Marry me, Brother

Marry me, Brother
Promise



Setelah mandi, Ega menghampiri istrinya yang ternyata belum juga tidur dan masih menunggunya. Pria itu lalu duduk di atas ranjang dan bersandar pada headboar sambil menatap istrinya yang sedang berkutat dengan ponselnya.


"Siapa yang mengirim pesan tengah malam begini?" tanya Ega penasaran, pasalnya sejak tadi Indhi tak menyadari kedatangannya.


"Eh, kakak sudah selesai mandi," Indhi menoleh dan tersenyum kepada suaminya, wanita itu lalu merapatkan tubuhnya ke arah sang suami, tak lupa ia juga bersandar di lengan suaminya. "Arum yang mengirim pesan. Sejak siang dia terus merengek dan ingin tau rasanya anu," Indhi menjawab pertanyaan suaminya dengan sedikit ambigu.


"Anu apa maksudnya?" tanya Ega penasaran.


"Bercinta," bisik Indhi sambil tersenyum.


"Sayang, jangan bilang kamu sudah meracuni otak polosnya dan membuat dia penasaran?" tebak Ega yang tepat sasaran.


"Dia sendiri yang awalnya penasaran kak, aku kan hanya menjawab apa yang dia tanyakan?" jawab Indhi tanpa dosa.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Ega seraya mengelus-elus kepala istrinya.


"Karena Dita bilang sakit. Jadi aku jawab saja sakit tapi bikin ketagihan."


"Dita?" ulang Ega penuh penekanan.


"Hem. Kita sudah baikan. Aku tadi ke rumahnya bersama Arum. Dita dan ibunya sampai berlutut saat minta maaf kak," Indhi mulai menceritakan kejadian siang tadi, wanita itu tampak begitu bersemangat.


"Lalu kamu memaafkannya?"


"Iya. Apa aku terlalu bodoh karena terlalu cepat memaafkannya?" Indhi mendungak dan sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat eskpresi wajah suaminya.


"Kamu terlalu baik sayang. Tapi aku sangat menyukai sifat baikmu itu. Dan lihat sekarang, kamu sudah lebih ceria setelah memafkan Dita kan?" balas Ega dengan lembut.


"Rasanya beban berat di hatiku sudah hilang kak."


"Aku juga ingin seperti itu, menghilangkan beban berat di hati ini. Tapi rasanya aku belum mampu," Ega menghela nafas yang terdengar berat.


"Pelan-pelan kak. Aku yakin kakak bisa menghilangkan beban itu. Oh ya, aku tadi bertemu dengan Naura dan ibunya," Indhi memutuskan untuk bercerita kepada Ega, ia tak ingin menyimpan apapun dari suaminya.


"Dimana?" Ega sedikit mendorong tubuh istrinya hingga ia bisa melihat wajah sang istri.


"Di Mall."


"Apa yang dia katakan?"


"Dia memintaku untuk membantunya dekat dengan kakak. Tapi aku menolaknya karena aku tidak melihat ketulusan darinya kak. Dia bilang dia tidak punya pilihan saat meninggalkan kakak. Tapi aku pikir dia hanya tidak mau membuat pilihan saat itu. Aku tidak melihat penyesalan dari matanya," jelas Indhi panjang lebar. "Kakak tidak marah kan?"


Ega kembali menarik tubuh mungil istrinya agar kembali merapat kepadanya. "Untuk apa aku marah dengan istriku yang cantik dan baik hati," sahutnya seraya menghujani pucuk kepala Indhi dengan kecupan. "Lain kali kalau bertemu mereka lagi sebaiknya kamu menghindar. Aku masih ingat saat Naura membuatmu masuk ruang operasi. Aku hampir saja gila saat itu," imbuhnya memberi pesan sekaligus mengenang masa lalu.


"Apa saat itu kakak sudah mencintaiku?"


"Sudah. Hanya saja, aku terus menyangkalnya. Apalagi dulu kamu sangat cinta sama Zean," Ega mengatup bibirnya, sungguh ia tak berniat untuk membahas Zean. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat Zean lagi," ucap Ega penuh sesal.


"Kakak tidak perlu minta maaf. Aku memang belum bisa melupakan kak Zean. Tapi aku menyimpannya di sisi lain hatiku, sementara kini sepenuhnya hati ini adalah milik kakak."


