
Setelah memberikan hukuman untuk suaminya, kini Indhi berada di dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Padahal tadi sore dia sudah makan bersama teman-temannya, tapi Indhi sudah merasa perutnya sangat lapar dan ingin segera di isi.
"Tidak ada apapun," ucapnya sedih, Indhi berjongkok di depan kulkas yang terbuka dan hanya menemukan air mineral.
"Kamu lapar?"
Indhi menoleh ke arah sumber suara, suaminya tengah menyusuri anak tangga dengan rambut basah, pria itu baru saja mandi. Sesaat Indhi merasa bersalah karena memberi hukuman kepada suaminya, tapi salah siapa membiarkan orang lain memeluknya.
"Hem."
"Mau makan apa? Kita cari keluar, aku juga lapar," ajak Ega dan segera di sambut dengan antusias oleh istrinya.
"Naik motor ya!" pinta Indhi, wanita itu tersenyum lebar saat suaminya mengangguk. Wanita itu lalu berdiri dan menghampiri suaminya. "Terima kasih," sebuah kecupan mendarap di pipi Ega, setelah itu Indhi berlari ke lantai atas untuk mengambil jaketnya dan juga milik suaminya.
"Kenapa moodnya mudah sekali berubah? Apa tamu bulanannya datang lagi?" gumam Ega karena merasa aneh dengan sikap istrinya.
Tak lama Indhi turun dengan memakai jaket dan membawakan jaket untuk suaminya, pria itu menerima jaketnya dan memakainya dengan senyum, setengah ragu Ega meraih tangan istrinya dan menuntunnya keluar dari rumah.
"Pakai helm dulu," ucap Ega seraya memakaikan pelindung kepala kepada istrinya.
Sepasang suami istri itu menyusuri jalanan kota yang masih ramai, Indhi membonceng dan memeluk suaminya dengan erat, sesekali Ega mengelus punggung tangan Indhi yang ada di perutnya.
"Kak berhenti, aku mau makan itu," Indhi menepuk paha suaminya saat melewati penjual durian.
"Durian?" tanya Ega memastikan.
"Iya."
Ega menepikan motornya di dekat penjual durian. Indhi segera turun dari motor dan menghampiri penjual durian tersebut, dengan mata berbinar ia menatap durian tersebut dan ingin segera memakannya.
Dengan bersemangat Indhi memakan buah durian yang di pesannya tadi, sementara sang suami hanya menatap istrinya yang sangat lahap memakan buah dengah aroma unik itu.
"Pelan-pelan,"ucap Ega saat melihat Indhi begitu lahap.
Setelah menghabiskan satu buah durian seorang diri, Indhi kembali mengajak Ega berkeliling, wanita itu masih celingukan mencari sesuatu yang ingin di makannya tadi, perutnya masih saja meronta minta di isi.
"Kak aku mau itu," Indhi menunjuk penjual bakso bakar yang ada di pinggir jalan, Ega menepikan motornya, pria itu turun dan membiarkan istrinya tetap duduk di atas motor.
"Kamu baru aja makan durian, nanti kalau perutnya sakit gimana? Jajannya besok lagi ya, kita jalan-jalan aja ya?" bujuk Ega karena tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.
"Tapi aku mau bakso bakar," ucap Indhi dengan mata tak lepas dari kepulan asap hasil pembakaran bakso.
"Ya udah tunggu di sini biar aku beliin."
Indhi menurut dan menunggu suaminya, air liurnya hampir menetes saat membayangkan bakso bakar yang di siram dengan saus sambal, kecap dan juga mayonise, rasanya pasti sangat nikmat.
Beberapa menit kemudian Ega kembali dengan membawa dua tusuk bakso bakar lengkap dengan saos sambal, kecap dan mayonise, pria itu memberikan satu tusuk untuk istrinya dan satu tusuk lagi untuk dirinya sendiri.
"Sayang, kapan terakhir kamu menstruasi?" tanya Ega sambil menatap istrinya yang sedang menikmati bakso bakar.
"Beberapa hari setelah kita menikah, kenapa?" jawab Indhi tanpa menaruh curiga pada pertanyaan suaminya.
