
Di sebuah kamar yang tak terlalu besar, seorang gadis duduk di balik pintu sambil memeluk kedua kakinya, gadis itu terisak seorang diri di dalam kamarnya yang dingin. Bak kaset usang, memorinya memutar balik kenangan demi kenangan di masa lalu, saat pertama ia bertemu dengan kedua gadis sebaya dengannya di bangku SMA, saat akhirnya mereka berteman baik.
Gadis itu menghentikan tangisnya, ia lalu berdiri dan berjalan menuju ranjang berukuran sedang dan duduk di tepinya, di raihnya sebuah figura yang berada di atas meja. Air matanya kembali menetes saat melihat foto kebersamaannya dengan kedua sahabatnya.
"Aku memang bodoh, aku sangat menyesal," ucap gadis tersebut yang tak lain adalah Dita.
Dita memeluk foto itu, penyesalan memang selalu terjadi di akhir. Kini ia merasa tak pantas berteman dengan Indhi dan Arum.
Di antara ketiga gadis itu, Dita memang tak seberuntung Indhi dan Arum dalam masalah ekonomi, gadis itu lahir dan tumbuh di dalam sebuah keluarga yang cukup sederhana. Kedua orang tuanya hanya seorang karyawan pabrik dengan gaji yang tak terlalu besar. Namun itu semua tak membuat Indhi dan Arum tak mau berteman dengannya, kedua gadis itu justru merangkul Dita agar tidak malu dengan status sosial keluarganya.
"Apa kalian masih mau berteman denganku?" tanyanya pada benda tak bernyawa itu, ia lalu kembali memeluk bingkai foto tersebut. "Aku akan menebus semua kesalahanku Ndi," imbuhnya dengan terisak.
Sementara di tempat lain, setelah pulang dari pemakaman janin Lily, Dion dan Arum tak langsung pulang. Mereka berhenti di salah satu taman yang tak terlalu jauh dari rumah Arum. Di dalam mobil mereka masih saling diam, keduanya menatap air mancur yang berada di tengah taman itu.
"Rum," panggil Dion memecahkan keheningan.
"Ya," jawab Arum sambil menoleh, saat yang bersamaan Dion juga menoleh sehingga mereka saling bertatapan.
"Kamu mau turun?" tawar Dion dengan canggung.
"Sudah malam, di luar pasti dingin," tolak Arum karena di luar memang sudah gelap dan sedikit berangin.
Dion melepaskan sabuk pengamannya, pria itu sedikit merubah posisi duduknya, ia memiringkan tubuhnya hingga bisa menatap Arum dengan leluasa.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Arum sambil tersipu, sebab tatapan Dion membuatnya salah tingkah.
"Sejak kapan kamu cantik seperti ini?" dengan berani Dion menyentuh kulit wajah Arum dan membuat gadis itu merasakan kehangatan tangan pria yang sangat di cintainya.
"Aku cantik sejak dulu, kamu saja yang buta," sindir Arum dengan wajah datar.
"Ya, aku memang bodoh karena tidak menyadari kecantikan serta perasaanku sendiri. Aku menyesal karena dulu selalu menolakmu," ungkapnya jujur. "Tapi sekarang aku sudah menyadari kesalahanku, aku juga sudah mengakui perasaanku. Aku mencintaimu Rum. Bisakah beri satu kesempatan lagi untukku, aku ingin kamu menjadi istriku."
Arum hampir tak bisa mengendalikan perasaannya, rasanya ia ingin menjerit dan segera menerima lamaran Dion, namun Arum harus bisa menahan diri, ia ingin tau sejauh mana Dion akan berusaha mengejarnya.
"Kamu yakin yang kamu rasakan itu cinta? Aku ragu, jangan-jagan kamu hanya kasian padaku kak?"
Dion tersenyum simpul lalu meraih tangan Arum dan menempelkan tangan Arum di dadanya. "Kamu merasakannya? Hanya kamu yang membuatnya berdebar seperti ini," ucap Dion tanpa memalingkan tatapannya dari wajah Arum.
Arum tak berkutik, gadis itu bersusah payah untuk menelan salivanya. Tatapan serta detak jantung Dion membuatnya tak bisa berucap apapun. "Aku..."
Wajah Dion semakin dekat hingga Arum bisa merasakan nafas hangatnya, pria itu benar-benar membuat Arum mati kutu. "Beri aku satu kesempatan lagi, aku berjanji akan menebus semua kesalahanku. Aku akan membahagiakanmu," Dion tak bisa menunggu lebih lama lagi, penolakan Arum beberapa waktu lalu membuatnya semakin ingin memiliko gadis itu dengan segera.
