bagus untuk kesehatan, namun Indhi masih menolerirnya dengan menyantap makanan dan minuman manis itu sekali dalam sebulan.
Indhi lalu meraih ponselnya untuk mengabari sang suami jika ia belum pulang.
'Hubby, aku menunggu di cafe sebelah RS.'
Setelah pesannya terkirim, Indhi kembali sibuk dengan laptopnya hanya sekedar memeriksa beberapa email yang masuk.
Namun kegiatannya terhenti saat ia menyadari jika seseorang sedang berdiri di hadapannya dan sedang mengamatinya. Indhi menutup laptopnya dan mengangkat sedikit kepalanya sehingga ia bisa melihat dengan jelas seorang pria yang sedang berdiri sambil menatapnya.
"Ada apa?" tanya Indhi dengan dingin.
"Boleh aku duduk?" tanya pria itu sedikit ragu.
"Tidak," tolak Indhi dengan tegas.
"Sebentar saja. Ada hal yang ingin aku katakan padamu," pintanya lagi setengah memohon, pria yang tak lain adalah Dokter Ilham itu memasang wajah memohon.
"Hanya lima menit!" putus Indhi, sebenarnya ia juga penasaran apa yang akan di bicarakan lagi oleh mantan tunangannya itu.
Setelah mendapat izin, Dokter Ilham segera menarik kursi dan duduk di sana. Ia menatap Indhi yang juga sedang menatapnya, namun dari sorot mata wanita itu, Dokter Ilham bisa melihat dengan jelas adanya kebencian di sana.
"Katakan, waktumu tinggal empat menit!" ujar Indhi seraya memeriksa jam yang melingkar dengan begitu manis di tangannya.
"Maafin aku Ndi. Niat awalku untuk mendekatimu memang salah, namun untuk perasaan cintaku, aku harap kamu tidak meragukan itu. Aku tulus mencintaimu," ucap Dokter Ilham setelah seperkian detik diam dan mempersiapkan kata-katanya.
Indhi tertawa hambar, wanita itu lalu bersandar pada kursi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Ada apa dengan hari ini? Sejak pagi ada saja yang minta maaf padaku dan mengaku salah?" Indhi kembali mengingat saat Dita menunggu di depan ruangannya dan meminta maaf sama seperti yang di lakukan Dokter Ilham saat ini.
Dokter Ilham hanya mengerutkan kening hingga kedua alisnya menyatu karena tidak paham dengan maksud perkataan Indhi. Namun detik berikutnya ia kembali menyampaikan sesuatu yang sangat ingin ia ucapkan sejak dulu. "Aku benar-benar mencintaimu Ndi."
Indhi menghentikan tawa hambarnya, wanita itu menatap tajam pria yang duduk di hadapannya. "Cinta? Haha, kamu pikir aku akan percaya lagi kepadamu setelah apa yang kamu lakukan kepadaku. Dengar Dokter Ilham, kau tau kenapa aku begitu membencimu dan membenci diriku sendiri?"
Dokter Ilham hanya menggeleng lemah.
"Karena aku hampir saja memberikan hatiku untuk pria yang salah. Bodohnya aku yang akhirnya luluh dengan semua sikap manismu kepadaku dan tanpa tau motif di baliknya." Indhi memasukkan laptopnya ke dalam tas, latte panas serta cake coklatnya bahkan belum tersentuh sama sekali. Wanita itu bera jak dari duduknya sebelum emosinya meledak. "Tapi terima kasih banyak, karena semua ini akhirnya aku bertemu dengan pria yang mencintaiku dengan tulus," sambungnya bernada sindiran.
Indhi lalu keluar dari cafe itu, ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya ketika berada di luar cafe, angin yang semilir cukup membantu kepalanya yang memanas karena ulah mantan tunangannya itu.
"Ah sial, latteku belum sempat aku minum," gerutunya sebal.
Karena tak punya tujuan lain, Indhi memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit, wanita itu menunggu di luar ruangan suaminya. Setengah jam kemudian, Ega kembali kr ruangannya, pria itu masih mengenakan pakaian berwarna hijau yang di gunakan saat sedang mengoperasi. Ega begitu kaget melihat Indhi berada di depan ruangannya. Pria itu berjalan mendekat dan senyuman Indhi menyambut kedatangannya.
