
Selepas pulang kerja, Bella tak segera kembali ke rumahnya, gadis itu sengaja menunggu Dita agar bisa menebarkan racun di kepala perawat muda itu.
"Kakak baru pulang?" tanya Bella setelah melihat Dita keluar dari ruang ganti khusus perawat.
"Iya, kamu juga baru pulang?" tanya Dita sambil tersenyum, pengaruh Bella benar-benar membuatnya berubah, awalnya dia sangat membenci Bella karena masalah Indhi, namun kini Dita merasa nyaman berdekatan dengan Bella tanpa tahu rencana busuk gadis itu.
"Iya kak, rame banget apoteknya hari ini," keluh Bella guna menarik simpati Dita. "Kakak bawa kendaraan nggak?" tanya Bella lagi.
"Aku bawa motor," ujar Dita.
"Kita ke parkiran bareng kak" ajak Bella dan hanya di jawab anggukan oleh Dita.
Tanpa keduanya sadari, kepergian mereka di ikuti oleh Arum yang baru saja keluar dari Rumah Sakit.
"Kakak nggak beliin makan malam buat Dokter Kevin dulu," saran Bella setibanya mereka di parkiran Rumah sakit.
"Haruskah?" ucap Dita ragu.
"Harus dong kak, kalau kakak memang suka sama Dokter Kevin, kakak harus memanfaatkan waktu ini untuk mendekatinya. Kecuali kalau kakak memang tidak punya perasaan apapun kepada Dokter Kevin," imbuh Bella di barengi senyum liciknya.
"Aku akan bersikap egois seperti yang kamu katakkan Bell," sahut Dita dengan mata memerah, gadis itu termakan hasutan Bella.
"Jadi kakak menyukai Dokter Kevin?" tanya Bella untuk memastikan kecurigaannya.
"Hem, kami bahkan pernah menjalin hubungan," jujur Dita karena berfikir Bella bisa di percaya.
"Astaga, pantas saja aku mengira kalau kalian pasangan kekasih," Dita hanya tersenyum menanggapi ucapan Bella. "Semangat kak, aku akan mendukung kakak, apapun yang seharusnya menjadi milik kakak harus kakak rebut kembali!"
Sementara di balik mobil, Arum mengepalkan tangannya, gadis itu bersembunyi dan mendengar semua ucapan kedua orang itu, beruntungnya Arum sempat merekam pembicaraan mereka, mungkin saja rekaman tersebut bisa berguna suatu saat nanti. Arum lalu mengatur nafasnya, ia harus bisa menahan amarah serta emosinya, gadis itu tak menyangka jika akhirnya Dita terhasut oleh omongan Bella, si gadis ular berbisa.
Arum kembali mengikuti Dita yang berjalan masuk ke dalam salah satu restoran cepat saji yang berada tak jauh dari Rumah Sakit, Arum penasaran dengan reaksi Dita jika ia memergokinya membelikan makanan untuk Ega.
"Dita," panggil Arum dari arah belakang, yang di panggil menoleh dan terlihat gugup begitu melihat Arum.
"A-Arum," ucap Dita gugup. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku baru saja menemui kak Ega dan aku merasa lapar. Kamu baru pulang kerja?" tanya Arum sambil tersenyum
"Iya," jawab Dita singkat.
"Banyak sekali beli makanannya, mau di bawa pulang?" selidik Arum seraya melirik kantong plastik di tangan Dita.
"Oh begitu." Arum mengangguk-anggukan kepalanya. "Kamu bahkan mulai berbohong Dit, aku benar-benar kecewa," batin Arum seraya menatap nanar sahabatnya.
"Aku duluan ya Rum, maaf nggak bisa nemenin kamu makan," pamit Dita buru-buru.
"Hati-hati ya Dit."
Arum menatap getir kepergian sahabatnya, di saat Indhi tengah terbaring lemah di Rumah Sakit, justru Dita berencana mengkhianatinya. "Aku tau kita bersahabat Dit, tapi Indhi lebih dari apapun di hidupku, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Indhi!" gumam Arum seraya mengepalkan tangannya.
Dita berlari menuju Rumah Sakit, ia begitu gugup setelah membohongi Arum, sesekali Dita menoleh ke belakang karena khawatir jika Arum mengikutinya, dan benar saja tanpa Dita sadari, Arum memang mengikutinya dari belakang.
Dita mengatur nafasnya begitu ia di dalam Rumah Sakit, gadis itu membenahi penampilannya sebentar sebelum melangkahkan kakinya mendekati Ega.
"Kak," panggil Dita dengan lembut.
Ega menoleh saat suara tak asing itu memanggilnya, pria itu berdiri saat melihat kedatangan Dita. "Kamu belum pulang?" tanya Ega berbasa-basi, sebenarnya Ega merasa jika Dita tengah mendekatinya lagi dan hal itu membuat Ega merasa risih, namun Ega menahannya karena bagaimanapun Dita adalah sahabat Indhi.
"Hem. Oh ya aku bawakan makan malam, kakak pasti belum makan," Dita menyodorkan kantong plastik yang di bawanya.
"Lain kali tidak perlu repot Dit, aku bisa membelinya sendiri," ucap Ega seraya meraih kantong plastik berisi dua box nasi bento. "Kenapa ada dua, satu saja sudah cukup Dit?" tanya Ega begitu membuka kantong plastik tersebut.
"Sebenarnya aku juga belum makan kak. Bagaimana kalau kita makan sebentar, setelah itu akan berjaga di sini, kakak bisa istirahat sebentar," ujar Dita memulai aksi pendekatannya lagi.
Ega merasa tidak enak hati, pria itu tak bisa menolak ajakan Dita. "Baiklah," Ega melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit menuju taman dan di ikuti Dita di belakangnya, gadis itu tersenyum seraya menatap punggung lebar milik Ega.
Ega dan Dita menikmati makan malambya di temani cahaya temaran yang berada di taman Rumah Sakit, acara makan malam mereka rupanya di intip oleh dua gadis dengan ekspesi yang berbeda. Disisi lain, Arum menahab amarahnya melihat Ega dan Dita makan malam bersama.
"Kali ini aku akan diam saja Dit, jika masih ada lain kali maka aku tidak akan tinggal diam," batin Arum, gadis itu lalu memutuskan untuk pulang dari pada harus menaha emosi melihat niat buruk sahabatnya.
Sementara di sisi lainnya lagi, Bella tersenyum penuh kemenangan, tak lupa gadis itu memotret kebersamaan Ega dan Dita, belum lagi gambar yang di ambilnya begitu pas saat Dita tengah mengambil nasi di bibir Ega.
"Aku sudah tidak sabar melihat kamu hancur Indhi," gumam Bella seraya tersenyum.
BERSAMBUNG...
"
BERSAMBUNG...