
***Maaf ya gays, beberapa hari ke depan mungkin othor bakal telat up di karenakan othor sedang sariwawan, eh sariawan maksudnya.
Buat kalian semau, stay healthy and love you❤❤***
Saya, Kevin Ega Irvantara berjanji di hadapan Tuhan, saya menerima engkau Prilatia Lindhiani Pangestika sebagai istri yang sah dan satu-satunya mulai saat ini dan seterusnya. Berjanji untuk setia, mengasihi engkau baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, serta tidak akan meninggalkan engkau untuk selamanya.
Ega terbangun dari tidurnya setelah memimpikan ikrar yang pernah di ucapkannya beberapa bulan yang lalu. Pria itu membenahi duduknya dan memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih dini hari," gumamnya setelah mendapati jam menunjukkan pukul tiga dini hari. "Sayang, aku sangat merindukanmu," imbuh Ega bermonolog.
Tuhan tak selalu memberi apa yang di inginkan hambanya, namun Tuhan tau apa yang lebih di butuhkam oleh mereka, sama seperti Ega yang sangat menginginkan untuk bertemu Indhi, namun karena kondisi Indhi yang masih belum bisa di temui akhirnya Tuhan memberinya pilihan lain, saat akan melanjutkan tidur, tiba-tiba ponselnya bergetar, benda pipih itu menunjukan nama 'wife' di layarnya. Dengan cepat Ega segera mengangkat panggilan tersebut.
"Sayang ini kamu?" sapanya dengan semangat.
"Ya, ini aku kak," jawab Indhi dari seberang telefon, suaranya terdengar begitu lemah.
"Kamu baik-baik saja kan? Katakan bagian mana yang sakit? Apa kamu butuh sesuatu? Ah tidak, bagaimana dengan kondisi bayi kita?" cecar Ega dengan berbagai macam pertanyaannya.
Dari balik telefon Ega dapat mwndengar suara kekehan Indhi. "Aku sudah jauh lebih baik kak dan bayi kita baik-baik saja," jawab Indhi.
"Ah syukurlah, aku sangat khawatir, apalagi saat tau kamu sedang mengandung. Kenapa kamu merahasiakannya dari aku?" keluh Ega pada istrinya.
"Aku tidak merahasiakannya kak, aku berencanna memberi kakak kejutan dan malah berakhir di sini. Maaf kak karena sudah membuat kakak khawatir."
"Asal kamu dan anak kita baik-baik saja aku akan memaafkanmu," jawab Ega di iringi senyum kelegaan di wajah tampannya yang begitu lelah.
"Apa kakak masih di depan?" tanya Indhi memastikan.
"Ya, aku cuti sampai besok," sahut Ega.
"Jangan terlalu lama cuti kak, banyak orang yang membutuhkan kakak, aku sudah baik-baik saja sekarang, tunggu aku satu minggu lagi" Indhi berpesan pada suaminya, jika tidak begitu sudah dapat di pastikan Ega akan membuat tenda di depan ruang isolasi dengan dalih tidak ingin membiarkan Indhi seorang diri.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Ega yang masih begitu mengkhawatirkan istrinya.
"Ya dad, aku dan anak kita baik-baik saja di sini, jadi dady harus bekerja dan mencari uang untuk menafkahi kami."
"Dady?" ulang Ega dengan senyum yang begitu merekah, tiba-tiba telinga dan wajahnya menghangat, semburat merah menghiasi kedua sisi wajahnya. "Aku akan menjadi dady," ucapnya lagi sambil terkekeh.
"Sampai jumpa satu minggu lagi dad," Indhi memutus sambungan telefonya, gadis itu lalu bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela kaca, Indhi menyibak tirai bambu dengan jemarinya, wanita itu tersenyum melihat suaminya tengah tertawa dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia.
"Beruntungnya Dokter Indhi mempunyai suami seperti Dokter Kevin," ucap Suster Lina yang beberapa hari terakhir telah merawat Indhi.
"Sangat sus, saya sangat beruntung," sahut Indhi tanpa mengurai senyum di wajahnya.
"Kalau di jadikan novel pasti banyak yang baca dok, kisah cinta kalian berdua begitu romantis," Suster Lina memberi saran kepada Indhi.
"Benarkah? Setelah keluar dari sini aku akan mulai menulisnya, nanti Suster Lina harus jadi pembaca pertama ya."
"Siap dok!"
***
Setelah mendapat telefon dari istrinya, Ega nampak begitu bahagia, pria itu memutuskan untuk pulang beristirahat sebentar sebelum kembali lagi ke Rumah Sakit. Saking bahagianya dokter tampan itu bahkan sampai membatalkan cutinya karena ia harus semangat mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.
Pukul tujuh lewat lima menit Ega sudah sampai lagi di Rumah Sakit, pria itu membawa bunga lavender untuk Indhi dan akan ia titipkan kepada petugas penanganan virus. Ega menciumi bunga berwana ungu dan beraroma khas itu dengan senyum merekah sampai-sampai ia tak menyadari jika Dita sudah berjalan di sebelahnya.
"Pagi kak," sapa Dita dengan senyum manisnya.
Ega menoleh ke sumber suara, senyum di wajahnya seketika memudar saat melihat Dita berada di sebelahnya. "Hem. Kamu baru datang?" tanya Ega basa-basi.
"Iya kak. Oh ya kak, kebetulan aku masak banyak, biasanya aku masakin ini buat Indhi, tapi untuk hari ini kakak bisa mencicipinya," lagi-lagi Dita menggunakan makanan untuk mendekati Ega.
"Terima kasih. Besok lagi tidak perlu repot, aku bisa beli sarapan sendiri. Aku duluan ya!" Ega meraih kotak bekal yang di berikan Dita, pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan isolasi meninggalkan Dita yang merasa sedih dengan ucapan Ega.
Dari kejauhan interaksi Dita dan Ega rupanya telah di pantau oleh calon rich uncle yang tak lain adalah Dokter Aditya, setelah melihat sahabatnya pergi, pria yang sering menyamakan dirinya dengan aktor Korea Park Hae Jin tersebut bergegas mengekori Ega.
"Cie yang tiap hati dapat bekal dari mantan," goda Dokter Aditya seraya menyenggol lengan sahabatnya. Sejak pertama melihat tatapan Dita untuk Ega, dokter itu sudah curiga jika pernah terjadi sesuatu di antara mereka, dan benar saja Ega menceritakan semuanya setelah Dokter Aditya memergoki mereka sedang makan malam bersama beberapa malam yang lalu.
"Berisik," tukas Ega tak suka dengan candaan sahabatnya. "Nih buat kamu," Ega memberikan kotal bekal itu kepada Dokter Aditya karena Ega tidak ingin membuat orang lain salah sangka mengenai hubungannya dengan Dita.
"Hati-hati brow, jangan sampai nona perawat itu menjadi duri di pernikahan kalian. Akhir-akhir ini aku perhatikan dia sering sekali menemuimu di depan ICU. Aku hanya takut dia punya niat tertentu," pesan Dokter Aditya, pria itu memang tak menyukai Dita sejak awal.
"Ya, aku akan menjaga jarak dengannya."
BERSAMBUNG...