
Arum baru saja menyelesaikan sidang di pengadilan saat bu Tika menghubunginya dan menyuruh gadis tomboy itu datang ke rumah. Karena tak memiliki pekerjaan lagi, Arum bergegas pergi ke rumah sahabatnya, jika di pikir-pikir hampir tiga hari Indhi tidak menghubunginya.
Satu jam kemudian, Arum tiba di kediaman bu Tika, gadis itu segera masuk setelah bi Sumi membukakan pintu untuknya. Arum terkejut begitu sampai di ruang keluarga ia mendapati bu Tika sedang menangis tersedu-sedu. Dengan cepat Arum menghampiri bu Tika karena khawatir sesuatu terjadi kepada wanita itu.
"Ada apa tan? Kenapa tante menangis?" tanyanya seraya duduk di samping bu Tika.
Bu Tika menoleh dan menatap Arum dengan berlinang air mata. "Indhi Rum, dia terpapar virus dan sekarang sedang isolasi di Rumah Sakit," jawab bu Tika dengan nafas pendek-pendek karena terlalu banyak menangis.
"Apa? Sejak kapat tan? Kenapa tidak ada yang mengabariku?" cecar Arum dengan berbagai pertanyaannya.
"Tante tau juga dari berita Rum, mereka merahasiakannya dari tante."
"Tente tenang dulu, Arum akan ke Rumah Sakit dan bertanya kepada kak Ega tentang kondisi Indhi!"
Setelah berhasil menenangkan bu Tika, Arum langsung pergi ke Rumah Sakit untuk memastikan kondisi sahabatnya. Arum tiba di sana saat jam makan siang tiba, setelah bertanya kepada resepsionis, Arum berlari menuju ruang ICU, tak jauh dari sana Arum mendapati Ega tengah duduk dengan penampilan yang kacau, rambut berantakan, wajah lesu serta lingkar hitam yang menghiasi mata sembabnya.
"Bagaimana kondisi Indhi kak?" tanya Arum setelah menghampiri Ega.
"Kakak juga nggak tau Rum, kakak nggak boleh masuk ke dalam," jawab Ega frustrasi.
"Indhi pasti baik-baik saja, dia gadis yang kuat!" ucap Arum penuh keyakinan, ia telah mengenal Indhi selama 12 tahun lamanya, Arum sangat tau jika sahabatnya adalah wanita yang kuat.
"Indhi sedang hamil, kakak takut daya tahan tubuhnya melemah dan dia tidak bisa melawan virus yang menyerang tubuhnya Rum."
"Indhi hamil? Oh Astaga tuhan, lindungi Indhi dan calon bayinya," Arum yang begitu terkejut hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya yang sedang berjuang melawan virus yang menyerang tubuhnya.
"Aku akan berjaga di sini kak. Sebaiknya kakak istirahat sebentar. Kakak juga perlu mandi dan makan, lihatlah penampilan kakak sekarang," Arum menunjuk wajah lesu Ega dan pria itu hanya menunduk lemah.
"Aku tidak akan meninggalkan Indhi sendirian!" tolaknya dengan cepat.
"Indhi juga pasti sedih melihat penampilan kakak. Indhi tidak sendirian, ada aku yang akan menemaninya di sini, capat mandi dan makan kak!"
Ega akhirnya mengalah, pria itu pergi ke ruangannya untuk tidur sejenak, sudah tiga hari lamanya ia tak bisa tidur karena memikirkan nasib istri dan calon bayinya.
"Kak tunggu!"
Langkah Ega terhenti saat seseorang memanggil namanya, pria itu lalu menoleh dan mendapati Dita sedang berjalan ke arahnya sambil membawa kotak bekal di tangannya.
"Ada apa?" tanya Ega dengan wajah datar.
"Aku bawakan makan siang untuk kakak. Kakak pasti belum makan?" ucap Dita dengan senyum manis.
"Tidak perlu repot Dit, aku bisa beli sendiri," tolak Ega secara halus, pria itu lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya, namun lagi-lagi Dita menahannya.
