Marry me, Brother

Marry me, Brother
Ingin hamil



Kehamilan merupakan penyatuan dari Spermatozoa dan ovum dan di lanjutkan dengan Nidasi. Meski proses kehamilan membutuhkan begitu banyak pengorbanan, namun setiap wanita yang telah menikah pastilah mendambakan momen yang akan berlangsung selama 9 bulan tersebut.


Tak ayal dengan Arum, setelah kepergian kedua sahabatnya, wanita itu duduk merenung di atas tempat tidur. Ia sangat bahagia karena kedua temannya telah hamil, namun di sisi lain hatinya ia merasa sedih karena hanya dia yang belum di beri kesempatan untuk hamil.


Arum merasa iri dengan kedua sahabatnya, padahal jarak mereka menikah tak terlampau jauh, namun kenapa dia belum seperti mereka, mengalami momen kebahagiaan bagi sepasang suami istri?


Dion masuk ke kamarnya dan segera menghampiri sang istri, pria itu duduk di tepi tempat tidur lalu menatap lembut wanita yang di cintainya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Dion seraya menyelipkan beberapa helai rambut Arum ke belakang telinga.


"Aku sedih kak. Di antara aku, Indhi dan Dita, kenapa hanya aku yang belum hamil?" jujur Arum dengan wajah sendu, tatapannya begitu sedih dan hampa.


"Sayang, belum genap dua bulan sejak kita menikah. Sabar, jika sudah saatnya kamu pasti akan hamil seperti mereka," ujar Dion menenangkan istrinya, pria itu lalu menarik tubuh Arum ke dalam pelukannya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil?" entah apa yang wanita itu pikirkan, namun tiba-tiba ia merasa takut jika tak bisa memberi keturunan pada suaminya.


"Maka kita akan hidup berdua sampai ajal memisahkan kita," jawab Dion dengan tenang, namun kata-katanya terdengar serius.


"Kamu tidak akan mencari wanita lain yang mampu memberimu keturunan?" tanya Arum dengan cemas.


"Aku menikahimu karena aku mencintaimu dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menikah itu bukan hanya soal anak Rum, dan aku tidak akan pernah memaksamu untuk hamil. Jika Tuhan tak memberi kepercayaan kepada kita untuk menjadi orang tua, berarti Tuhan hanya ingin rasa sayang dan cinta ini tercurah untukmu. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi ya," ucap Dion panjang lebar, pria itu mengeratkan pelukannya seraya mengecup pucuk kepala istrinya.


"Terima kasih kak," ujar Arum penuh syukur.


"Terima kasih juga karena kamu sangat mencintaiku," balas Dion lembut. Sepasang suami istri itu lalu larut dalam pelukan hangat di malam yang terasa dingin.


***


Hari berganti dengan begitu cepat, seminggu telah berlalu setelah acara makan malam di rumah Arum. Selama seminggu ini, Ega tak sekalipun absen untuk mengantar dan menjemput Indhi di Rumah Sakit. Pria itu memanfaatkan waktu luangnya untuk memanjakan sang istri, selama seminggu itu pula Ega menyiapkan bekal makan siang untuk istrinya, ia tak mau istri dan kedua banyinya makan sembarangan di luar.


Seperti pagi ini, sesampainya di parkiran Rumah Sakit, Ega mengantarkan Indhi sampai di depan ruangannya, tak lupa sebuah kotak bekal yang berada di tangannya, kehadiran dua dokter yang kisah cintanya telah melegenda di Rumah Sakit itu tak luput dari perhatian perawat dan dokter yang melihat mereka.


"*Dokter Kevin romantis banget ya."


"Beruntung sekali Dokter Indhi memiliki suami yang sangat romantis."


"Uh, aku ingin memiliki suami seperti Dokter Kevin*."


Kalimat pujian itu tentu saja sampai di telinga Ega, pria itu tersenyum penuh kebanggaan, namun sebisa mungkin ia tetap terlihat tenang agar tak terlihat jika hatinya sedang melayang-layang di udara.


"Jangan lupa makan siangnya di habiskan," pesan Ega seraya memberikan kotak bekal yang di bawanya kepada Indhi.


"Siap kak," jawab Indhi penuh semangat, nyatanya selama hamil hanya masakan Ega yang cocok di lidah dan perutnya, jadi oa tak keberatan jika Ega memasakkan bekal setiap hari.


"Aku pulang, jaga dirimu baik-baik," ucap Ega lagi, pria itu lalu membungkuk dan berbicara di depan perut istrinya yang mulai berisi. "Jangan nakal ya, baik-baik di perut mama. Ayah pulang dulu, nanti sore kita bertemu lagi."


