Marry me, Brother

Marry me, Brother
Foto rekayasa



Setelah menghabiskan beberapa kantung infus, kondisi Indhi semakin membaik, dia malah sedang duduk sambil menikmati sepiring nasi goreng kambing yang di belikan oleh ibunya. Wanita hamil itu terlihat sangat lahap memakan menu makan malamnya, entah karena doyan atau memang dia sedang kelaparan.


Saking asyiknya menikmati menu favoritnya, ketukan pintu tak lagi di hiraukan oleh Indhi, bu Tika menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Cari siapa ya?” tanya bu Tika pada pria paruh baya yang berdiri di depan ruang perawatan Indhi.


“Ada kiriman paket untuk Dokter Indhi bu,” jawab pria tersebut seraya menyerahkan amplop cokelat kepada bu Tika.


“Terima kasih,” ucap bu Tika setelah menerima amplop tersebut, wanita itu lalu menutup pintu dan segera masuk.


“Siapa bu?” tanya Indhi dengan mulut penuh.


“Tukang paket nganterin paket buat kamu,” bu Tika menyerahkan amplop berwarna cokelat itu kepada Indhi lalu dia duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Indhi.


“Perasaan aku nggak beli apa-apa di toko online deh,” gumam Indhi, karena merasa penasaran ia segera membuka amplop tersebut.


Indhi membeku di tempat, bahkan aktivitas mengunyahnya terhenti saat ia melihat beberapa lembar foto mesra antara Ega dan Dita, manik matanya mulai berkaca-kaca, belum juga sembuh rasa kecewa karena merasa di bohongi oleh orang-orang terdekatnya dan kini ia kembali menelan pil pahit, foto-foto yang sudah di rekayasa oleh Bella berhasil mengusik ketenteraman rumah tangganya.


Indhi membalik salah satu foto tersebut, di belakangnya tertulis pesan bernada ancaman. “Sejak awal kak Ega adalah milikku, jadi pergilah dari hidupnya dan biarkan kami bahagia!!”


Pesan tersebut tentu saja membuat Indhi semakin merasa bersalah. Harusakah dia menyerah dan melepaskan Ega, tapi bagaimana dengan bayinya? Bayi kecil ini juga berhak atas Ega.


“Ada apa, kenapa menangis?” bu Tika kebingungan melihat putrinya yang tiba-tiba menangis, wanita itu lalu merebut amplop yang berada di tangan Indhi dan memeriksa benda apakah yang membuat putrinya menangis.


“Dasar badjingan gila, berani-beraninya dia membuat putriku menangis,” maki bu Tika setelah melihat foto-foto mesra Ega dan juga sahabat putrinya. Wanita itu lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, meski belum sepenuhnya percaya dengan foto tersebut, namun tetap saja bu Tika merasa kesal.


Perubahan tingkat hormon pada ibu hamil mengirimkan berbagai sinyal ke otak yang kemudian berdampak pada suasana hati ibu hamil. Hormon-hormon tersebut memicu emosi ibu hamil dan membuatnya menangis tanpa alasan apa pun. Kadar Estrogen dan Progesteron yang tinggi inilah yang bertanggung jawab atas perubahan suasana hati ibu hamil.


Hal inilah yang tengah di rasakan Indhi, hormon kehamilannya benar-benar membuatnya kewalahan, setelah melihat foto mesra Ega dan Dita, kini Indhi tengah menangis di dalam pelukan sang ibu.


Indhi sendiri masih belum yakin akan perasaannya, namun saat melihat foto-foto itu ada perasaan tidak rela saat wanita lain menyentuh suaminya. Namun bukan Indhi namanya jika ia lebih mementingkan orang lain dari pada perasaannya sendiri, di tengah rasa sakit yang sedang di rasanya, dia masih berpikir jika dialah yang telah menghancurkan kebahagiaan milik Ega dan Dita.


Cukup lama Indhi menangis, ia masih terisak bahkan sampai Ega masuk ke dalam ruang rawatnya, kedatangan Ega tentu saja mendapat tatapan mematikan dari sang ibu yang merangkap menjadi ibu mertuanya.


