Marry me, Brother

Marry me, Brother
Rencana Tuhan



"Kak, aku tadi pendarahan. Bagaimana dengan bayiku?"


Ega tak bisa menjawab pertanyaan istrinya, pria itu hanya diam, seulas senyum penuh paksaan terbit di wajah layunya, ia juga mencium punggung tangan istrinya dengan lembut. "Kata Dokter Nanda kamu harus banyak istirahat, jadi jangan di paksa dulu untuk bicara," ujar Ega tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


"Aku baik-baik saja kak, bagaimana dengan bayi kita?" tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras.


Melihat wajah sedih serta diamnya sang suami membuat Indhi curiga, wanita itu menyibak selimut serta bajunya, tangannya yang masih lemah menekan perut bagian bawahnya berulang kali, namun tak sedikitpun ia menemukan tanda-tanda kehamilan di sana, perut bagian bawahnya tak lagi terasa tegang, bahkan perut yang sempat menonjol kini kembali rata. Sebagai seorang dokter tentu saja ia tau apa yang terjadi dengan dirinya, ia telah kehilangan bayinya, ia keguguran.


"Bayiku," ucapnya tertahan, air matanya luruh membasahi wajah pucatnya.


"Kak bayi kita tidak pergi kan?" elaknya karena tak kuasa menerima kenyataan.


"Sayang, aku..." Ega tak sanggup melanjutkan kalimatnya, pria itu segera memeluk istrinya dengan erat. Kali ini ia benar-benar merasa hancur, kehilangan calon anaknya dan melihat istrinya kembali menangis adalah sebuah mimpi buruk bagi Ega. Apa salahnya, kenapa Tuhan memberinya cobaan yang begitu berat? Dua pertanyaan itu sempat terlintas dalam benak Ega, namun pria itu mencoba bersikap bijak, mungkin saja Tuhan memberinya ujian agar kakinya lebih kuat sebelum ia melompat lebih tinggi untuk meraih kebahagiaannya di masa depan.


"Maafin aku kak, aku nggak bisa menjaga anak kita," ucap Indhi di tengah isak tangisnya.


Ega mengurai pelukannya, ia lalu menyeka air mata istrinya dengan lembut. "Harusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa menjaga kalian," jawab Ega penuh sesal, seandainya pagi tadi ia bangun lebih awal dan menemani istrinya pergi tentu saja musibah tersebut tidak akan terjadi.


"Aku yang salah, aku tidak bisa menjaga bayi kita, aku bukan ibu yang baik. Maafin mamy nak, maafin mamy," Indhi menangis sejadi-jadinya, hatinya terasa begitu hancur, sama persis saat ia di tinggal oleh Zean beberapa tahun silam. Lagi-lagi ia tidak bisa menyelamatkan seseorang yang teramat berarti di dalam hidupnya.


"Bukan kalian yang salah, semua ini salahku. Aku benar-benar menyesal," sela Dita dengan suara tergugu, tak bisa di pungkiri ia juga terlibat dalam kecelakaan Indhi meski tak secara langsung.


Indhi menoleh ke arah sumber suara, wanita itu melebarkan matanya saat mendapati Dita berdiri di sebelah ranjang rawatnya. "Ngapain kamu di sini. Sudah aku bilang aku tidak akan melepaskan suamiku karena aku sangat mencintainya. Pergi dari sini, PERGI!" usir Indhi seraya menunjuk pintu, ia benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya. Amarah, rasa kecewa dan benci bercampur menjadi satu.


"Aku akan pergi, tapi aku mohon jangan salahkan dirimu atas kepergian bayimu, karena aku yang bersalah, aku yang membuatmu kehilangan bayimu," ujar Dita dengan sungguh-sungguh, langkahnya yang berat terpaksa meninggalkan ruang perawatan Indhi.


Sementara Ega masih tercenung di tempatnya. Benarkah apa yang di dengarnya tadi? Indhi mencintainya? Apakah Ega hanya salah dengar? Meski sangat penasaran namun ia belum bisa bertanya kepada istrinya, toh ia juga sudah memutuskan tetap mencintai istrinya meski cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Kuatkan dirimu nak, ibu harus pulang," ucap bu Tika setelah lama diam, ia tak sanggup berlama-lama melihat kondisi Indhi yang begitu hancur.


"Semuanya akan baik-baik saja," bisik bu Tika seraya menepuk punggung putranya.


Setelah bu Tika pergi, Ega menyeka sisa-sisa air mata yang tertinggal di wajahnya, ia lalu mengatur nafasnya perlahan dan setelah merasa tenang ia kembali masuk ke dalam kamar perawatan istrinya.


"Ibu sudah pulang?" tanyanya dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.


"Hem. Istirahatlah, aku menemanimu di sini," jawab Ega sambil tersenyum, pria itu lalu merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya dan mengecup kening istrinya dengan lembut dan penuh kehangatan.


"Temani aku tidur kak," pinta Indhi dan segera di setujui oleh Ega. Pria itu mengangkat tubuh Indhi dan sedikit menggesernya, ia lalu naik ke atas hospital bed dan berbaring di sebelah istrinya. Tak lupa salah satu tangannya ia jadikan bantal untuk sang istri, sementara tangan yang lainnya memeluk pinggang istrinya.


"Kak,"panggil Indhi, kepalanya mendongak agar bisa melihat wajah suaminya.


"Ya sayang," jawab Ega sambil mengelus kepala belakang istrinya.


"Kakak tidak marah padaku?"


"Untuk apa aku marah?" Ega menurunkan kepalanya sehingga manik mata mereka saling bertemu.


"Karena aku gagal menjaga bayi kita," mata Indhi kembali berkaca-kaca, sungguh tak ada kesedihan yang lebih dalam dari pada di tinggalkan seseorang yang berarti di dalam hidup kita.


"Kamu tidak gagal, hanya saja Tuhan memberi waktu untuk kita bersiap menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak-anak kita kelak," jawab Ega bijak. "Tuhan sedang menyiapkan rencana terbaik-Nya untuk kita, jadi aku mohon jangan salahkan dirimu dan terima dengan ikhlas kepergian bayi kita, dia pasti sudah bahagia di sisi Tuhan."


Indhi tak lagi bersuara, ia menyembunyikan wajah lelahnya di dada sang suami. Namun bukan manusia namanya jika semudah itu mengikhlaskan sesuatu, Indhi kembali menangis di pelukan suaminya, kali ini tangisannya terdengar sangat pilu, menggambarkan betapa hancurnya hati seorang ibu di tinggal oleh buah hatinya.


"Mamy tidak akan memaafkan mereka!"


BERSAMBUNG...