"Berarti bulan ini kamu belum menstruasi lagi? " tanya Ega lagi dan hanya di jawab gelengan kepala oleh istrinya. Ega diam sejenak menghitung siklus menstruasi istrinya, sudah hampir tiga bulan sejak mereka menikah, jika di hitung seharusnya Indhi sudah menstruasi lagi, tapi wanita itu mengaku belum kedatangan tamu bulanannya.
Uhuk...
Indhi tersedak ludahnya sendiri, wanita itu lalu menatap suaminya dengan tatapan aneh. "Hamil? Nggak mungkin ah," elaknya tak percaya.
"Kenapa nggak mungkin, kamu sudah bersuami dan aku sering membuahimu?" ujar Ega, wajahnya sedikit kecewa saat istrinya mengatakan bahwa dia tidak mungkin hamil.
"Atas dasar apa kakak mengira kau hamil?" tanya Indhi dengan wajah serius.
"Pertama kamu sudah telat satu minggu. Kedua, mood kamu gampang sekali berubah. Ketiga, kamu jadi hobi makan. Kamu bahkan makan durian tadi, padahal dulu kamu tidak terlalu menyukainya."
Indhi meletakkan bakso bakarnya, wanita itu baru saja ingat jika ia memang belum mestruasi bulan ini, Indhi memegangi perutnya yang masih rata. "Apakah mungkin? Secepat ini?" ucapnya pelan.
"Lebih baik kita beli alat tes kehamilan dulu, besok baru kita periksa ke Dokter Kandungan."
Indhi mengangguk patuh, saking penasarannya ia bahkan melupakan bakso bakarnya dan menyuruh suaminya untuk segera membeli alat tes kehamilan.
Ega membeli empat buah alat tes kehamilan dengan merk berbeda, setibanya di rumah Indhi segera ke kamar mandi dan mengecek apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
Indhi keluar dari kamar mandi dengan wajah sedih, wanita itu berjalan menghampiri suaminya dan tiba-tiba memeluknya. "Negatif," ucapnya pelan.
"Jangan sedih, kita masih punya banyak waktu. Mungkin Tuhan ingin kita menikmati waktu berdua dulu," ucap Ega mencoba menenangkan istrinya.
"Kakak nggak kecewa?" tanya Indhi dengan posisi masih berada di dalam pelukan suaminya.
"Kenapa harus kecewa. Mungkin memang belum waktunya kita menjadi orang tua," Ega mengusap kepala istrinya dengan lembut, pria itu juga membanjiri kening istrinya dengan kecupan.
"Ganti bajumu dan istirahat."
Indhi melepaskan pelukannya, wanita itu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mangganti baju. Indhi keluar dengan menggunakan piyama panjang, wanita itu menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa. Indhi lalu duduk di sebelah suaminya, detik selanjutnya wanita itu sudah rebahan dengan berbantal paha sang suami.
"Oh ya sayang, aku sampai lupa mau memberi tahu kamu, kalau lusa aku harus mengikuti seminar di luar kota. Besok kita pulang ke rumah ibubya biar kamu nggak sendirian di sini!"
Indhi merubah posisinya, kini ia terlentang dan menatap suaminya dari bawah."Berapa lama kak?" tanyanya tak bersemangat.
"Tiga hari."
"Sama siapa aja perginya?"
"Aku, Dokter Ilham dan beberapa rekan dari Departemen Bedah Umum," jawab Ega saraya membelai lembut wajah istrinya.
"Nggak papa pergi sama Dokter Ilham? Maksudku kakak nggak akan memukulnya kan?" tandas Indhi karena merasa khawatir kejadian beberapa bulan yang lalu akan terulang.
"Aku akan berusaha bersikap profesional. Apa kau mengkhawatirkan Dokter Ilham?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya khawatir kakak tidak bisa menahan emosi, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kakak."
"Terima kasih karena sudah khawatir," Ega sedikit membungkukkan tubuhnya, wajah mereka kini begitu dekat, karena Ega tak kunjung menciumnya, Indhi berinisiatif untuk menarik tengkuk Ega dan mencium bibir suaminya.
BERSAMBUNG...