
"Sayang cepat!" teriak Ega dari lantai dasar karena istrinya tak kunjung turun. karena tak sabar menunggu lagi, akhirnya pria itu menyusul istrinya ke kamar mereka, di dalam kamar Indhi tampak tengah mencari sesuatu.
"Sayang, kita bisa terlambat. Apa yang kamu cari sih?" tanya Ega sambil memperhatikan istrinya.
"Dimana sprei yang kita pakai semalam?"Indhi bertanya pada suaminya dengan tatapan tajam.
"Ah, aku merendamnya di kamar mandi. Jangan khawatir, aku yang akan mencucinya nanti."
Wajah Ega bersemu merah mengingat saat dirinya baru bangun tidur, pria itu melihat bercak noda darah di sprei yang mereka pakai, pria itu segera melepaskan sprei itu dan merendamnya dengan wajah penuh kebahagiaan. Meskipun malam pertama mereka terbilang gagal, namun Ega merasa bangga karena dialah yang pertama untuk istrinya. Awalnya Ega mengira jika Indhi pernah melakukannya dengan Zean mengingat hubungan mereka yang terjalin begitu lama, namun setelah melihat noda darah itu, Ega merasa bersalah karena berburuk sangka dengan istrinya.
"Jangan sampai bi Sumi yang mencucinya, aku malu!" ujar Indhi masih dengan menatap suaminya.
"Iya sayang, aku yang akan mencucinya. Ayo berangkat, kita bisa telat," Ega meraih tangan Indhi dan menuntun istrinya keluar kamar. Saat berada di tangga mereka berpapasan dengan bi Sumi. "Bi, jangan cuci rendaman yang ada di kamar mandi ya!" ucap Ega dan hanya di angguki oleh bi Sumi, sementara Indhi memilih mendahului suaminya.
Dari kejauhan Ega dapat melihat cara jalan istrinya yang sedikit berbeda, pria itu menyadari jika perbuatannya semalam pasti sudah menyakiti istrinya. "Baru masuk saja kamu sudah sangat kesakitan, apalagi kalau aku menggerakkannya? Bisa-bisa kamu nggak bisa jalan," ucapnya dalam hati, pria itu lalu menyusul istrinya yang sudah berada di luar rumah.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit keduanya saling diam dan larut dalam pikiran konyol masing-masing. Ega masih merasa bersalah karena membuat Indhi kesakitan, sementara Indhi sedang memikirkan statusnya saat ini.
"Keperawananku hilang tapi aku masih merasa seperti seorang gadis. Bisa-bisanya dia berhenti saat sedang panas-panasnya." gerutu Indhi dalam hatinya.
Hingga tiba di Rumah Sakit, keduanya masih saling diam, Indhi memilih turun lebih dulu, setelah menyalami suaminya, Indhi bergegas ke ruangannya karena sebentar lagi jam kerjanya akan segera di mulai.
Indhi menyimpan tas dan merapikan rambutnya, tak lupa ia juga memakai jas berwarna putih yang menjadi kebanggaannya, setelah rapi dokter muda itu siap menerima pasien pertamanya.
Beberapa menit kemudian pintu ruangannya terbuka, seorang perawat masuk membawa berkas pasien tak lama kemudian seorang pria dan wanita muda masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Silahkan duduk," ucap Indhi dengan ramah, setelah pasiennya duduk Indhi membaca berkas yang berisi data diri pasien.
"Ibu Ayudia," tanya Indhi seraya menatap wanita muda yang duduk di hadapannya. "Apa keluhannya bu?" imbuh Indhi dengan ramah.
"Begini dok," wanita muda itu ragu untuk melanjutkan ucapannya, ia melirik pria yabg duduk di sebelahnya yang kemungkinan besar adalah suaminya.
"Begini dok, kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu, tapi saat malam pertama saya kecewa karena istri saya sudah tidak perawan, tapi dia mengelak dan bersikeras bahwa dia belum pernah melakukannya, padahal jelas-jelas tidak ada darah saat kami berhubungan," akhirnya pria muda itu yang mewakili istrinya untuk bicara. "Dia tetap tidak mengaku dan malah membawa saya ke Rumah Sakit, katanya saya akan tau jawabannya di sini," lanjutnya sambil menatap kesal sang istri.
"Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa aku harus mengurus keperawanan orang lain, padahal nasibku sendiri sudah menyedihkan," batin Indhi kesal, namun sebisa mungkin ia memasang mimik wajah yang ramah.
"Saya masih tidak percaya," tegas pria muda itu.
"Saya tidak peduli anda percaya atau tidak, yang terpenting saya sudah menjelaskan kepada anda, tidak semua wanita mengeluarkan darah ketika pertama kali mereka berhubungan intim." Indhi yang sebenarnya sudah kesal sejak pagi mulai kehilangan kontrol saat menghadapi pasiennya yang menyebalkan.
"Jika ibu saja bilang belum pernah melakukannya lantas kenapa anda tidak mempercayainya?" Indhi kini menatap tajam pria muda itu, rasanya ia ingin meninju wajah pria yang tak mempercayai pasangannya.
"Karena saya pernah melakukannya dulu, pacar saya masih perawan dan rasanya jauh berbeda dengan milik istri saya, jadi saya yakin dia pernah melakukannya dengan orang lain!"
Mendengar penuturan suaminya, wanita itu menoleh dan menatap nanar pria yang duduk di sebelahnya, dari sorot matanya Indhi dapat melihat sebuah kekecewaan yang besar.
"Lalu apa masalahnya jika istri anda sudah pernah melakukannya dengan pria lain?" tanya Indhi dengan wajah mengeras.
"Saya tidak sudi menerima bekas orang lain!"
"Lantas apa anda pikir istri anda sudi menerima anda yang sudah jelas-jelas menjadi bekas orang lain?
Pria muda itu bungkam seketika, ia melirik istrinya yang kini tengah menangis.
"Dengar ya pak, keperawanan itu bukan hal utama dalam sebuah pernikahan. Jika anda mengharap istri anda masih perawan, mengapa anda justru memperawani gadis lain? Bukankah tidak adil namanya, anda menghakimi istri anda hanya karena setetes darah yang tak berarti apapun, sementara istri anda tidak tau jika anda sudah tidak perjaka!"
"Kepercayaan itu landasan dasar sebuah pernikahan, jika hal seperti ini saja membuat anda meragukan istri anda, lalu bagaimana nasib pernikahan kalian kedepannya?" Saking kesalnya Indhi sampai berceramah di luar julur, mendadak dokter itu menjadi penasihat pernikahan orang lain.
"Silahkan keluar dan bicarakan masalah ini di rumah!"
Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan Indhi, dokter muda itu memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
"Jangan sampai saya menikah dengan pria seperti itu dok," ucap perawat yang mendampingi Indhi memeriksa pasien.
"Benar sus, saya tidak menyangka ada laki-laki yang sangat tidak tau malu seperti itu!"
BERSAMBUNG....