Marry me, Brother

Marry me, Brother
Latihan



Dua minggu kemudian...


Kondisi kesehatan Ega berangsur pulih, kini gips di tangannya pun sudah di lepas, namun karena cedera tersebut membuat Ega masih berdiam diri di rumah. Kini ia telah resmi menjadi pengangguran setelah mengundurkan diri dari rumah sakit milik tuan Hendarwan.


Meski sangat membosankan karena harus berdiam diri di dalam rumah, namun karena egonya yang tinggi membuat pria itu mau tidak mau harus bertahan sampai tangannya bisa memegang pisau bedah lagi dan bisa mencari pekerjaan baru.


Seperti pagi ini, Ega bangun begitu pagi dan memutuskan untuk membuat sarapan. Ega mengecup kening istrinya sekilas, lalu dengan langkah hati-hati ia keluar dari kamar dan turun ke dapur.


Setibanya di dapur, yang pertama kali Ega lakukan adalah melatih tangan kirinya yang cedera. Berbekal pisau dapur dan seekor ayam utuh, Ega mengganggap dapur tersebut sebagai ruang operasi. Ega meraih pisau dapur dengan tangan kirinya, berusaha sekuat mungkin untuk menggenggam gagang pisau tersebut. Setelah berhasil memegang pisau, Ega mulai membelah dada ayam tersebut.


"Membelah dada ayam saja tanganku masih gemetar begini, bagaimana kalau aku membedah tubuh manusia," ucap Ega sedih, meski berhasil membelah dada ayam, namun nyatanya ia belum bisa kembali ke meja operasi, tangannya masih belum baik-baik saja.


Di tengah rasa putus asanya, tiba-tiba dua buah tangan melingkar di perutnya, seseorang memeluknya dari belakang. "Semuanya butuh waktu. Percayalah, suamiku yang hebat ini pasti akan kembali menjadi ahli bedah terhebat di dunia," ujar seseorang yang tak lain istrinya sendiri, Indhi.


Ega menghela nafas berat, pria itu sedikit menggeser kakinya agar bisa cuci tangan. Setelah tangannya bersih, ia melepaskan pelukan istrinya dan berbalik sehingga mereka kini saling berhadapan.


"Sudah seminggu aku berlatih tapi hasilnya tetap sama. Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali ke ruang operasi?" keluh Ega dengan putus asa.


Indhi meraih tangan kiri suaminya, ia lalu mencium tangan tersebut beberapa kali, lalu menatap lembut pria yang kini berwajah sendu. "Berpikirlah yang baik-baik. Kakak pasti sembuh dan akan kembali menjadi ahli bedah. Lagi pula baru satu minggu, bersabarlah kak," kata Indhi menenangkan suaminya.


"Sayang, semakin hari perutmu akan semakin besar. Kalau aku tidak cepat pulih, lalu bagaimana dengan biaya hidup kita sehari-hari. Bagaimana aku bisa membayar biaya persalinanmu nanti, sementara tabunganku sudah menipis," Ega akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya, sebagai seorang kepala keluarga tentu menjadi beban berat saat ia tak bisa menafkahi keluarganya.


"Kak lihat aku," Indhi menangkup wajah Ega agar pria itu mau menatapnya. "Aku juga bekerja, gajiku masih cukup menghidupi kita semua, tabunganku juga masih cukup untuk persalinanku kelak. Kakak tidak perlu terlalu cemas, aku percaya dan sangat yakin jika kakak akan sembuh bahkan sebelum bayi kita lahir."


"Maafkan suamimu ini sayang, dan terima kasih karena kamu selalu mendukungku," ujar Ega dengan tatapan sedih.


Indhi lalu menarik tubuh Ega dan memeluknya, pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, tangan kekarnya melingkar di tubuh Indhi yang mulai berisi.


"Kakak tidak boleh putus asa. Seandainya kakak tidak bisa kembali ke Rumah Sakit, kakak bisa menggunakan ilmu kakak untuk membekali generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan kakak sebagai dokter."


Ega mengurai pelukannya, di tatapnya sang istri dengan penuh kasih sayang. "Sepertinya tidak buruk idemu sayang. Aku lupa kalau aku bisa menjadi tenaga pendidik. Tapi bagaimana kalau ada mahasiswi muda yang menggodaku," ujar Ega berniat menggoda istrinya.


"Kalau begitu jadi pengangguran saja selamanya," pekik Indhi yang tiba-tiba merasa kesal, membayangkan suaminya yang tampan itu di kejar-kejar oleh mahasiswi cantik dan muda sungguh membuat Indhi jengkel.