"Ada apa bu, kenapa menatap Ega seperti itu?" tanya Ega dengan nada bercanda.


"Sudah selesai operasinya? Kenapa cuma sebentar?" bu Tika mengintrogasi menantunya layaknya penjahat yang tertangkap basah tengah melakukan aksi kejahatan.


"Ega minta bantuan residen untuk menyelesaikan operasinya bu," jawab Ega apa adanya.


Residen : Dokter umum yang sedang menempuh pendidikan spesialis.


"Oh," jawab bu Tika cuek.


Tatapan Ega segera beralih pada mata sembab istrinya. "Sayang, kenapa kamu menangis?" tanyanya tanpa memperdulikan tatapan tajam ibu mertuanya.


"Apa maksudnya bu?"


"Lihat ini dan kamu akan tau maksudnya. Ibu benar-benar kecewa padamu!" bu Tika memberikan foto-foto yang di terima Indhi beberapa waktu yang lalu.


Ega meraup wajahnya dengan kasar, dengan sekali lihat saja dia sudah yakin kalau foto tersebut sudah di rekayasa. Jelas-jelas Ega tidak pernah melakukan sentuhan fisik pada wanita lain, bisa-bisanya kini ada foto yang menunjukkan dirinya sedang bermesraan dengan Dita.


"Ini foto rekayasa sayang. Sumpah demi apapun aku tidak pernah melakukan hal beja*t seperti ini." seru Ega mencoba membela diri.


"Lalu apakah hubungan kalian di masa lalu juga sebuah rekayasa?" tanya Indhi seraya menatap wajah frustrasi suaminya.


"Aku akan jelaskan semuanya sayang. Tolong percaya padaku!"


"jadi kapan tepatnya kalian bersama?" cecar Indhi dengan wajah sendu.


"Sejak Zean membelikan rumah untukmu. Aku pikir aku harus merelakan perasaanku untukmu, dan saat itu Dita menawarkan diri untuk membantuku melupakan perasaan cinta ini," Ega kembali mengenang masa lalu demi menjawab pertanyaan istrinya.


"Lalu kapan kalian berpisah? Benarkah semuanya gara-gara aku?"


"Ini semua bukan kesalahanmu, aku mengakhiri hubungan kami karena aku tidak bisa mencintai Dita, aku tidak ingin melukainya dengan pura-pura mencintainya. Semua ini adalah kesalahanku!"


"Tapi Dita mencintai kakak kan? Teganya kalian menyimpan rahasia ini dariku, sekarang aku merasa aku menjadi duri di antara hubungan kalian."


"Dengar sayang. Hubungan kami berakhir empat tahun yang lalu. Jadi jangan salahkan dirimu seperti ini!" pinta Ega dengan wajah sendu, harus bagaimana lagi untuk memenangkan kepercayaan istrinya lagi.


"Aku ingin sendiri, sebaiknya kamu pergi!" Indhi mengusir suaminya, setelah itu ia berbaring dan menutup wajahnya dengan selimut.


"Baik aku akan pergi. Aku mohon tenangkan dirimu dan percayalah padaku!"


Ega keluar dari ruang rawat istrinya dengan membawa foto rekayasa akan dirinya dan Dita, pria itu meninggalkan Rumah Sakit dan berniat untuk menemui Arum.


Satu jam kemudian Ega tiba di depan rumah Arum, saat pintu terbuka pemilik rumah terkejut dengan kedataangan Ega.


"Kakak, ada apa malam-malam begini datang ke rumah? Indhi baik-baik saja kan kak?" tanya Arum, wajahnya seketika panik.


"Masuk dulu kak!" Arum mempersilahkan Ega masuk, pria itu lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Lihat ini Rum," ucap Ega to the point, pria itu melemparkan foto di atas meja hingga sedikit berserakan.


Arum memeriksa satu persatu foto tersebut, ia yakin jika foto itu sudah di rekayasa. "Ini foto rekayasa kak!"


BERSAMBUNG...