Sungguh Indhi telah yakin jika ia benar-benar mencintai suaminya. Bahkan kini saat membahas mendiang Zean hatinya tak sakit seperti dulu. Ega adalah obat terbaik untuk semua rasa sakitnya.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," kata Ega penuh kasih sayang.


"Aku juga mencintaimu kak." Indhi lalu memeluk tubuh Ega dengan erat seolah mencurahkan semua rasa cintanya pada sang suami.


"Sayang," panggil Ega.


"Sayang," panggil Ega lagi.


"Apa kak?" Indhi mengurai pelukannya, ia menatap sang suami penuh tanya.


"Mau anu," ucap Ega ambigu.


"Anu apa?"


"Yang sakit tapi bikin ketagihan."


"Udah jam setengah satu pagi, kakak nggak capek?" tanya Indhi khawatir.


Ega menggeleng cepat, pria itu lalu menarik tengkuk istrinya dan menyium bibir yang sejak tadi sudah menghodanya. Indhi mendorong tubuh Ega sehingga ciumannya terlepas, hal itu tentu saja mebuat Ega sedikit kesal.


"Kenapa? Kamu lelah?" tanya Ega dengan raut penuh kekecewaan.


Indhi tidak menjawab, wanita itu merubah posisinya dangan duduk di pangkuan Ega. "Aku mencari posisi yang nyaman," jelasnya lalu tapa basa-basi Indhi melu*mat bibir suaminya. Ega mengunggingkan senyum, lalu ia membalas ciuaman sang istri. Cukup lama lidah mereka saling bertautan hingga mereka melepaskan ciuaman panas mereka.


"Aku yang akan memimpin permainan," desis Indhi dengan suara berat.


"Aku milikmu wife."


Keduanya lalu hanyut dalam kenikmatan yang selalu menjadi candu. Mereka melepaskan hasrat mereka dan mengejar puncak kenikmatan. Hingga setengah jam berlalu, lenguhan panjang yang keluar dari mulut keduanya menandakan jika malam panas mereka telah berakhir.


Indhi merebahkan tubuhnya di sebelah Ega, wanita itu lalu mengecup bibir sang suami dengan mesra. "Jangan berhenti mencintaiku!" pinta yang lebih terdengar seperti perintah.


"Promise," sahut Ega, meski tak ada yang tau tentang hati seseorang, namun Ega begitu yakin jika ia akan mencintai Indhi selamanya.


***


Beberapa hari kemudian, Indhi dan Arum sudah berada di kediaman keluarga Dita karena hari ini adalah momen yang sangat penting bagi Dita. Meski ia belum mencintai Dokter Aditya, namum acara lamaran ini tetaplah momen yang berarti di dalam hidupnya.


"Oh my God, sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Aditya, istri pewaris Rumah Sakit terbesar di kota ini," ucap Arum yang berusaha menghilangkan kepanikan Dita.


"Ya ampun, dia akan menjadi bosku nanti," sahut Indhi tak mau kalah.


"Kamu harus hati-hati Ndi agar tidak di pecat oleh nyonya besar ini, kalau perlu kamu harus merayunya agar kamu bisa mendapatkan posisi bagus di dalam Management Rumah Sakit," sambung Arum menggebu-gebu.


"sepertinya memang harus begitu Rum," Indhi terkekeh geli.


"Kalian please jangan bikin aku tambah gugup," protes Dita dengan tangan dan bibir yang bergetar.


"Jangan gugup. Semuanya akan berjalan lancar," Indhi memeluk Dita guna menenangkan sahabatnya.


Tak lama pintu kamar Dita terbuka, bu Martini masuk dan menyampaikan jika keluarga Dokter Aditya telah tiba.


Indhi dan Arum mengapit Dita keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu, di sana sudah ada Dokter Aditya dan keluarganya dan termasuk Ega di dalamnya.


Dokter Aditya menatap Dita tanpa berkedip, pria itu begitu takjub melihat penampilan Dita yang sangat berbeda. Gadis itu terlihat anggun dalam balutan kebaya berwarna nude dengan bawahan kain batik yang membuatnya semakin terlihat manis.


"Cantik," gumam Dokter Aditya tanpa sadar.


BERSAMBUNG...