"Hanya makan siang dan sama sekali tidak mereporkan!" Dita memaksa Ega untuk menerima bekal makan siang buatannya, setelah kotak bekal sudah berada di tangan Ega, gadis itu pergi meninggalkan Ega.
"Maafin aku Ndi, aku akan egois sekarang,'' batinnya sambil berlari.
***
"Ada apa Rum?" tanya Ega dengan nafas tersengal-sengal karena ikut berlari.
"Nggak tau kak, tiba-tiba saja mereka masuk ke dalam," jawab Arum apa adanya karena ia memang tidak tau apa yang sedang terjadi.
Ega dan Arum menunggu dengan frustrasi, mereka sama sekali tidak tau apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ega semakin panik saat melihat Dokter Nanda turut masuk ke dalam ruangan Indhi.
"Rum, aku harus masuk sekarang, aku bisa gila kalau terus menunggu di sini," seru Ega dengan frustrasi.
"Sabar kak, kita tunggu sebentar lagi!" Arum menahan lengan Ega agar pria itu tidak nekat masuk ke dalam ruangan tempat Indhi di rawat.
"Aku harus masuk dan memastikan apa yang terjadi!"
"Sabar kak, di dalam sana bukan hanya ada Indhi, jangan buat keributan di sini kak!" cegah Arum lagi saat Ega melepaskan tangannya.
"Aku bisa gila," desis Ega seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Hampir setengah jam lamanya Ega dan Arum menunggu, namun belum ada satupun dokter maupun perawat yang keluar dari ruangan itu. Ega mondar-mandir di depan ruangan itu, wajahnya terlihat begitu pias, entah apa yang ada di dalam pikirannya, pria itu hanya diam dan sesekali meneteskan air mata.
Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya Dokter Nanda keluar dari ruangan tersebut, saat Ega akan menghampirinya Dokter Spesialis Kandungan itu menahannya dan menjaga jarak.
"Saya akan memberi lewat telefon," ujar Dokter Nanda, lalu dokter itu masuk ke dalam ruangan lain yang tak jauh dari ICU.
Tak lama setelah kepergian Dokter Nanda ponsel Ega berbunyi, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel, Ega segera mengangkat panggilan tersebut.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Ega tanpa basa-basi.
"Tadi Indhi sempat gagal nafas, beruntungnya dia dan bayinya begitu kuat, mereka bisa melewati semua ini bersama, sekarang Indhi sudah melewati masa kritisnya," jelas Dokter Nanda di ujung telefon.
Ega bisa bernafas lega, sejak tadi rasanya ia tak bisa bernafas dengan benar. "Ah Syukurlah. Terima kasih dok, terima kasih banyak untuk segala bantuan anda," ucap Ega tulus.
"Sama-sama, sudah kewajiban saya."
"Bagaimana kondisi Indhi kak?" tanya Arum begitu Ega mengakhiri panggilannya.
"Indhi sudah melewati masa kritisnya Rum," jawab Ega penuh kelegaan, meski di sudut lain hatinya ia masih menyimpan kecemasan dan rasa takut selama Indhi masih berada di dalam ruangan itu.
"Syukurlah. Indhi memang wanita yang kuat kak, aku yakin dia akan keluar dari ruangan itu dan berkumpul bersama kita lagi."
Arum memutuskan pulang setelah hari mulai gelap, meski masih ingin di sana dan menemani sahabatnya, namun Ega sudah menyuruhnya pulang, Arum hanya menurut dan memutuskan untuk kembali lagi besok. Saat keluar dari Rumah Sakit, Arum tak sengaja melihat Dita dan Bella berjalan bersama, mereka berdua nampak begitu akrab.
"Sejak kapan Dita akrab dengan anaknya nenek sihir itu?" gumamnya pelan, karena penasaran, Arun menutuskan untuk mengikuti mereka berdua samapai di parkiran Rumah Sakit.
"Aku akan bersikap egois seperti yang kamu katakkan Bell."
BERSAMBUNG...