
Setelah mendapat perawatan dari sahabatnya kini Arum merasa lebih baik, bahkan semalam ia menolak saat Indhi akan kembali ke rumahnya. Pagi ini Arum bangun lebih awal dan bersiap ke kantornya, empat hari waktu yang cukup baginya untuk meratapi tragisnya cinta sepihak yang telah bertahun-tahun ia simpan. Kini Arum bersiap melangkah maju, tekadnya telah bulat untuk menghapus perasaan cintanya, kini ia hanya akan fokus pada karirnya sebagai seorang pengacara.
Saat turun dari kamar, kedatangannya di sambut hangat oleh keluarganya, di meja makan tak biasanya Arum melihat kedua orang tuanya sarapan bersama, biasanya dia akan sarapan sendiri karena Fajar kini tinggal bersama istrinya.
Kini orang tuanya meluangkan waktu untuknya, sayangnya Arum sudah tidak membutuhkan hal itu, karena terlalau terbiasa sarapan seorang diri membuat Arum enggan untuk bergabung bersama kedua orang tuanya, gadis tomboi itu memutuskan untuk berangkat kerja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Arum menghentikan langkahnya saat melihat Dion menunggu di depan rumahnya, sebenarnya debaran itu masih sama, hanya saja Arum begitu terluka akan perkataan Dion yang menurutnya telah melecehkannya. Setelah mengatur nafas, Arum melangkah lebih dekat ke arah Dion, manik matanya hanya di hiasi kepulan amarah.
"Ada apa?" tanyanya cuek.
"Aku mau bicara, beri aku waktu sebentar saja!" pinta Dion setengah memohon.
"Satu menit."
Dion belum bisa merangkai kata-katanya, padahal semalam ia telah berlatih untuk meminta maaf kepada Arum, tapi kini ia merasa kepalanya kosong dan tak ada satupun kalimat yang dia hafalkan keluar dari mulutku.
" tiga puluh satu, tiga puluh dua," Arum menghitung detik-detik yang Dion lewatkan, pria itu begitu panik karena waktunya tak kurang dari setengah menit lagi.
"Lima puluh lima, lima puluh en ..."
"Aku juga mencintaimu," ucap Dion di detik terakhir waktu yang ia miliki, ia berharap Arum akan merubah ekspresi wajahnya setelah Dion mengungkapkan perasaannya, namun harapan tak sesuai kenyataan, wajah Arum masih terlihat begitu datar tanpa menunjukka ekspresi sedikitpu.
"Oh," jawab Arum sangat singkat. "Sudah selesai kan?" tanya Arum dan hanya di angguki oleh Dion, pria itu begitu terkejut karena Arum terlihat cuek dan biasa saja.
Brakk..
Suara pintu mobil yang di banting oleh Arum menyadarkan Dion dari rasa tidak percayanya, gadis itu benar-benar berubah. Dion hanya menatap kepergian mobil Arum begitu saja, ia kembali merasa kecewa.
Sementara di dalam mobil, Arum mengamati Dion dari spion mobilnya, ekspresi wajah gadis itu tak terbaca sama sekali, entah apa yang di rasakan olehnya kini.
"Aku hanya ingin lihat seberapa besar kau mencintaiku kak," gumamnya pelan sebelum mobilnya benar-benar meninggalkan halaman rumahnya.
***
Saat istirahat jam makan siang, Arum pergi bersama teman-teman satu kantornya untuk makan siang bersama di salah satu restoran cepat saji. Entah sebuah kebetulan atau memang Dion mengikutinya, mereka kembali bertemu di restoran tersebut.
"Rum," sapa Dion saat pria itu menghadang langkah Arum.
"Kalian duluan aja nanti aku nyusul," pesan Arum kepada teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Arum dingin, sama sekali tak ada senyum yang membingkai wajah manisnya.
"Aku ingin minta maaf. Waktu itu aku benar-benar pengecut!" ucap Dion sedih, pria itu benar-benar menyesali perbuatannya.
