Marry me, Brother

Marry me, Brother
Keputusan sulit



Dokter Aditya dan Dita kembali ke ruangan tuan Hendarwan, wajah pasangan suami istri itu terlihat berbinar membuat mama Mayang penasaran apa yang membuat anak dan menantunya begitu bahagia.


"Apa Kevin memafkan kita?" tanya mama Mayang penuh harap.


"Belum mah. Maaf, Adit belum bisa membujuk Kevin," jawab Dokter Aditya penuh sesal.


Mama Mayang mendadak tak bersemangat. "Lalu kenapa kalian terlihat sangat senang?"


Dokter Aditya mendekati mama nya, pria itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu lalu menunjukannya kepada mamanya


"Apa ini?" mama Mayang menatap potret berwarna hitam putih, wanita itu lalu bergantian menatap putra dan menantunya.


"Dita hamil, sebentar lagi kalian akan menjadi kakek dan nenek," Dokter Aditya mengumunkan kehamilan istrinya penuh semangat.


"Oh astaga, akhirnya aku akan jadi nenek," mama Mayang segera memeluk menantunya, akhirbya setelah sekian lama ia bisa memamerkan kepada teman-teman arisannya jika ia akan segera menimang cucu.


"Selamat nak," ucap tuan Hendarwan yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Terima kasih pah."


Keluarga kecil itu merayakan berita kehamilan Dita penuh suka cita, terselip doa di tengah ucapan selamat mama Mayang dan tuan Hendarwan. Meski hari ini begitu bahagai, nyatanya tuan Hendarwan masih di hantui rasa bersalah kepada keponakannya


"Tuhan, bagaimana caraku menebus semua kesalahanku," batin tuan Hendarwan saat ia kembali menyesali keputusannya, seharusnya saat ia berhasil menemukan Ega ia segera berkata jujur kepada keponakannya itu. Tuan Hendarwan menyesal karena membiarkan Ega di rawat oleh orang lain.


Setelah kepergian Dokter Aditya dan istrinya, Indhi memberanikan diri untuk mendekati suaminya, wanita itu duduk di tepi ranjang dan menghadap sang suami.


"Kakak sudah baik-baik saja?" tanya Indhi seraya membelai lembut wajah Ega yang masih pucat.


Ega meraih tangan istrinya dan membiarkan tangan hangat itu berada di wajahnya, Ega memjamkan matanya, mencoba menikmati setiap sentuhan Indhi yang selalu membuatnya merasa tenang.


"Selama bersamamu aku akan baik-baik saja," jawab Ega pelan, saat matanya terbuka, ia menatap wajah istrinya, mengamati setiap pahatan Tuhan yang begitu sempurna. "Terima kasih karena selalu ada bersamaku," ucapnya penuh syukur, air mata yang tak seharusnya ada, kini kembali lolos membasahi wajah tampannya.


Tangan Indhi bergerak untuk menghapus air mata suaminya, wanita itu juga tidak bisa menahan air matanya, mungkin karena efek kehamilan menjadikan Indhi sedikit sensitif. "Jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis begini," air mata semakin deras membanjiri wajah Indhi, gadis itu bahkan mulai terisak.


Ega menyeka air mata istrinya, pria itu lalu menarik tubuh Indhi dan memeluknya. "Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku menangis. Maaf karena membuatmu khawatir!"


Ruangan tersebut kini di selimuti rasa haru, bu Tika dan bi Sumi yang menyaksikan betapa saling mencintainya kedua pasangan itu ikut menangis, mereka adalah saksi hidup bagaimana perjuangan mereka melewati beragam masalah di dalam hidup mereka.


Setelah Indhi merasa tenang, Ega melepaskan pelukannya, pria itu menatap lekat wajah istrinya. "Aku sudah memutuskannya, aku akan berhenti bekerja di Rumah Sakit itu. Kamu tidak keberatan kan?" ujar Ega, rupanya diamnya beberapa jam yang lalu karena ia tengah memikirkan hal apa yang harus ia lakukan, dan kini keputusannya sudah bulat, ia tak ingin berhubungan dengan siapapun dari masa lalunya.


