
Sepulang kerja Indhi menemani Ega menemui Psikiater untuk melanjutkan sesi konselingnya. Awalnya Ega menolak saat Indhi menawarkan diri menemaninya, namun karena wanita itu begitu keras kepala akhirnya Ega hanya pasrah dan membiarkan istrinya ikut bersamanya.
Kedatangan Ega sudah di sambut oleh Dokter Anita, sepasang suami istri itu lalu masuk ke dalam ruangan untuk melakukan sesi konseling. Sejak pertama bertemu dengan Psikiater cantik itu Indhi merasa sesuatu yang aneh di dadanya, pasalnya Dokter Anita terlihat begitu dekat dengan Ega, mereka terlihat sangat akrab dan membuat Indhi merasa kurang nyaman.
"Silahkan duduk. Anda pasti istrinya Dokter Kevin ya? Perkenalkan saya Anita," sapa Dokter Anita dengan ramah, wanita itu mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Indhi.
"Saya Indhi dok, senang bertemu dengan anda. Mohon bantuannya," jawab Indhi dengan ramah meski ia merasa kurang nyaman.
Dokter Anita memulai sesi konselingnya bersama Ega, sementara Indhi hanya diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang di arahkan oleh Dokter Anita, gadis itu menyimak baik-baik hal apa saja yang bisa membantu Ega lepas dari ketakutan yang berlebihan akan menyakiti dirinya.
Setengah jam kemudian sesi konseling berakhir, Ega dan Indhi meninggalkan tempat praktek Dokter Anita dan mampir ke tempat Arum, namun di rumah itu mereka hanya bertemu dengan asisten rumah tangga keluarga Arum dan memberi tahu jika Arum sudah mulai bekerja.
Ega dan Indhi memutuskan untuk menginap di rumah Ega yang pernah mereka tempati sebelumnya, Indhi masih malu untuk pulang ke rumah dan bertemu ibunya semenjak kejadian pagi tadi. Sesampainya di rumah mereka, Ega segera membuka bungkusan yang berisi makan malam. Mereka sempat mampir membeli nasi goreng kambing dan sate kambing favorit Ega.
"Sayang, kenapa belinya cuma satu porsi sih?" tanya Ega saat pria itu tengah menyiapkan makan malam mereka.
"Kalau dua porsi nanti nggak abis kak. Lagian ada sate kambingnya juga kan," jawab Indhi saraya mencuci piring yang akan mereka pakai.
"Makan nasi goreng sama sate kan nggak nyambung sayang," protes Ega pada istrinya.
"Kalau gitu kakak makan nasi gorengnya, aku makan satenya, itu di dalam sate ada lontongnya juga kak."
"Aku tau kamu sengaja beli satu porsi, kamu pengin makan sate sama nasi goreng tapi nggak mau di katain rakus kan?" tebak.Ega sambil melirik istrinya.
"Udah tau pake nanya," jawab Indhi sambil tersenyum licik. Ega hanya menggeleng pelan, istrinya benar-benar tidak berubah, sejak dulu selalu saja merecokinya kalau soal makanan.
Keduanya lalu makan malam dengan tenang, beberapa kali Indhi menyendok nasi goreng milik Ega padahal wanita itu juga punya sate kambing sebagai menu makan malamnya.
Setelah makan malam, Indhi menghubungi Arum karena merasa khawatir, namun percakapan mereka justru di ganggu oleh Ega dan Indhi memutuskan untuk mengakhiri panggilannya.
"Kakak jahil banget sih?" gerutu Indhi setelah panggilan vidionya bersama Arum berakhir.
"Tapi Arum jadi terhibur kan?" jawab Ega bangga.
"Dasar nggak jelas," ucap Indhi lalu dia pergi ke kamarnya untuk menggosok gigi lalu bersiap tidur.
Ega menyusul istrinya ke kamar yang dulu di tempati Indhi ketika wanita itu masih menjadi adiknya, Ega juga menyusul Indhi ke kamar mandi dan menggosok gigi.
Setelah nenyelesaikan ritual sebelum tidur, kini keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur yang tak terlalu besar.
"Sayang, sepertinya kita perlu beli kasur baru?" ujar Ega karena merasa kasur mereka terlalu kecil.
"Kasur ini masih bagus, kenapa harus beli yang baru kak?" tanya Indhi tak paham dengan maksud suaminya.
"Terlalu sempit, nggak bisa banyak gaya jadinya, salah dikit nanti jatuh ke lantai," jelas Ega dengan senyum mesyum.
