
Setelah bertemu dengan Dita di lobby Rumah Sakit, Indhi berpisah dengan Ega namun wanita itu tak langsung ke ruangannya, wanita itu malah menemui Dokter Aditya di kantornya. Indhi mengetuk pintu ruangan Dokter Aditya, tak lama setelah itu ia di persilahkan masuk oleh pemilik ruangan.
"Indhi, kamu sudah sehat. Ada apa? Tumben ke ruanganku?" tanya Dokter Aditya setelah Indhi masuk ke dalam ruangannya, pria itu berdiri dari duduknya dan menghampiri wanita yang sudah di anggapnya sebagai adik.
"Aku sudah sehat kak, terima kasih atas bantuan kakak selama ini," jawab Indhi sungguh-sungguh.
"Syukurlah. Oh ya, ngomong-ngomong ada apa?" Dokter Aditya mengulang pertanyaan keduanya.
"Kak, apa benar Dita mengundurkan diri?" tanya Indhi cemas, meski marah namun ia masih mengkhawatirkan Dita.
Dokter Aditya menautkan kedua alisnya. "Entah, aku tidak tau karena beberapa hari ini sibuk di poli," jawabnya seranya menggangkat kedua bahu.
"Kak, tolong aku sekali ini lagi. Tolong periksa di bagian HRD. Tolong tolak surat pengunduran diri milik Dita!" Indhi menganggup kedua tangannya di depan dada, ia sungguh berharap banyak pada dokter tampan nan kaya itu.
"Tapi kenapa aku harus melakukannya? Secara tidak langsung dia ikut andil dalam kejadian waktu itu, gara-gara dia aku batal menjadi rich uncle," gerutu Dokter Aditya tanpa menyadari jika ucapannya mengingatkan Indhi akan Lily. Setelah menyadari ia salah berucap, Dokter Aditya segera menutup mulutnya. "Maaf, kakak tidak bermaksud mengingatkanmu pada Lily," ucapnya penuh sesal.
"Tidak papa kak, aku baik-baik saja. Kakak bisa membantuku kan?" jawab Indhi sambil tersenyum masam.
"Tapi kenapa Ndi? Apa kamu tidak marah dengannya?" Dokter Aditya menatap Indhi penasaran, pasalnya dia saja sangat kesal dengan perawat itu, tapi mengapa Indhi malah menahan kepergian perawat itu.
"Marah? Tentu saja aku marah dan kecewa kak. Namun kendati demikian, dia tetap seseorang yang penting di dalam hidupku. Dita masih memiliki dua adik dan keduanya masih sekolah. Penghasilan kedua orang tua Dita hanya cukup untuk menuekolahkan salah satu adiknya, jika Dita berhenti bekerja bagaimana nasib adik yang satunya lagi?"
"Baiklah-baiklah. Tapi ini yang terakhir aku membantumu tentang dia, lain kali tidak ada lagi," mendengar cerita Indhi tentu saja membuat Dokter Aditya merasa iba dengan kondisi perawat yang di bencinya itu.
"Terima kasih kak," ucap Indhi dengan senyum lebar. "Aku permisi ya kak," pamitnya lalu keluar dari ruangan tersebut.
Tak butuh waktu lama, Dokter Aditya segera menghubungi HRD dan mengutarakan maksudnya perilah penolakan surat pengunduran diri yang di ajukan Dita. Pada hari itu juga, Dita di panggil ke ruang HRD.
"Maaf Suster Dita, untuk selarang kami belum bisa menerima surat pengunduran diri dari anda," ucap seorang staf HRD, orang itu juga mengembalikan amplop panjang berwarna putih yang merupakan surat pengunduran diri milik Dita.
"Tapi kenapa?" tanya Dita penasaran.
"Wabah sedang melanda negara kita, sementara Rumah Sakit ini sedang di banjiri pasien yang terinfeksi wabah tersebut, kami membutuhkan banyak perawat dan dokter dalam menangani wabah ini Sus, jadi maafkan kami karena tidak bisa menerima surat pengunduran diri anda," jawab staf HRD itu apa adanya, sebenarnya tanpa Dokter Aditya memintanyapun, pihak Rumah Sakit tidak akan menerima surat pengunduran diri dari perawat ataupun dokter.
