
"Tidak!" tegas Ega tanpa berpikir panjang.
"Kenapa kamu sangat keras kepala sih," ujar Dokter Aditya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dan kenapa kamu suka sekali memaksa orang lain!" hardik Ega kesal.
Suasana di rumah baru itu semakin menegang saat kedua pria itu tak henti-hentinya beradu mulut, mereka lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang merebutkan mainan.
"Sudah cukup. Kalian ini apa-apaan sih. Kalian nggak malu sama umur, sudah dewasa masih saja beradu mulut," lerai Indhi seraya menatap tajam kedua pria dewasa itu secara bergantian.
"Dia dulu yang mulai," ucap Ega seraya menunjuk Dokter Aditya.
"Semuanya terjadi karena kamu terlalu keras kepala," timpal Dokter Aditya tak mau kalah.
"Apa katamu? Berhenti mengataiku egois, dasar anak mami," sindir Ega tak terima.
"Siapa yang anak mami, dasar pria egosi," balas Dokter Aditya.
"Sudah cukup hentikan," bentakkan Indhi berhasil membungkam mulut kedua pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah tersebut, keduanya sama-sama menunduk karena takut mendengar bentakan Indhi.
Setelah perdebatan panjang dan menegangkan, akhirnya kedua pria itu kembali pada pasangan masing-masing. Meski sedikit canggung, namun acara makan malam tersebut berjalan dengan baik.
Setelah makan malam selesai, Indhi memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena tidak ingin melihat Ega dan Dokter Aditya berdebat lagi.
Selama perjalanan pulang, Indhi hanya diam dan fokus pada jalanan di depannya, sebenarnya ia cukup kesal dengan sikap Ega yang kekanakan, namun Indhi memilih diam dan menahan kekesalannya.
Setibanya di rumah, Indhi segera pergi ke kamarnya dan masih memasang mode cuek, tanpa berkata apapun wanita hamil itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menyelesaikan ritualnya, Indhi keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju tidur panjangnya, wanita itu lalu naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke kepalanya.
Ega yang menyadari jika Indhi sedang marah dengannya hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum membujuk istrinya lebih baik dia membersihkan diri lalu setelah itu ia akan merayu istrinya.
Beberapa menit kemudian, Ega menyusul istrinya ke atas ranjang, dengan hati-hati Ega masuk ke dalam selimut lalu memeluk istrinya dari belakang. Wajahnya sengaja ia dekatkan ke telinga Indhi.
"Sayang," bisik Ega lembut. "Jangan marah lagi, aku salah. Aku minta maaf," lanjutnya dengan suara memelas, namun belum mendapatkan respon dari sang istri.
"Sayang, jangan diam saja," rengek Ega, namun kali ini di selingi aksi jahil karena tangan yang tadinya berada di perut kini sudah bergentayangan di dad*a Indhi. "Kenyal sekali, aku menyukainya," bisik Ega dengan suara menggoda, bahkan kini tangannya mulai meremas benda kenyal itu.
"Lepas," sungut Indhi seraya menarik paksa tangan suaminya, bukan tanpa alasan, pasalnya ia mulai merasakan gelenyar aneh di tubuhnya. Oh ayolah, jangan pernah memancing hasrat seorang wanita hamil karena bisa meledak sewaktu-waktu.
"Tidak mau," tolak Ega, tangannya lalu kembali ke dada sang istri bahkan kini ia berhasil menyusup ke dalam baju Indhi.
"Kakak lepas," Indhi semakin kesal, ia kembali menepis tangan suaminya dan kini ia berpindah poisisi miring menghadap suaminya. Saat netra mereka saling bertemu, seketika kekesalan Indhi lenyap saat melihat tatapan sendu suaminya, jelas sekali tatapan itu menyimpan sejuta beban yang Ega rasakan sendiri.
"Jangan marah lagi ya. Maaf karena aku kekanakan," lirih Ega penuh sesal.
Indhi megangguk pelan, dalam sekejap rasa kesalnya berubah menjadi sesal, ia tak seharusnya menghakimi Ega akan sikapnya, seharusnya Indhi lebih peka kepada suaminya, bukan hal mudah bagi Ega untuk melewati cobaan hidupnya.
"Ya sayang, aku memaafkanmu. Tapi berjanjilah jangan pernah bersikap seperti itu lagi, Egaku tidak pernah bersitegang dengan orang lain, Ega ku adalah pria yang akan menjaga kata-katanya," jawab Indhi seraya membelai lembut wajah suaminya.
Ega memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang di berikan istrinya, tiba-tiba Ega membuka matanya saat merasaan sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bibirnya. Pria itu tersenyum sebelum akhirnya membalas ciuman lembut sang istri.
Sepasang suami istri itu larut dalam ciuman lembut nan hangat, sampai akhirnya Ega mengingat kedua bayi di dalam perut istrinya, meski hasratnya terbakar namun ia harus segera mengembalikan kewarasannya, ia tak mau istri serta bayinya terluka hanya karena dia tak bisa menahan hasratnya.
"Sayang sudah, aku takut khilaf," ucap Ega dengan nafas naik turun setelah ciuman mereka berakhir.
"Tapi aku menginginkanya kak, sudah dua minggu lebih kita tidak melakukan itu," balas Indhi dengan tatapan tertutup kabut gairah.
"Aku tidak ingin kamu dan bayi kita kenapa-napa!"
"Kita bisa melakukannya dengan pelan kak," bujuk Indhi, hormon kedewasaannya sudah meledak hingga ubun-ubun.
"Tapi sayang, aku takut," ujar Ega ragu.
"Ya sudah. Bilang saja kakak sudah tidak bernafsu padaku lagi," sungut Indhi, nafsunya perlahan hilang di gantikan rasa kecewa akan penolakan suaminya.
Indhi merasa begitu malu, ia tak ingin suaminya melihat wajahnya, Indhi pun berniat untuk berbalik dan memunggungi suaminya, namun belum sempat tubuhnya berbalik Ega terlebih dulu menahan tubuhnya.
"Aku akan melakuaknnya dengan hati-hati," ucap Ega, pada akhirnya pria itu mengalah karena tak ingin Indhi merasa malu atas penolakannya, tanpa menunggu jawaban sang istri, Ega mulai menyesap lembut bibir berwarna pink itu.
Nafsu yang sempat padam kini mulai berkobar lagi, Indhi mulai membalas ciuman Ega, bahkan kini lidahnya bergerak liar menjelajahi rongga mulut suaminya
Dan entah sejak kapan kedua manusia itu sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Dengan sangat hati-hati Ega melakukan penyatuan dengan istrinya.
Hingga setengah jam kemudian, erangan panjang menandakan permainan panas mereka telah berakhir. Ega terkapar di sebelah tubuh Indhi dengan nafas memburu.
"I love you wife," bisik Ega tepat di telinga istrinya, sementara tangan kekarnya tengah mengusap perut sang istri.
"Love you more hubby," jawab Indhi dengan wajah bersemu merah.
"Bersihkan dirimu, setelah ini kita tidur. Besok aku akan mengantarmu bekerja," titah Ega.
"Mengantarku, kakak yakin? Bagaimana dengan tangan kakak?"
"Tanganku baik-baik saja. Kalau hanya untuk memutar setir sepertinya tidak akan terjadi masalah," ucap Ega yakin.
"Tapi aku takut kak, aku bisa berangkat sendiri kok," tolak Indhi saking khawatirnya pada kondisi tangan sang suami.
"Tidak ada penolakan!"
BERSAMBUNG...