Ega terkekeh seraya mencubit bibir istrinya yang mencebik. "Aku hanya bercanda sayang. Hanya ada kamu, dan selamanya cuma kamu yang akan memiliki hati ini," Ega lalu kembali memeluk istrinya, ia sedikit merasa bersalah karena membuat Indhi kesal. "Oh ya nanti jam berapa kita berangkat ke rumah baru Arum?" tanya Ega masih dengan memeluk istrinya.


"Jam enam sore," jawab Indhi cuek, rupanya ia masih kesal dengan suaminya.


"Ya sudah, sebaiknya kamu tidur lagi. Aku mau masak untuk sarapan."


"Aku sudah tidak ngantuk, aku mau nemenin kakak masak."


"Ya sudah kalau itu maumu sayang."


***


Waktu sudah menunjukan pukul enam kurang lima belas menit, Ega dan Indhi sudah berada di perjalanan menuju rumah baru Arum dan Dion, kedua pasangan itu memutuskan untuk hidup mandiri di rumah baru mereka dan rencananya hari ini mereka mengundang kerabat dan teman-temannya makan malam di rumah baru mereka.


Sekitar setengah jam akhirnya Ega dan Indhi tiba di kediaman baru sahabat mereka, Indhi mamarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis modern, rumah yang tak terlalu besar namun terlihat mewah. Kedua orang itu lalu masuk ke dalam rumah tersebut dan segera di sambut oleh pemilik rumah.


"Hay Ndi, akhirnya sampai juga," sambut Arum seraya memeluk Indhi.


"Karena rumah ini yang paling dekat dengan tempat kerja kami," sahut Dion yang datang dari dapur dengan membawa dua gelas orange jus. "Bagaimana kabar kalian?" tanya Dion kemudian.


"Aku baik kak," jawab Indhi setelah melepaskan pelukannya.


"Aku juga baik. Hanya saja aku seorang penganguran sekarang," sahut Ega di iringi senyum hambar di wajahnya.


"Apa tangan kakak belum sembuh?" tanya Arum penasaran.


"Sudah lebih baik. Tapi aku belum bisa untuk kembali ke meja operasi," Ega menjawabnya serta menggerak-gerakan tangan kirinya.


"Anggap saja kakak sedang cuti. Sejak dulu kakak terlalu workholic, " Dion menimpali seraya menepuk pundak Ega.


"Benar kata kak Dion, mungkin Tuhan ingin kakak untuk beristirahat dan menemani bu Tika di rumah," ucap Arum mendukung perkataan semuanya.


Di tengah obrolan mereka, pintu rumah kembali terbuka, ke empat orang di dalam rumah menyambut kedatangan Dita dan suaminya, hanya saja ekspresi wajah Ega berubah saat melihat kedatangan Dokter Aditya.


"Arum, Indhi, aku sangat merindukan kalian," ucap Dita dengan wajah sumringah, ketiga wanita itu lalu berpelukan.


Dokter Aditya menarik tubuh istrinya yang terlalu heboh saat bertemu dengan teman-temannya. "Hati-hati, bayi kita bisa terluka," ucap Dokter Aditya posesif.


"Bayi?" ulang Arum seraya menatap Dita.


Dita tersenyum dengan wajah berbinar. "Aku sedang hamil," ucapnya menjawab rasa penasaran Arum.


Arum dan Indhi membekap mulutnya, kedua wanita itu turut berbahagi mendengar kabar baik dari sahabatnya itu.


"Benarkah, sudah berapa bulan?" tanya Indhi seraya memeluk Dita, namun kali ini ia memeluknya dengan hati-hati karena Dokter Aditya menatapnya dengan tajam.


"Delapan minggu."


"Selamat ya Dit," kini giliran Arum yang memeluk Dita setelah Indhi melepaskan pelukannya.


Ketiga wanita itu terlihat sangat bahagia, namun kecanggungan begitu ketara di antara Ega dan Dokter Aditya, bahkan Dion sampai bingung harus bersikap.


"Apa kabar Vin?" tanya Dokter Aditya setelah lama diam.


"Baik, bagaimana denganmu?" jawab Ega dengan wajah datar.


"Aku juga baik. Bagaimana dengan tanganmu?"


"Sudah jauh lebih baik."


"Kamu yakin tidak mau kembali ke rumah sakit?"


Pertanyaan Dokter Aditya sontak membuat Ega menatap tajam sahabatnya itu.


"Tidak!" tegas Ega tanpa berpikir panjang.


BERSAMBUNG...