Dita diam sejenak, membayangkan betapa sibuknya mereka di UGD, hampir setiap menit pasien datang dan bahkan Rumah Sakit sudah kehabisan tempat rawat inap untuk pasien. "Baiklah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya," Dita memilih setuju dan tetap bekerja di Rumah Sakit, jika ia bertemu dengan Indhi dan wanita itu acuh padanya, anggap saja itu hukuman yang harus di terimanya karena berniat jahat kepada sang sahabat.
Saat jam makan siang, kantin Rumah Sakit tak seramai biasanya, efek dari pandemi yang sedang menyebar mengharuskan Rumah Sakit membuat kebijakan untuk menjaga jarak. kantin yang biasanya ramai, kini tinggal beberapa perawat dan Dokter yang makan di sana, itupun dengan jarak satu kursi tidak boleh di tempati.
Siang ini Indhi dan Ega makan siang bersama, keduanya duduk saling berhadapan setelah mengambil menu makan siang mereka.
"Semoga wabah ini segera berakhir," ucap Indhi seraya menatap barisan kursi yang kosong.
"Ya, semoga saja," sahut Ega penuh harap. "Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, kamu lebih sering bertugas di UGD dan bertemu dengan pasien yang terinfeksi, jadi aku tidak mau kalau kamu terinfeksi lagi."
"Nanti kita bicarakan di rumah!"
***
Sementara di tempat lain, Arum tengah berbunga-bunga setelah menerima lamaran Dion semalam. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum meski sedang sibuk mengurus dokumen yang akan ia gunakan untuk menuntut Bella. Matanya semakin berbinar saat melihat panggilan dari sang pujaan hati. Meski demikian, gadis itu tak langsung menjawab panggilan dari Dion, anggap saja dia sedang jual mahal. Hingga panggilan ke tiga, ia sudah tak tahan lagi dan menjawab panggilan tersebut.
"Hallo kak," jawabnya sok cuek, padahal ia tengah menahan senyum di wajahnya.
"Kenapa lama sekali anggak telefonnya?" protes Dion di ujing sana.
"Aku sedang sibuk kak."
"Oh. Maaf mengganggumu," ujar Dion dengan suara yang terdengar kecewa.
"Ada apa kak?" tanya Arum cemas, pasalnya ia bisa mendengar nafas panjang milik calon suaminya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang, tapi kamu sibuk. Ya sudahlah, kapan-kapan saja," ucap Dion semakin kecewa.
"Pekerjaanku udah selesai. Kita mau makan di mana?"
"Benarkah?" Dion kembali bersemangat dan hal itu tentu saja membuat Arum terkekeh. "Aku sudah menunggu di depan kantormu, keluarlah!" imbuhnya mengejutkan Arum.
"Di depan kantor?" ulang Arum dengan nada terkejut. "Tunggu sebentar kak, aku akan turun."
Arum menutup semua dokumennya, gadis itu lalu bercermin dan merapikan riasan wajahnya, tak lupa ia mengoles lipstik berwarna nude agar wajah lelahnya tak terlalu ketara. Setelah di rasa penampilannya rapi, Arum segera turun dan menemui calon suaminya.
Tok...tok...tok..
Arum mengetuk kaca mobil Dion, pria itu tersenyum dan segera membuka pintu mobil dan menyuruh Arum untuk masuk.
"Hay sayang," sapa Dion setelah Arum masuk ke dalam mobilnya.
Arum tersipu malu di buatnya, gadis itu salah tingkah namun sebisa mungkin bersikap tenang. "Hay kak," gadis itu balik menyapa.
"Mau makan apa dan dimana?" tanya Dion dengan cemas, ia takut Arum akan menjawabnya dengan kata 'terserah'.
"Aku mau makan sup iga kak," jawab Arum sambil membayangkan sup iga favoritnya.
"Siap sayang," Dion tersenyum penuh Arti, semoga saja Arum bukan salah satu gadis yang rumit dan susah di pahami.
BERSAMBUNG...