"Heh," dengus Arum seraya mengangkat sebelah bibirnya, gadis itu tersenyum mengejek.
"Aki serius Rum. Aku benar-benar minta maaf. Dan untuk yang aku katakan tadi pagi aku juga serius, aku juga menyukaimu," lanjut Dion berusaha membujuk Arum.
"Kemarin kamu bilang hanya sebuah kesalahan dan sekarang kamu bilang serius. Kenapa cepat sekali berubah pikiran? Apa karena om Fajar menghajarmu waktu itu?"
"Ya ya ya. Sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi kan? Aku permisi," Arum melewati Dion begitu saja dan bergabung bersama teman-temannya.
"Sebenci itukan kamu denganku," batin Dion nelangsa, jika dulu Arum akan sangat bersemangat saat bertemu dengannya, tapi kini tersenyumpun tidak, gadis itu mungkin membencinya sekarang.
Waktu berputar begitu cepat, akibat cuti beberapa hari kini Arum harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, namun belum ada tanda-tanda gadis itu keluar dari kantornya.
Dering ponsel menjeda aktivitas Arum, gadis itu tersenyum mendapati panggilan Vidio dari Indhi, dengan cepat ia menggeser tombol hijau dan panggilan segera tersambung.
"Hallo," sapa Arum sambil tersenyum.
"Kamu masih di kantor? Sore tadi aku ke rumah, tapi kata bi Nani kamunya kerja? Kamu yakin sudah sehat?" cecar Indhi dengan berbagai pertanyaannya.
"Satu-satu nanyanya Ndi," sahut Arum sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ega yang ternyata sedang bersama Indhi.
"Sudah lebih baik kak," jawab Arum. Gadis itu merasa bersyukur karena memiliki orang-orang yang sangat memperdulikannya.
"Jangan terlalu di paksakan, kalau kamu sakit waktuku untuk membuatkanmu keponakan akan berkurang," oceh Ega tak tau malu.
"Kakak ngomong apa si?" protes Indhi kepada suaminya.
"Bener kan. Kalau Arum sakit kamu pasti akan bersama dia dan merawatnya. Aku di tinggal dan tisak bisa mem...."
Indhi membekap mulut suaminya sebelum pria itu melanjutkan perkataan mesyumnya. Melihat kedekatan mereka, Arum tentu saja merasa sangat bahagia, setidaknya kini ia tak harus mengkhawatirkan Indhi lagi karena Arum yakin Ega adalah pria paling tepat untuk sahabatnya.
"Aku nggak akan sakit kak, jadi buatkan aku keponakan yang lucu dan cantik seperti mamy-nya." kata Arum sambil tersenyum.
"Arum kenapa malah ikut-ikutan sih," Indhi kembali melayangkan protes.
"Sudah malam Rum. Pulang sana, kita mau bikin ba..." lagi-lagi Ega tak bisa melanjutkan kata-katanya karena Indhi kembali membekap mulutnya.
"Sudah larut Rum, pulangnya hati-hati ya? Atau mau aku jemput?" tawar Indhi yang merasa khawatir pada sahabatnya.
"Aku bisa pulang sendiri. Sudah sana, buatkan aku keponakan. Aku tutup ya."
Arum menggeleng pelan sambil tersenyum, tiba-tiba dia membayangkan perut Indhi membesar dan sahabatnya melahirkan seorang bayi.
"Pasti sangat seru. ya Tuhan rupanya kami sudah dewasa. Rasanya baru kemarin kami berangkat sekolah dan naik angkot bersama."
Arum kembali mengenang masa lalu, saat pertama ia bertemu dengan Indhi sewaktu mereka bersekolah di SMP yang sama, sejak saat itu mereka berteman dan memutuskan untuk melanjutkan sekokah di SMA yang sama, mereka lalu lalu berbeda kampus karena Indhi memutuskan menjadi dokter dan Arum menjadi pengacara.
"Semoga persahabatan kita tetap terjalin selamanya ya Ndi. Aku sangat bersyukur karena mengenalmu dan memilikimu."
BERSAMBUNG..