Setelah berpamitan kepada istri dan calon bayinya, Ega segera meninggalkan Rumah Sakit, rencananya hari ini ia akan mengirim surat lamaran ke salah satu Rumah Sakit yang ada di kotanya.


Tepat sebelum jam pulang, seorang perawat datang ke ruangan Indhi dan memberi tahu jika Indhi di panggil ke ruangan tuan Hendarwan. Setelah membereskan barang-barang pribadiny, Indhi bergegas pergi ke ruangan pemilik Rumah Sakit.


Hanya butuh satu ketukan hingga sebauh suara mengizinkan Indhi untuk masuk, perlahan wanita hamil itu mulai melangkahkan kakinya masuk. Di dalam sana, tuan Hendarwan sudah menungunya dengan wajah serius.


"Anda memanggil saya?" tanya Idhi dengan sopan.


"Duduklah Ndi!" titah tuan Hendarwan dan Indhipun mematuhinya, ia duduk tepat di hadapan pemilik Rumah Sakit.


"Saya baik tuan, bagaimana dengan anda?" jawab Indhi ramah, tak lupa ia juga menanyakan kondisi pria tua itu.


"Saya juga baik. Hanya saja saya belum bisa menghilangkan rasa bersalah saya," ujar tuan Hendarwan.


"Maafkan saya tuan, tapi saya juga tidak bisa membantu anda. Mungkin lebih baik anda melupakan masa lalu, lagipula semuanya baik-baik saja sebelum anda membongkar rahasia itu kan?"


"Setelah kamu tua dan merasa jika kematian semakin dekat, kamu akan tau alasan mengapa saya membongkar rahasia itu. Saya tidak mau mati dalam keadaan penuh sesal dan rasa bersalah."


Indhi membisu seketika, di sisi lain ia menyayangkan tindakan pria tua itu, namun apa yang di katakan tuan Hendarwan adalah sebuah kebenaran, tidak ada yang ingin mati sebelum rasa sesalnya pergi.


"Maaf, maaf. Maksud saya meminta kamu datang kemari karena saya ingin menanyakan apakah Departemen Umum kekurangan perawat atau tidak?" ucap tuan Hendarwan mengutarakan maksudnya yang sesungguhnya.


"Sejauh ini kami tidak kekurangan perawat tuan," jawab Indhi yakin.


"Bagaimana dengan peralatan medis?"


"Rumah Sakit memiliki peralatan medis yang canggih, sejauh ini tidak ada masalah tuan."


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh ya, Indhi mau pulang kan?"


"Iya tuan, apa ada keperluan lainnya?"


"Apa Indhi keberatan jika menemani saya turun ke lobby? Kebetulan saya juga mau pulang," pinta tuan Hendarwan.


"Baik tuan."


Keduanya lalu keluar dari ruangan itu dan menaiki lift menuju lobby utama.


"Bagaimana kondisi cucu cucuku?" tanya tuan Hendarwan begitu mereka berada di dalam lift.


"Mereka baik tuan," jawab Indhi singkat, namun ia sedikit terkejut saat tuan Hendarwan memanggil bayinya dengan sebutan cucu.


"Indhi tidak marah kan, kalai saya mengakui mereka sebagi cucu?"


"Tentu saja tidak tuan, biar bagaimanapun anda memang kakeknya,'' balas Indhi dengan bijak, terlepas dari masalah antara suaminya dan tuan Hendarwan, sebuah ikatan darah tak bisa di putuskan begitu saja.


"Terima kasih ya Ndi," ujar tuan Hendarwan seraya tersenyum.


Perbincangan hangat menemani perjalanan mereka menuju lobby Rumah Sakit. Setibanya di lobby, Indhi dan tuan Hendarwan menunggu mobil jemputan meraka. Karena jam pulang kerja, pelataran lobby Rumah Sakit di penuhi antrian mobil yang akan menjemput beberapa dokter dan staff yang bekerja di Rumah Sakit.


Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang menerobos antrian, laju mobil itu tak terkendali dan mengarah ke tempat Indhi dan Tuan Hendarwan berdiri.


Ega yang kebetulan berada di antrian mobil tersebut menatap heran mobil yang menyalip mobilnya dengan ugal-ugalan, namun seketika matanya melebar saat melihat mobil tersebut seakan hendak menabrak istrinya.


Brakkk....


Dan yang di takutnya Ega terjadi, mobil tersebut menabrak seseorang di depan sana.


"Indhi!"


BERSAMBUNG...