Marry me, Brother

Marry me, Brother
Happy Ending



Tiada hal yang lebih membahagiakan selain menjadi orang tua, hal tersebut kini tengah di rasakan oleh Ega dan Dokter Aditya. Kedua pria itu tak sengaja bertemu di lorong kamar VVIP tempat istri mereka di rawat pasca melahirkan.


"Kevin, ngapain kamu di sini?" tanya Dokter Aditya pada sahabatnya.


"Indhi baru saja melahirkan Dit, kamu sendiri ngapain di sini?" jawab Ega penuh kebahagiaan.


"Benarkah. Syukurlah kalau begitu. Dita juga baru saja melahirkan secara caesar, aku memiliki putra sekarang," balas Dokter Aditya tak kalah bahagia.


"Selamat Dit, akhirnya kita menjadi seorang ayah."


Kedua sahabat itu lalu berpisah dan kembali ke kamar rawat istrinya yang ternyata bersebelahan. Ega menghampiri Indhi yang sedang mengASIhi bayi perempuannya. Sementara bu Tika sedang menimang cucu laki-lakinya.


"Kakak dari mana?" tanya Indhi tanpa mengalihkan atensinya,perhatiannya tertuju pada bayi mungil yang ada di dekapannya.


"Aku ada urusan sebentar. Oh ya sayang, Dita juga melahirkan hari ini, bayinya laki-laki," ujar Ega menyampaikan kabar bahagia tersebut.


"Benarkah? Syukurlah kak. Aku ingin segera menemui mereka," sahut Indhi bersemangat, namun detik selanjutnya wajahnya terlihat sedih.


"Kenapa wajahmu sedih begitu?"


""Aku memikirkan Arum kak, dia pasti kembali merasa iri karena program bayi tabungnya belum juga berhasil."


"Aku yakin Arum pasti turut bahagia atas kelahiran anak kita dan anak Dita."


"Aku tau kak, tapi Arum selalu selalu membandingkan dirinya sendiri dengan aku dan juga Dita."


"Jangan pikirkan itu. Aku akan bicara kepada Arum kalau dia kemari."


Indhi mengangguk menuruti perkataan suaminya,mungkin saja jika Ega yang bicara Arum akan lebih legowo karena sampai sekarang dia belum juga hamil.


"Apa kalian belum memberi nama kepada twins?" sela bu Tika yang sedang asik menimang cucu.


"Kami sudah menyiapkannya bu," jawab Ega seraya mengusap lembut kepala istrinya.


"Benarkah, lalu siapa namanya?" bu Tika nampak begitu bersemangat.


"Zeandra Rama Irvantara dan Zeana Talia Irvantara."


"Ze-Zean?" ulang bu Tika seolah tak percaya.


"Benar bu, kami hanya ingin mengenang Zean lewat anak-anak kami. Karena berkat pengorbanannya dahulu, anak-anakku bisa lahir kedunia ini," jawab Ega tanpa keraguan, kini setelah yakin jika Indhi mencintainya tak sedikitpun Ega merasa cemburu pada mendiang Zean.


.


.


.


Keesokan harinya, Arum dan Dion datang menjenguk Indhi dan bayi kembarnya, sepasang suami istri itu langsung menggendong bayi mungil tersebut.


"Hay Rama, momy Arum datang menjengukmu," ucap Arum yang tak henti-hentinya menatap bayi laki-laki di gendongannya. Arum lalu mendekati Dion yang sedang menggendong bayi perempuan. "Hay Zea, kau sangat cantik," imbuhnya dengan mata berbinar.


"Dia secantik aku kan?" sahut Indhi penuh percaya diri.


"Dasar menyebalkan," Indhi mencebikkan bibirnya, pasalnya sejak kemarin bu Tika juga selalu mengatakan jika anak-anaknya lebih mirip Ega dari pada dia.


"Mereka sangat menggemaskan," cicit Arum,wanita itu terus menimang Rama tanpa berniat memberikannya kepada sang ibu. Namun tangisan Rama akhirnya membuat Arum mengalah dan memberikan bayi laki-laki itu pada ibunya.


"Aku akan ke kamar Dita, nanti aku kembali lagi kemari."


"Aku ikut. Tunggu Rama kenyang dulu. Aku juga ingin melihat bayi Dita," tahan Indhi.


Beberapa saat kemudian, setelah kedua bayinya tertidur, Ega dan Indhi serta Arum dan Dion mengunjungi Dita yang berada di kamar sebelah. Keempat orang itu lalu masuk dan menghampiri Dita yang masih terlihat belum pulih.


"Kalian datang," kata Dita bersemangat.


"Iya kami datang. Bagimana kondisimu?" sahut Indhi.


"Aku masih kesulitan untuk bangun Ndi. Rasanya sangat menyakitkan!"


Arum yang mendengar ucapan Dita reflek memegangi perutnya, tiba-tiba dia merasa ngilu saat membayangkan perutnya di belah untuk mengeluarkan seorang bayi. Indhi yang menyadari perubahan wajah Arum sontak khawatir.


"Kamu kenapa?" tanya Indhi cemas.


"Perutku ngilu Ndi, membayangkan perut ini di belah membuatku merinding. Semoga saja nanti aku bisa melahirkan secara normal," jawab Arum seraya mengusap perutnya.


"Iya semoga saja,'" jawab Dita mengaminkan doa sahabatnya.


"Tunggu sebentar. Kenapa kamu sudah memikirkan hal itu? Apa kamu sedang hamil?" terka Indhi dengan perasaan was-was.


"Hem, aku hamil sekarang. Usianya baru 4 minggu!"


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar kehamilan Arum. Sungguh kebahagiaan kini mengikuti ketiga gadis itu, semoga saja kebahagiaan tersebut bertahan selamanya.


"Selamat Rum," ucap Indhi seraya memeluk sahabatnya.


"Terima kasih Ndi."


"Selamat Rum, aku sangat bahagai," sambung Dita yang tak kalah senang.


"Terima kasih Dit."


"Ngomong-ngomong dimana bayi kalian?" tanya Dion seraya mencari keberadaan bayi Dita.


"Masih di ruang khusus bayi karena Dita belum bisa menggendongnya," jawab Dokter Aditya.


"Oh ya siapa namanya?" kini Ega yang bertanya.


"Edward David Syahputra, kalian bisa memanggilnya Dave."


Kebahagiaan begitu terasa di dalam ruangan itu, kehadiran bayi di antara mereka membuat hidup mereka lebih berwarna. Perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya bisa mereka lewati, meski perjalanan mereka masih jauh dan mungkin lebih melelahkan, namun setidaknya mereka kini memiliki kaki yang kokoh dan pundak yang kuat untuk menapaki langkah demi langkah menuju masa depan.


Dan untukmu yang sedang berjuang, yakin dan percayalah jika Tuhan sedang menyiapkan kebahagiaanmu, Tuhan memiliki rencana yang indah untukmu. Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti pada satu titik yang menurutmu melelahkan. Lanjutkan langkahmu dan kejar kebahagiaanmu, karena Tuhan bersama denganmu!


...THE END......