"Kamu yakin mencintaiku?" Arum mengulangi pertanyaannya, ia takut Dion hanya mempermainkannya atau sedekar mengasihaninya atau mungkin karena Fajar sudah mengancam pria itu, semua ketakutan tersebut memenuhi kepala Arum.
"Bukti apa yang bisa membuatmu percaya?" tanya Dion yang terdengar seperti sebuah tantangan. "Aku bahkan bisa menikahimu sekarang," imbuhnya tanpa ragu-ragu.
"Ka-kamu tidak akan meninggalkanku kan?" ujar Arum masih ragu dengan pengakuan Dion.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, namun aku berjanji hanya kematian yang akan membuatku meninggalkanmu."
"Sangat."
"Kamu tidak akan menyesal?"
"Tidak."
Arum menggigit bibir bagian dalam, sebisa mungkim menahan senyum yang akan berkembang di wajahnya. Malam itu ia sangat bahagia, penantiannya selama bertahun-tahun terbayarkan sudah. Penolakan yang selalu ia terima kini tergantikan oleh pinangan dari pria yang sudah di cintainya sejak lama.
"Bagaimana, kamu mau menikahiku kan?" tanya Dion lagi karena tak sabar menunggu jawaban Arum.
"Hem."
"Apa maksud dari 'Hem', mau menikat atau tidak?" tentu saja jawaban Arum membuat Dion tak puas.
"Ya, aku mau menikah. Puas!"
Senyum kembali merekah di wajah Dion, tanpa menunggu pesetujuan Arum, pria itu segera mencium bibir ranum milik gadisnya. Arum yang masih begitu terkejut hanya bisa diam, matanya membelalak seolah akan melompat keluar, namun ciuman lembut yang di berikan Dion perlahan membiusnya, ia mulai menutup matanya dan mulai menikmati permainan lidah Dion, bahkan kini Arum berani membalas ciuman itu.
Dion melepaskan ciumannya, pria itu mengusap bibir Arum yang basah karena ulahnya. "Terima kasih," ucapnya ambigu, apa maksud dari terima kasih yang di ucapkan, terima kasih untuk jawab Arum atau terima kasih untuk ciumannya?
"Untuk?" tanya Arum penasaran.
"Karena kamu bersedia menikah denganku dan untuk ciuman yang manis," jawabnya tanpa ragu, pria itu lalu membuka dashboard dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Dion membuka kotak itu, di keluarkannya cincin bertahtakan berlian yang sudah ia persiapkan sejak beberapa minggu yang lalu, cincin yang selalu ia bawa kemana-mana dan menunggu sang pemilik asli mau memakainya.
Dion lalu meraih tangan Arum dan menyematkan cincin tersebut di jari manis Arum, tak lupa sebuah kecupan juga ia berikan di punggung tangan gadis yang sudah resmi menjadi calon istrinya.
Arum menatap cincin yang melingkar di jarinya, gadis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sungguh impiannya terkabul sudah, perjuangannya membuahkan hasil, kini pria yang bertahun-tahun di kejarnya sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya.
"Kenapa menangis?" tanya Dion saat menyadari air mata luruh di wajah calon istrinya.
"Aku sangat bahagia kak. Kau tau sejak kapan aku menyukaimu?" jawab Arum yang juga di selingi sebuah pertanyaan.
"Sejak kapan?" Dionpun ikut penasaran, sejak kapan gadis itu mulai menyukainya, ia bahkan lupa kapan pertama kali Arum mengatakan cinta kepadanya.
"Sejak aku masih SMP. Saat itu kamu malah menyukai Indhi. Saat hari kelulusan kami, kamu hanya membawakan bunga untuk Indhi," ungkap Arum mengenang masa lalu.
"Maaf," hanya satu kata yang mampu Dion ucapkan setelah mengenang masa lalu.
"Tidak perlu minta maaf. Aku juga masih terlalu kecil waktu itu," sahut Arum sambil menggenggam tangan Dion.
"Maaf untuk ketiap perlakuanku di masa lalu, mulai sekarang aku hanya akan membahagiakanmu. Secepatnya aku akan melamarmu secara resmi," Dion menarik tubuh Arum ke dalam pelukannya. Sejak menyadari perasaannya, ia sudah bertekad untuk menebus segala kesalahannya, ia berjanji untuk selalu membahagiakan Arum, gadis kecil yang mencintainya sejak lama, gadis tomboy yang hanya melabuhkan hati hanya padanya.
Apa kalian percaya akan cinta sejati?
BERSAMBUNG...