
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Ega dan rombongannya tiba di kediaman bu Tika. Bi Sumi sibuk mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi, sementara bu Tika membantu Ega kembali ke kamarnya.
"Kita langsung pulang ya," ucap Arum berpamitan.
"Kenapa nggak istirahat dulu, kalian pasti lelah," ucap Indhi mencegah kepulangan Arum dan Dion.
"Kita masih ada kerjaan Ndi, kapan-kapan kita main ke sini," jawab Arum seraya memeluk sahabatnya. "Yang sabar ya, kak Ega pasti pulih," sambung Arum menyemangati sahabatnya.
"Makasih banyak ya Rum."
Arum melepaskan pelukannya, dan tersenyum kepada Indhi. "Sama-sama Ndi."
"Makasih kak Dion. Kalian hati-hati pulangnya ya."
Pasangan suami istri itu kemudian meninggalkan kediaman bu Tika dan kembali ke rumah mereka. Setelah kepergian kedua temannya, Indhi segera menyusul suaminya yang sudah berada di kamar.
Indhi menghampiri suminya saat melihat Ega sedang berusaha melepaskan celana yang di pakainya, dengan sigap Indhi membantu suaminya melepas celana tersebut.
"Terima kasih sayang," ucap Ega seraya mengusap lembut kepala istrinya.
"Kakak mau mandi kan? Aku mandiin ya."
"Mandiin," ulang Ega dengan senyuman penuh arti.
"Iya, biar tangan kiri kakak nggak kena air jadi aku bantu mandiin," dengan hati-hati Indhi melepaskan baju Ega, lalu gadis itu berjongkok dan melepaskan boxer yang menutupi tubuh bagian bawah suaminya. "Kasian, kamu sudah lama berpuasa," ujar Indhi sambil menunjuk sesuatu yang berada di hadapannya.
"Sayang jangan menggodaku," pekik Ega, pria itu lalu berjalan menuju kamar mandi. "Kenapa dia jahil sekali."
Indhi terkekeh melihat suaminya berlari masuk ke dalam kamar mandi, wanita hamil itu lalu menyusul suaminya untuk memandikan sang suami.
Ritual mandi kali ini sedikit menegangkan, pasalnya Indhi harus ekstra hati-hati saat menyabuni suaminya. Setelah menyelesaikan ritual mandi, Indhi melilitkan handuk di pinggang Ega guna menutupi cacing alaska yang terbangun.
"Maaf merepotkanmu," ujar Ega seraya menatap istrinya sendu.
Indhi menangkup wajah Ega dengan kedua tangannya. "Jangan bilang begitu, aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Aku adalah istrimu, dan kewajibanku adalah melayanimu kak. Sekarang ayo keluar dan ganti baju."
Ega terharu mendengar jawaban istrinya, pria itu patuh dan mengikuti Indhi keluar dari kamar mandi. Dengan telaten, Indhi membantu Ega berpakaian.
"Sekarang kakak istirahat dulu. Aku mau mandi dulu," Indhi menarik lembut tangan Ega menuju ranjang mereka, ia juga membantu suaminya mencari posisi tidur yang nyaman. Tak lupa sebuah kecupan Indhi berikan di bibir Ega, setelah itu ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Kondisi tuan Hendarwan semakin membaik pasca operasi di otaknya, dia bahkan sudah bisa turun dari tempat tidur dan berjalan-jalan di kamar perawatannya. Hal tersebut tentu saja berkat istri dan sang menantu yang merawatnya dengan sangat baik.
Tuan Hendarwan kini tengah berdiri di balik jendela kamar perawatannya, mata tuanya menelisik pemandangan luar jendela yang menyejukkan, banyak pohon serta bunga yang menghiasi halaman belakang Rumah Sakit tempatnya di rawat. Sementara istri dan anaknya duduk di sofa seraya mengamati tuan Hendarwan.
"Kamu sudah bertemu dengan Kevin?" tanyanya pada anak laki-lakinya, namun atensinya sama sekali tak berpindah, ia masih setia menatap pemandangan di luar jendela.
"Sudah pah, tapi dia," Dokter Aditya ragu untuk melanjutkan jawabannya.
"Dia pasti menolak keluarga kita kan, lalu dia juga akan menghindari kita. Papa yakin dia akan mengirimkan surat pengunduran diri," potong tuan Hendarwan, pria itu bahkan bisa menebak kalimat apa yang membuat putranya ragu untuk melanjutkannya.
"Bagaimana papah tau?" tanya Dokter Aditya dengan tercengang.
"Karena dia sangat mirip dengan adikku, sifat keras kepala menurun dari ibunya, dia juga seseorang yang pendendam, sama persis dengan Sherly," tuan Hendarwan kembali mengingat masa lalu, di mana adiknya memilih melupakan keluarganya setelah kedua orang tua mereka mengusirnya tanpa perasaan.
"Seharusnya kita tetap merahasiakannya, dengan begitu kita masih dekat dengannya dan hubungan kita akan baik-baik saja," timpal mama Mayang dengan wajah sedih.
"Tapi Kevin berhak tau asal-usulnya mah. Setidaknya beban berat di hati papa sedikit berkurang," tandas tuan Hendarwan yang kini tengah menatap istrinya.
Melihat ketegangan di antara kedua mertuanya, Dita segera menghampiri papa mertuanya yang masih berdiri di dekat jendela. "Maaf pah, bukan Dita bermaksud untuk ikut campur. Tapi Dita sangat mengenal kak Ega, Dita yakin kak Ega hanya butuh waktu untuk menerima kalian sebagai keluarganya. Lebih baik sekarang papah istirahat agar papah segera sehat, setelah itu mari kita pikirkan cara agar kak Ega mau menerima keluarga ini," ucap Dita panjang lebar, ia hanya tak ingin papah mertuanya menyimpan banyak pikiran dan membuatnya sakit.
"Terima kasih nak, Aditya sangat beruntung memilili istri yang bijak sepertimu," puji tuan Hendarwan dengan seutas senyum di wajahnya.
"Dita juga sangat beruntung memiliki mas Adit dan mertua yang sangat baik kepada Dita."
Masih di siang yang sama namun di tempat yang jauh sangat berbeda. Seorang gadis muda memakai baju tahanan dan sedang duduk bersama seseorang.
Gadis itu tersenyum penuh arti melihat kedatangan orang yang sangat di nantinya.
"Bagaimana?" tanya gadis berbaju orange itu.
"Aku tidak berhasil menyingkirkannya," jawab seseorang.
"Bodoh, begitu saja tidak becus. Percumah saja ibuku membayarmu dengan mahal," geram gadis yang tak lain adalah Bella.
"Maaf bos, aku akan mencoba menyingkirkannya lagi."
BERSAMBUNG....