"Sayang. katanya nunggu di caffe, kenapa malah di sini?" tanya Ega begitu mereka saling berhadapan.
"Aku tadi di caffe tapi ada yang menggangguku," jawab Indhi dengan wajah kesal.
"Ayo masuk, ceritakan siapa yang berani mengganggu istriku yang cantik," Ega membuka ruangannya dan membawa Indhi untuk masuk, pria itu lalu mendudukkan istrinya di kursi miliknya.
Bukannya menjawab, Indhi malah memeluk pinggang suaminya dan menyembunyikan wajahnya di perut Ega, aroma alkohol medis serta keringat Ega yang bercambur tak membuat wanita itu merasa jijik sedikitpun.
"Ada apa ini? Siapa sebenarnya yang sudah mengganggumu?" Ega bertanya lagi karena tak biasanya Indhi bersikap seperti ini.
Indhi menjauhkan kepala lalu sedikit mengangkatnya agar bisa melihat wajah tampan milik suaminya. "Dokter Ilham," jawabnya jujur. Sejak rahasia Ega terbongkar, keduanya berkomitmen untuk saling terbuka satu sama lain.
"Dokter Ilham?" ulang Ega penuh penekanan, meski sudah memiliki Indhi seutuhnya namun tetap saja ia merasa cemburu dengan mantan tunangan istrinya itu. "Apa yang sudah dia lakukan, apa dia menyakitimu?" tanyanya lagi dangan posesif.
"Tenang kak, dia hanya minta maaf. Tapi entah kenapa aku sangat sebal mendengar permintaan maafnya. Aku bahkan belum mencicipi Latte dan cake cokelatku,"kata Indhi yang mengadu pada suaminya.
"Lalu apa yang kamu katakan kepadanya?"
"Aku bilang terima kasih kepadanya," jawab Indhi yang terdengar ambigu di telinga Ega.
"Terima kasih? Kenapa?" tanya Ega yang mulai merasa kesal, untuk apa istrinya berterima kasih kepada pria yang sudah menyakitinya.
"Terima kasih karena berkat kebohongannya aku bisa menikah dengan pria yang sangat mencintaiku."
Wajah yang tadinya masam seketika berubah berseri-seri, bahkan Ega tak bisa menahan senyumannya. Pria itu bahkan salah tingkah mendengar ucapan istrinya.
"Lalu apa jawaban Dokter Ilham?" dengan bibir tersenyum ia kembali bertanya kepada istrinya.
"Dia belum menjawabnya dan aku memilih keluar. Huh, cake cokelatku," Indhi kembali meratapi cake cokelatnya, sudah sangat lama ia tak mencicipi kudapan manis itu dan Dokter Ilham merusak momen pentingnya, menikmati latte panas dan cake cokelat. Membayangkan saja sudah membuat Indhi meneguk ludahnya.
"Nanti aku belikan lagi. Apapun yang kamu mau akan aku belikan. Latte? Cake cokelat? Bila perlu aku akan membelikan caffenya untuknu!" ujar Ega dengan sombongnya, namun ucapan pria itu justru membuat Indhi tertawa.
"Dari mana kakak mendapatkan uang untuk membelikanku caffe?" celoteh Indhi.
"Kamu lupa kalau aku punya ATM berjalan, sedikit saja alasan dia pasti akan menggelontorkan dananya untukku?"
"Maksud kakak, Dokter Aditya?" tebak Indhi tetap sasaran.
"Betul," Ega terkekeh lalu mengecup pucuk kepala istrinya. "Aku ganti baju dulu, setelah ini aku akan mengantarmu kemanapun kamu aku."
Indhi melepaskan pelukannya, gadis itu berdiri saking senangnya. "Serius?"
"Serius," Ega tersenyum dan mengelus rambut istrinya dengan lembut. Pria itu lalu melepaskan pakaian operasinya dan berganti dengan setelan jas miliknya.
"Kakak tidak malu?" tanya Indhi yang sedang menikmati pertunjukan sang suami.
"Kenapa harus malu. Kamu sudah pernah melihat semuanya kan?"
"Iya juga sih."
BERSAMBUNG...