"Banyak gaya?" ulang Indhi yang masih belum paham, mungkin karena kekenyangan otaknya jadi sedikit lemot.
"Gaya makan ice cream, gaya helicopter, gaya guling-gulingan, gaya bebek nungg*ing, dan gaya-gaya yang lainnya."
"Sayang?" panggil Ega dengan mesra.
"Apa lagi?" ketus Indhi gara-gara memikirkan berbagai macam gaya yang Ega sebutkan membuat ia merasa kesal dan ingin mencoba berbagai macam gaya tersebut.
"Boleh aku melakukannya, aku akan mencobanya tanpa menutup mata?" pinta Ega, kali ini wajahnya begitu serius membuat Indhi tak tega menolaknya, bukan hanya itu Indhi seperti ketagihan sentuhan Ega.
"Jangan terlalu di paksakan," pesan Indhi.
Ega mengangguk patuh, pria itu lalu menarik istrinya agar lebih dekat, di pandanginya wajah cantik natural itu dengan seksama, setelah itu Ega memberikan ciuman di kedua mata istrinya, tak lupa hidung mancung nan kecil itu Ega kecup berkali-kali sebelum akhirnya ciumannya berakhir di bibir mungil berwarna merah muda itu.
Ciuman mereka bertambah panas saat Indhi mulai membalas setiap lilitan lidah suaminya, masih dengan berciuman Ega memposisikan dirinya di atas tubuh sang istri, tubuh kecil itu berada di bawah kunkungannya sekarang.
Puas menjelajahi rongga mulut sang istri, kini Ega berpindah pada ceruk leher istrinya, gigitan-gigitan kecil ia berikan hingga meninggalkan bekas merah di sana. Entah kapan Ega membuka baju istrinya, kini wanita itu sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Ega meneguk salivanya berkali-kali, tubuh kecil namun berisi milik istrinya selalu membuatnya berhasrat, di dalam hati ia terus berdoa agar ketakutan itu hilang dan ia bisa menikmati waktu bercinta bersama istrinya.
Dengan sangat hati-hati Ega mengarahkan miliknya ke dalam inti sang istri, benda itu mulai masuk namun bayangan air mata Indhi saat malam pertama mereka membuat Ega kembali takut, pria itu berhenti dan hampir saja melepaskan penyatuan mereka, namun sebelum itu terjadi Indhi lebih dulu menahan pinggang Ega dengan kedua tangannya.
"Sayang, lihat aku. Aku milikmu," ucap Indhi dengan suara berat, wanita itu sudah sepenuhnya di kuasai nafsu.
Ega kembali memfokuskan pikirannya, panggilan sayang yang Indhi ucapkan seolah menjadi obat untuk rasa takutnya, benda yang hampir tertidur itu kini kembali menegang dan memenuhi inti sang istri.
"Sayang bergeraklah, aku baik-baik saja," ucap Indhi lagi karena Ega masih ragu untuk melakukannya.
"Are you sure?"
"Yes, i'm yours."
Perlahan namun pasti Ega mulai menggerakkan pinggangnya, tatapannya sendiri masih fokus pada wajah sang istri yang kini merona dan membuat Ega lupa akan rasa takutnya, pria itu mulai menguasai keadaan dan memimpin permainan.
"Terima kasih sayang," ucap Ega seraya mengecup kening istrinya, setelah permainan panas itu selesai mereka berbaring dan saling memeluk satu sama lain.
"Kakak berhasil melawan rasa takut itu, aku bangga padamu kak," puji Indhi sambil tersenyum,sementara tangannya melingkar di pinggang suaminya.
"Hem, dan semuanya berkat kamu."
"Sayang apa kamu tidak mau menunda kehamilan dulu?" tanya Ega lagi, kini ia menatap wajah istrinya dengan serius.
"Tidak kak, lagi pula usiaku adalah usia yang pas untuk aku hamil dan melahirkan. Apa kakak ingin menundanya?"
"Tidak, aku juga ingin segera memiliki anak. Usiaku sudah tidak muda lagi. Tapi aku mengkhawatirkanmu."
"Aku baik-baik saja kak, selama kakak bersamaku aku akan selalu baik-baik saja."
Indhi lalu memeluk suaminya dengan erat, meskipun kata cinta belum keluar dari mulutnya namun sepertinya benih-benih itu mulai tumbuh di hatinya.
BERSAMBUNG...