"Apapun keputusan kakak, selama itu yang terbaik untuk kakak, maka aku akan mendukungnya," sebagai seorang istri, Indhi hanya bisa memberi dukungan, ia tau keputusan yang Ega ambil adalah sesuatu yang tak mudah bagi suaminya. Bertahun-tahun Ega mengabdikan masa mudanya di Rumah Sakit tersebut, pasti sangat sulit bagi Ega hingga pria itu memutuskan untuk berhenti bekerja.


"Terima kasih bu. Tapi bagaimana ini, artinya aku seorang pengangguran sekarang?" celoteh Ega yang berhasil membuat ketiga wanita yang berada di ruangan itu tersenyum.


"Aku akan menafkahi kakak," jawab Indhi sambil terkekeh.


"Ibu juga masih mampu untuk menafkahi kalian," sahut bu Tika tak mau kalah.


"Ah senangnya jadi pengangguran," Ega kembali memeluk istrinya. Dan keputusan inilah yang akhirnya ia ambil, memilih menjauh dari sesuatu yang bisa menyakitinya. Bagi Ega sekarang tak ada keluarga lain selain ketiga wanita yang tengah tersenyum dan mendukungnya.


***


Dua hari telah berlalu, kondisi Ega sudah membaik, hanya saja tangannya masih terpasang gips yang membuatnya kurang leluasa bergerak. Selama dua hari itu pula, Ega menolak setiap tamu yang datang menjenguknya, Ega seakan menutup diri dari dunia luar atau lebih tepatnya pria itu bersembunyi demi melindungi perasaannya agar tak tersakiti lagi.


Anggap saja Ega adalah seorang pecundang, namun dalam kehidupan yang teramat kejam ini ada kalanya kita harus menjadi orang yang egois dan sedikit pecundang demi melindungi perasaan kita.


"Kak,nanti siang kita sudah boleh pulang," ucap Indhi seraya menyuapi suaminya.


"Syukurlah, aku sudah nggak betah di sini," balas Ega penuh semangat.


Bi Sumi dan bu Tika nampak sibuk memberesi barang-barang mereka, kedua wanita yang berusia lanjut itu nampak begitu kompak. Indhi dan Ega tersenyum mengamati kedua wanita itu.


"Sayang aku sudah kenyang," Ega menolak saat Indhi akan menyuapinya lagi, padahal isi piringnya masih banyak dan dia sudah mengeluh kekenyangan.


"Habiskan!" cetus Indhi dengan wajah yang di buat garang.


"Nanti kalau perutku meledak bagaimana?" kilah Ega sambil menujuk perutnya yang sama sekali tidak buncit.


"Memangnya perut kakak balon," gerutu Indhi, suapan yang di tolak Ega kini justru mendarat di mulutnya. Wanita hamil itu menikmati makanan sisa suaminya.


"Sayang, kalau kamu lapar kamu bisa minta tolong bi Sumi untuk membelikan makanan, jangan makan makanan sisa orang lain!" ucap Ega menasehati istrinya, bukan tanpa alasan, kini Ega adalah seorang pasien, apalagi di Rumah Sakit adalah tempatnya orang yang membawa kuman-kuman penyakit. Ega khawatir jika Indhi akan tertular virus darinya karena statusnya sekarang sebagai seorang pasien.


"Ini masih banyak, sayang kalau di buang. Lagi pula kita biasa bertukar air liur, sejak dulu kaka juga sering makan makananku yang tidak habis," jawaban Indhi berhasil membuat Ega bungkam. Pria itu memilih mengalah dan membiarkan Indhi menghabiskan sisa makanannya.


"Ah aku masih lapar," keluh Indhi setelah menghabiskan makanannya.


"Sayang, tapi tadi kamu sudah makan banyak sekali," ujar Ega keheranan.


"Sayangku, di perutku ada dua bayi yang harus aku cukupi kebutuhan gizinya, jadi makan satu porsi itu tidak cukup bagi mereka!"


Ega, bu Tika dan bi Sumi tertawa bersama-sama setelah mendengar Indhi manjadikan anak-anaknya sebagai alasan untuk makan banyak. Sementara Indhi mencebikkan bibirnya saat ketiga orang itu mentertawakannya.