Marry me, Brother

Marry me, Brother
Make a baby



Setelah pulang dari pusat perbelanjaan, Ega tak langsung membawa istrinya pulang, pria itu justru membawa istrinya ke sebuah hotel yang tak berada jauh dari pusat perbelanjaan. kening Indhi mengerut saat Ega menghentikan mobilnya di parkiran hotel, wanita itu menoleh dan menatap suaminya penuh tanya.


"Ngapain ke hotel kak?" tanyanya penasaran.


"Make a baby," jawab Ega sambil tersenyum mesyum.


"Hah," Indhi tercengang namun ia segera mengikuti suaminya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke hotel mewah yang dulu menjadi tempat pernikahan mereka. Indhi hanya duduk dan mengamati saat suaminya memesan kamar, gadis itu menggingit bibir bawahnya saat membayangkan adegan panas yang sering mereka lewati meski harus berakhir sebelum mereka melakukan penyatuan.


"Ayo," ajak Ega yang spontan membuat istrinya kaget.


"Eh, iya." Indhi menutupi wajahnya yang bersemu merah, ia tak ingin Ega menyadari jika wajahnya merona.


Ega meraih tangan istrinya dan menuntunnya menuju lift, saat pintu terbuka keduanya di kejutkan dengan kehadiran tiga orang yang tak asing bagi mereka. Indhi mengepalkan tangannya sehingga Ega bisa merasakan jika istrinya sedang menahan emosi.


"Dokter Indhi,'' sapa seorang gadis yang tak lain adalah Bella dan dua orang lainnya adalah Dokter Ilham dan ayahnya.


"Ya," jawab Indhi dengan wajah datar dan mata dengan sorot kebencian.


"Mau makan di restoran yang ada di hotel ini juga?" tanya Bella sok ramah, berbeda dengan kedua pria yang berdiri di belakangnya, mereka menatap Indhi dan Ega dengan tak bersahabat.


"Bukan, kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama di hotel ini," kali ini Ega yang menjawab, pria itu menatap tajam ke arah Bella membuat gadis itu merasa gamang.


"Ah begitu. Kalian pasti se ...


"Ayo pulang Bella," potong Dokter Ilham sebelum Bella merampungkan kalimatnya, gadis itu mencebikan bibirnya namun segera pergi dari tempat itu karena Dokter Ilham menarik tangannya secara paksa.


Ega memiringkan tubuhnya sehingga kini mengahadap ke arah Indhi. "Are you okay?" tanya Ega dengan nada khawatir.


"Aku baik-baik saja Ze," ucap Indhi tanpa sadar, gadis itu lalu membekap mulutnya dan menatap Ega yang kini memasang mimik sedih. "Maaf kak, aku tidak bermaksud begitu," ucapnya penuh sesal. kalimat 'are you okay' adalah kalimat pertama yang Zean katakan saat mereka pertama bertemu, kalimat itu lalu sering Zean ucapkan saat mereka telah bersama, selepas kematian Zean tak ada lagi yang bertanya kepada Indhi menggunakan bahasa asing sehingga saat Ega mengatakan kalimat tersebut membuat Indhi serasa kembali pada masa lalu.


"It's okay," jawab Ega dengan senyum meski sebenarnya hatinya merasa sedih.


"Di lantai berapa kamar kita kak?" tanya Indhi mencoba mencairkan suasana.


"Lantai 4," Ega mengulas senyum palsu, ia lalu mengajak istrinya naik lift menuju kamar mereka.


Setelah tiba di lantai empat, keduanya melangkahkan kaki menuju kamar yang telah Ega pesan dan mereka masuk ke dalam kamar tersebut. Setelah masuk, Ega langsung pergi ke kamar mandi, pria itu ingin menenangkan hatinya sejenak. Ega duduk di atas closet, pria itu menutup wajah dengan kedua tangannya, matanya yang memanas dan hampir berair sebisa mungkin ia tahan, ia tak ingin terlihat sedih di hadapan istrinya meskupun sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Zean, sampai kapan aku akan menjadi bayang-bayangmu," gumam Ega pelan. Bukan tanpa alasan pria itu berpikir demikian, pernah suatu malam Indhi memeluknya dengan erat, namun gadis itu justru memanggil pria yang telah pergi empat tahun lalu. Sejak saat itu Ega berfikir jika Indhi hanya menganggapnya sebagai bayang-banyang Zean.


