
"Tante butuh bantuanmu nak," ucap bu Sherly dengan tatapan memohon.
"Bantuan apa tan?" tanya Indhi.
"Tante ingin kamu membantu tante untuk dekat dengan Ega."
Indhi tersenyum hambar, seperti yang ia pikirkan, wanita itu benar-benar memintanya untuk bisa dekat dengan Ega. "Maaf tan, saya tidak bisa," sahut Indhi setelah lama diam.
"Tolong bantu tante sekali ini saja. Tante mohon nak. Biar bagaimana pun tante adalah ibu mertua kamu kan?"
Kali Indhi tertawa mendengar penuturan ibu Sherly, sepertinya ia tau mengapa Ega sukar untuk memaafkan ibu kandungnya. "Ibu mertua?" ulang Indhi dengan senyum menyindir. "Tidakkan anda berniat meminta maaf dengan suami saya? Jika anda memang ingin dengan dengan kak Ega, kenapa anda tidak mendatanginya langsung?"
"Karena Ega selalu menolak untuk bertemu saya," ujar bu Sherly dengan wajah sendu.
"Mungkin karena anda tidak tulus makannya kak Ega menolak untuk bertemu dengan anda," sahut Indhi.
"Saya benar-benar ingin dekat dengan Ega. Saya menyesal karena sudah meninggalkannya. Namun saat itu saya tidak punya pilihan, saya masih terlalu muda untuk merawat Ega seorang diri," kilah bu Sherly membela diri.
"Tante bukan tidak punya pilihan, tapi memang tante yang memilih meninggalkan kak Ega demi kehidupan yang lebih nyaman," pungkas Indhi penuh sindiran. "Apa salahnya mengakui kesalahan tanpa memberi alasan. Sepanjang apapun anda beralasan, menelantarkan seorang anak tetaplah kesalahan yang tidak termaafkan," imbuh Indhi berapi-api, ia bahkan meninggikan suaranya hingga mendapat tatapan dari pengunjung lain.
Arum yang menyadari hal itu pun segera menghampiri Indhi untuk menenangkan sahabatnya. "Tenang. Kita pergi saja sekarang," bisik Arum seraya menepuk punggung Indhi.
Indhi beranjak dari kursinya, namun sebelum pergi ia kembali menatap tajam wanita yang memang seharusnya menjadi ibu mertuanya. "Datang temui kak Ega saat anda benar-benar tulus mengakui kesalahan anda," pesan Indhi dengan tegas, ia lalu menarik tangan Arum untuk keluar dari restoran itu.
Indhi dan Arum bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan itu karena mood Indhi sudah rusak saat bertemu kedua wanita itu. Indhi tak henti-hentinya menghela nafas berat saat berada di dalam mobil yang di kendarai Arum.
"Apa yang dia bicarakan sampai-sampai kamu berteriak?" tanya Arum penasaran.
"Dia ingin dekat dengan kak Ega, tapi dia enggan mengakui kesalahannya. Katanya dia tak punya pilihan saat meninggalkan kak Ega dulu," ucap Indhi menjawab rasa penasaran Arum.
"Sebaiknya kamu hati-hati sama mereka. Aku masih ingat saat Naura menyakiti kamu dan ibunya membela setengah mati padahal jelas-jelas anaknya salah."
"Iya Rum. Aku juga harus mengingatkan kak Ega untuk tidak terlalu percaya pada wanita itu. Aku merasa wanita itu punya niat lain mendekati kak Ega lagi."
Matahari mulai tergelincir ke barat, sang surya mulai kembali ke peraduannya dan meninggalkan bias senja yang begitu menakjubkan. Langit yang berwarna jingga menemani perjalanan kedua wanita itu menuju rumah sahabatnyam
Setelah berdiskusi cukup panjang, Indhi dan Arum memutuskan untuk mengirim hadiah yang mereka beli ke rumah orang tua Dita, dengan begitu mereka tidak perlu bertemu Dita karena mereka tau jika Dita masih tinggal di apartemen milik calon suaminya dan mereka juga belum siap untuk bertemu Dita.
Arum memarkirkan mobilnya di depan rumah orang tua Dita, kedua wanita itu keluar dari mobil dan membawa hadiah masing-masing.
"Nak Indhi, nak Arum. Mari masuk," bu Martini mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya ibu ambilkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot bu, kami hanya sebentar," potong Arum dengan cepat.
Bu Martini lalu duduk di sebelah Arum, namun wanita menatap Indhi dengan tatapan yang sukar di jelaskan.
"Niat kami ke sini karena ingin memberikan hadiah ini untuk Dita," ucap Arum menyampaikan maksud dan tujuannya datang. Arum lalu sedikit menggeser kotak kado yang mereka taruh di atas meja.
"Kenapa tidak menemui Sita saja nak?"
Indhi dan Arum saling melempar pandang, mereka tidak tau harus menjawab apa tentang pertanyaan ibu Martini.
"Kami ingin memberi kejutan," jawab Indhi setelah cukup lama diam.
"Terima kasih untuk kebaikan kalian berdua. Dita sangat beruntung memiliki kalian.Tapi Dita terlalu bodoh karena mampu meyakiti kalian," bu Martini menunduk lemah, wanita itu seolah sedang meratapi sesuatu.
"Apa maksud ibu?" tanya Indhi cemas.
Bu Martini lalu berdiri dari duduknya, wanita itu memutari meja dan duduk bersimpuh di hadapan Indhi.
"Apa yang ibu lakukan. Bangun bu!" ucap Indhi terkejut. Wanita itu lalu berusaha membantu bu Martini untuk bangun.
"Ibu sudah tau semuanya nak. Ibu tau apa yang sudah Dita lalukan kepadamu. Dita menceritakan semuanya dan ibu merasa sangat bersalah."
"Tapi ibu tidak perlu seperti ini bu. Ibu bangun dulu lalu duduk, setelah itu kita akan membahas masalah ini,"
"Tidak nak, ibu bahkan rela bersujud di kakimu. Karena perbuatan Dita, kamu jadi kehilangan calon anakmu. Ibu sangat malu kepada Indhi karena selama ini Indhi sudah banyak membantu Dita."
Indhi mematung sejenak, ia kembali teringat dengan janin yang sudah tidak ada lagi, namun ia mengingat pesan Ega agar tidak membeci orang lain secara berlebihan.
"Semuanya sudah terjadi. Saya sudah ikhlas tidak akan menuntut balas kepada siapapun," jawab Indhi dengan bijak.
BERSAMBUNG...