Marry me, Brother

Marry me, Brother
Tak bisa pulih



Indhi dan Ega sudah berada di depan ruang operasi tuan Hendarwan, di sana juga ada mama Mayang, Dokter Aditya dan Dita dengan wajah khawatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ndi?" tanya mama Mayang dengan frustrasi, belum genap satu bulan suaminya di operasi karena kecelakaan dan hari ini suaminya kembali masuk ke dalam ruang operasi.


"Ini salah Indhi, semuanya terjadi karena tuan Hendarwan mencoba menolong Indhi," jawab Indhi seraya menyalahkan dirinya sendiri. Entah apa yang ada di kepala Indhi, tiba-tiba wanita hamil itu berlutut di kaki mama Mayang. "Maafin saya nyonya, semua ini gara-gara saya," Indhi kembali mengulang kalimat sesalnya, ia bahkan tak mampu menatap mama Mayang.


"Apa yang kamu lakukan, ayo bangun!" mama Mayang mencoba membantu Indhi untuk berdiri, namun wanita hamil itu masih terpaku di tempatnya.


"Bangun Ndi, semuanya karena kecelakaan. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri," ujar Dokter Aditya.


"Tidak kak. Semuanya gara-gara Indhi," Indhi lalu meraih ponselnya dan memutar rekaman pengakuan orang suruhan Mariam. Semua orang terkejut mendengar rekaman tersebut, terlebih mama Mayang yang hampir saja pingsan karena begitu terkejut.


"Suamiku yang malang," kata mama Mayang dengan wajah berderai air mata, detik berikutnya ia menatap nanar Indhi yang masih berlutut.


"Bangun!" titah mama Mayang setengah membentak.


Dengan perasaan tak karuan, Indhi akhirnya berdiri dengan kepala menunduk. Tiba-tiba mama Mayang mengguncang tubuh Indhi dengan sangat keras. "Kenapa harus suamiku, kenapa bukan kamu saja yang di tabrak!"


"Tolong hentikan nyonya. Istri saya sedang hamil anda bisa melukai bayi kami," Ega melepaskan tangan mama Mayang dari tubuh Indhi, Ega lalu memeluk tubuh istrinya yang bergetar hebat.


"Semuanya gara-gara kalian, hidup kami tak pernah tenang gara-gara kalian. Suamiku selalu kesulitan tidur karena terlalu memikirakan rasa bersalahnya. seharusnya kami tidak pernah menemukanmu!"


"Cukup mah, mamah tidak boleh menyalahkan Ega. Bukan Ega yang meminta kita untuk mencarinya bukan?" sela Dokter Aditya mencoba menghentikan amarah mama nya.


"Kami akan pergi. Maaf jika semua ini gara-gara saya. Saya berjanji tidak akan mengusik hidup keluarga kalian lagi," ucap Ega, ia lalu merangkul istrinya dan membawa wanita hamil itu pergi dari tempat itu. Langkah kedua orang itu terasa berat, Indhi masih menyalahkan dirinya sendiri, sementara Ega semakin mantap untuk melupakan masa lalunya.


Tiga jam telah berlalu, setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter keluar dari sana. Ketiga anggota keluarga tuan Hendarwan segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi papa saya dok?" tanya Dokter Aditya panik.


"Operasinya berjalan lancar, namun karena tuan Hendarwan memiliki riwayat operasi pendarahan otak, kemungkinan besar beliau tidak akan pulih seperti sedia kala," jalas doker itu, raut sesal begitu ketara di wajah lelahnya.


"Maksud anda, suami saya akan cacat?" mama Mayang menimpali dengan wajah menegang.


"Pendarahan di otaknya cukup parah, hal tersebut membuat beberapa sel di otak rusak dan mengganggu syaraf gerak tuan Hendarwan!"


Mama Mayang begitu syok, wanita yang tak lagi muda itu pingsan begitu mendengar penuturan dokter yang menangani suaminya.


"Mama," pekik Dokter Aditya dan Dita bersamaan. Dengan sigap Dokter Aditya menggendong tubuh mama nya dan membawanya ke ruang pemeriksaan.


"Ma, bangunlah, Adit mohon!"


BERSAMBUNG...