Setelah merasa tenang Ega keluar dari kamar mandi, di depan pintu Indhi sudah menunggunya dengan wajah khawatir. "Kenapa lama sekali? kakak baik-baik saja kan?" cecar Indhi dengan wajah pias.


"Perutku sakit, mungkin karena pagi tadi makan sambal terlalu banyak," jawab Ega bohong, pria itu mengelus rambut istrinya sambil tersenyum. "Aku baik-baik saja."


"Kak soal tadi ... "


Indhi menghentikan kalimatnya karena Ega sudah mengunci mulutnya dengan jari telunjuk pria itu. "Aku nggak papa!" tegasnya sambil tersenyum.


"Maaf," cicitnya lagi sambil terisak, seperti Ega yang takut membuatnya menangis, Indhipun demikian, ia sangat takut membuat Ega kecewa dan sakit hati.


"Kenapa menangis, aku baik-baik saja? Sungguh!" Ega membalas pelukan istrinya, di usapnya dengan lembut punggung sang istri yang tertutupi rambut panjangnya.


"Aku merasa bersalah." katanya masih dalam linangan air mata.


Ega mengurai pelukannya, pria itu menahan tubuh Indhi dengan memegang kedua lengan istrinya. "Lihat aku! Aku baik-baik saja, tidak perlu menyalahkan diri. Aku tau kamu pasti hanya sedang bingung karena bertemu dengan Dokter Ilham tadi," ucap Ega mencoba menenangkan istrinya.


"Bodohnya aku yang belum bisa mencintai pria sebaik kakak," pekiknya kembali menyalahkan diri.


"Jangan di paksa. Aku yakin suatu hari kamu akan mencintaiku," sahutnya dengan tenang karena tak ingin membuat sang istri kembali merasa bersalah.


Cup..


Sebuah kecupan mendarat di bibir Ega dan membuat pria itu tertegun, ia akhirnya mengingat tujuan utamanya datang ke hotel ini.


"Kamu yang memulainya ya," bisiknya dengan suara menggoda, detik selanjutnya bibirnya sudah menjelajahi leher serta cuping telinga istrinya.


"Kak geli," keluh Indhi saat Ega bermain-main di cuping telinganya.


Ega kembali beralih di bibir istrinya, pria itu menyesap bibir bawah serta atas istrinya secara bergantian, sementara sang istri membuka mulutnya dan membalas tautan lidah sang suami.


Hasrat Ega kini di ujung kepalanya, pria itu menggendong istrinya di depan tubuhnya dan membawa wanita itu ke tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Ega lalu duduk di tepi tempat tidur dengan posisi Indhi duduk di pangkuannya, kedua kaki wanita itu melingkari pinggang Ega membuat jarak mereka begitu rapat.


Tangan Ega mulai bergerak nakal, kini tangan kekar itu menyusup ke dalam dress yang Indhi kenakan dan berusaha membuka pengait br*a yang di kenakan istrinya. Saat benda itu terbuka, tangannya mulai memijat dan memainkan dua bukit yang terasa sedikit kenyal seperti jelly.


Saat Indhi sudah memegang kendali tubuh Ega, gadis itu berbisik pelan. "Pejamkan matamu kak, kau milikku!"


Bersamaan dengan itu keduanya melakukan penyatuan yang hangat namun menggebu.


"Sayang, aku mencintaimu," ucapnya sambil mengerang setelah berhasil mencapai klimaknya, pria itu akhirnya berhasil menanamkan benihnya ke dalam rahim sang istri.


"Aku mencintaimu," ucapnya lagi, setelah itu ia berbaring dan mendekap istrinya dengan erat. Meski harus dengan menutup mata, akhirnya Ega bisa melewati ketakutannya, tentu saja hal tersebut tak luput dari bantuan istri tercintanya.


BERSAMBUNG...


Haii, hai apa kabar? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya..


Dalam beberapa hati ke depan othor mungkin akan sering telat update, tapi othor usahakan untuk update tiap hari karena sekarang othor lagi ada acara di Yogyakarta. Mumpung lagi di sini othor menyempatkan untuk healing biar othor nggak cepat tua.. hihih


Semoga kalian tetap menunggu aku update ya.


Sayang kalian semua ❤❤❤